Kolom

Menyeimbangkan IPK dan Tanggung Jawab Organisasi Mahasiswa

Oleh: Erik Sifa (IMM Ar-Razy Unimus)

Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar di kelas dan mengejar nilai. Ada proses lain yang tidak kalah penting: belajar bertanggung jawab, bekerja sama, berkomunikasi, serta menyelesaikan masalah.

Persoalan muncul ketika tuntutan akademik bertemu dengan tanggung jawab organisasi. Dalam waktu yang bersamaan, mahasiswa bisa menghadapi tugas kuliah, ujian, target IPK, rapat, program kerja, hingga amanah organisasi yang harus diselesaikan. Waktu untuk satu kepentingan akhirnya berkurang karena harus dibagi dengan kepentingan lainnya.

Pada kondisi seperti itu, tekanan akademik dan tanggung jawab organisasi juga dapat memengaruhi kondisi mahasiswa, termasuk kesehatan mental.

Menurut saya, persoalannya bukan terletak pada pilihan antara mengejar nilai akademik atau aktif dalam organisasi. Yang lebih penting adalah kemampuan menentukan prioritas dan mengelola waktu.

IPK Penting, tetapi Bukan Satu-satunya Ukuran

Mengejar nilai akademik dan IPK yang baik tentu penting. Niat awal menjadi mahasiswa adalah belajar, dan menyelesaikan kuliah dengan hasil yang baik menjadi impian banyak mahasiswa.

Namun, nilai yang baik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa.

Pengalaman organisasi juga memberikan pelajaran yang tidak selalu diajarkan di dalam kelas, seperti berkomunikasi, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, bekerja sama, hingga mengambil keputusan.

Ketika seorang mahasiswa memiliki keinginan untuk berorganisasi, tentu ada konsekuensi yang ikut diambil. Ada amanah yang harus dijalankan. Namun, amanah tersebut seharusnya tidak berubah menjadi tekanan yang membuat akademik maupun kondisi diri justru terganggu.

Di sinilah mahasiswa perlu belajar membagi waktu: tidak meninggalkan tanggung jawab organisasi, tetapi juga tidak mengorbankan akademik yang menjadi tujuan awal kuliah.

Tuntutan Akademik dan Kesehatan Mental Mahasiswa

Persoalan ini semakin penting ketika dikaitkan dengan kesehatan mental mahasiswa.

Penelitian Amelia dkk. (2026) terhadap 55 mahasiswa aktif dari berbagai fakultas di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa atau 52,7 persen berada dalam kategori cukup sehat. Sementara itu, 21,8 persen mahasiswa berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap target IPK menjadi salah satu tuntutan akