Ketika Sang Kader Menempuh Politik Kekuasaan: Tatkala Menjembatani Kader dengan Tokoh Persyarikatan
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul)
Penasihat PRM Troketon, Anggota MPI dan HAM PCM Pedan, Anggota Bidang Syiar MPM PDM Klaten.
“Tatkala kekuasaan di tangan kita, maka sebuah kebijakan publik ada dalam genggaman kita lewat satu coretan tanda tangan kita.”
Jika kita berbicara tentang politik, maka kita berbicara tentang sebuah kekuasaan, yang mana segala apa yang kita inginkan selama berkuasa akan berada di bawah kendali kita.
Kita melihat bagaimana presiden, gubernur, bupati, dan wali kota mempunyai peranan yang begitu luar biasa. Apakah akan membuat kebijakan yang pro-rakyat atau kebijakan yang pro-kelompok dan oligarki? Itu semuanya berada di tangan sang penguasa.
Pesta demokrasi di tingkat bawah, lebih-lebih di tingkat desa, begitu menarik untuk disimak. Seperti halnya di sebuah desa di Klaten, yaitu Desa Troketon, yang akan menggelar pesta demokrasi berupa Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) pada Maret 2027.
Di kalangan masyarakat umum, para tokoh politik lokal, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda, saat ini mulai hangat memperbincangkan siapa sosok yang tepat untuk memimpin selama delapan tahun yang akan datang.
Hal ini sangat menarik karena Desa Troketon, secara tata kelola, sedang menuju desa politan, dari desa agraris menuju desa industrial. Beberapa pabrik telah berdiri di Desa Troketon dan tentu akan memberikan dampak, baik positif maupun sebaliknya.
Akan tetapi, itu semuanya bergantung pada bagaimana kita mempersiapkan pemimpin yang mampu serta bisa mentransformasikan keunggulan potensi yang ada. Dengan begitu, Desa Troketon akan menjadi desa yang berdaulat, mandiri, serta mempunyai jati diri sebagai sebuah desa yang berakar pada budaya Jawa yang luhur.
Dengan optimisme dan kepedulian untuk memajukan desa kelahirannya, sosok kader muda Muhammadiyah Pedan, Muhammad Fatah Mutaqin, mempunyai niat untuk membawa perubahan yang lebih baik. Sang kader tersebut memberanikan diri untuk maju menjadi calon kepala desa.
Menurut penulis (Gus Zul), ini merupakan bentuk rasa tanggung jawab atau sebuah panggilan jihad dalam politik praktis. Yaitu, pentingnya memegang kekuasaan publik yang bisa membawa nilai-nilai kemaslahatan, baik untuk umat, Persyarikatan, masyarakat, bangsa, maupun negara.
Seruan dari Sang Penasihat di Atas Meja Pertemuan
Melalui komunikasi, baik lewat media WhatsApp maupun secara langsung dalam beberapa kesempatan, sang kader tersebut meminta tolong kepada penulis untuk menjembatani pertemuan dengan pengurus inti PRM Troketon.
Mas Taqin ingin bersarasehan, bersilaturahmi, dan bertukar pikiran dengan pengurus inti PRM. Pada intinya, mengenai pentingnya dakwah dalam arti luas, yaitu dakwah dalam bidang kebijakan atau politik praktis.
Setelah penulis membangun komunikasi yang baik dengan Pak Ketua, Sekretaris, dan Bendahara PRM, alhamdulillah gayung bersambut.
Tepat pada Rabu sore, 7 Oktober 2026, dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, sarasehan berjalan dengan baik. Dalam durasi kurang lebih 50 menit, pertemuan berlangsung singkat, padat, dan langsung pada pokok pembahasan.
Dalam sarasehan tersebut, penulis memandu acara sekaligus mengucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta yang telah menyempatkan waktunya.
Pada kesempatan tersebut, penulis mengutip Surah At-Taubah ayat 41:
ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Infirū khifāfaw wa ṡiqālaw wa jāhidū bi’amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh, żālikum khairul lakum in kuntum ta’lamūn.
Artinya:
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
Panggilan Jihad
Setelah membacakan ayat tersebut di atas, Gus Zul menguraikan bahwa kita harus peka dalam melihat kondisi yang terjadi saat ini.
Ruang, waktu, dan kesempatan untuk berkontribusi serta memberikan dampak nyata kepada umat dan masyarakat saat ini masih kurang. Maka, salah satunya, jika ada warga Persyarikatan yang ingin mendarmabaktikan diri atau mengabdi kepada umat dan masyarakat di desa kita, ini merupakan salah satu bentuk “ibadah”.
Oleh karena itulah, ini merupakan panggilan jihad.
Ini juga merupakan momen yang tepat. Bagaimana jika ada warga Persyarikatan maju sebagai calon dan terpilih? Tentu diharapkan dapat memberikan warna yang baik dan bermakna.
Oleh karena itulah, menurut penulis, ini merupakan panggilan jihad dalam politik praktis yang wajib hukumnya.
Walaupun kita tidak mengatasnamakan Persyarikatan, secara institusi Muhammadiyah merupakan gerakan sosial-keagamaan dan pendidikan. Sesuai Khitah Muhammadiyah, Persyarikatan tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, menempatkan partai politik secara sama tanpa membedakan, serta menjaga harmoni antara kekuatan sosial dan partai politik.
Bagi warga Muhammadiyah, diberikan keleluasaan dalam menentukan arah politiknya, termasuk aktif dalam politik praktis.
Hal ini harus disengkuyung bareng, entah di legislatif (DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota) maupun di pemerintahan, mulai dari kepala desa, bupati, wali kota, hingga gubernur.
Semuanya diberi ruang dan kesempatan dengan tetap memperhatikan etika dan tatanan politik yang beradab.
Setelah selesai memberikan pengantar, penulis memberikan waktu kepada Mas Taqin.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Taqin menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus memohon doa restu dan dukungan dalam pencalonan kepala desa.
Menurutnya, ini merupakan bagian dari upaya menorehkan sejarah bagi Muhammadiyah maupun umat Islam untuk memajukan desa ini.
Hal tersebut sejalan dengan apa yang diutarakan Mas Rum (Gus Zul) sebelumnya, bahwa jihad tidak hanya berupa perang secara fisik. Akan tetapi, jihad dalam pengertian luas juga berarti memajukan masyarakat, menyejahterakan masyarakat dan umat.
Salah satunya adalah dengan memegang kewenangan dalam kebijakan pemerintahan di tingkat desa.
Diskusi pun berjalan dengan cair.
Penulis sebagai pemandu sarasehan tersebut memberikan kesempatan pertama kepada Ketua PRM Troketon, Sabto Widodo.
Sabto Widodo menyambut baik niat pencalonan Mas Taqin. Ia berharap hajat Mas Taqin dikabulkan.
Menurutnya, apabila terpilih, ada sebuah nilai yang tidak boleh lepas, yaitu “TAKWA” dalam menjalankan roda pemerintahan di desa.
Maka, untuk itu, menurutnya, kita harus all out untuk mendukung serta memilih dengan menggerakkan anggota keluarga dan warga Persyarikatan.
Sementara itu, Sekretaris PRM Troketon, M. Farhan, menyampaikan bahwa kita perlu mendukung dan menggerakkan semua potensi yang ada.
Adapun Bendahara PRM Troketon, Tony Zakaria, juga menyampaikan dukungannya dengan daya dan upaya secara optimal. Semoga diijabahi Allah.
Ia berpesan, jika suatu hari Mas Taqin menjabat, jangan lupa dan tetaplah menjadi Mas Taqin yang sebenarnya.
Yaitu, menjadi pribadi yang rendah hati, tawadhu, tidak sombong, dan tetap merangkul semuanya.
Tepat pukul 17.20 WIB, acara diakhiri.
Akan tetapi, sebelum diakhiri, Gus Zul menekankan bahwa untuk mencapai semua itu harus ada satu barisan yang rapi, kuat, dan kokoh. Baik mulai dari kita, tim, maupun warga Persyarikatan Muhammadiyah.
“Masak kita kalah dengan warga dan tokoh Nahdliyin yang sudah mendukung dengan all out, lho?”
Maka, menurut penulis, waktu yang tinggal enam bulan ini harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan secara masif.
Salah satunya, penulis meminta Mas Farhan untuk membuat grup WhatsApp sebagai sarana komunikasi.
“Mas Farhan, tolong buat grup WhatsApp, njih!”
Sarasehan ditutup dengan sesi foto bersama.
Bismillah, dari sebuah panggilan jihad untuk jihad politik, semoga Allah memampukan, memudahkan, serta melindungi kita semuanya.
Karena ini merupakan bagian dari bentuk implementasi 10 Kepribadian Muhammadiyah, yaitu ikut serta dalam membantu dan berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Tiga Kunci Utama Menuju Kemenangan
Dalam meraih dukungan, simpati, serta suara para pemilih, tentu tidaklah mudah.
Selain figur yang mempunyai trust yang baik, tidak cacat politik, serta mempunyai integritas, moral, adab, dan akhlak yang baik, ada tiga hal yang tidak kalah pentingnya.
1. Kecerdasan, baik secara IQ, EQ, maupun SQ.
Seorang calon pemimpin harus mempunyai kecerdasan yang baik, baik secara intelektual (IQ), emosional (EQ), maupun spiritual (SQ).
2. Secara finansial harus mumpuni.
Seorang calon harus benar-benar sudah tidak mempunyai masalah dalam kehidupan secara duniawi.
Jangan sampai jabatan kepala desa hanya dijadikan sebagai alat untuk memperkaya diri. Atau, dengan jabatan sebagai kepala desa, ingin menjadi raja kecil yang lebih mementingkan diri sendiri, keluarga, dan kelompok.
3. Basis dukungan pemilih.
Basis dukungan pemilih itu sangat penting. Saat ini, yang harus dilakukan adalah membangun jaringan-jaringan serta relasi yang mempunyai keinginan untuk melakukan perubahan.
Karena saat ini masyarakat sudah pintar, akan tetapi sudah lama dininabobokan atau dimanja, seolah-olah terhipnotis dan lebih merasa nyaman berada di zona nyaman.
Dan ini harus disadarkan.
Editor: Al-Afasy



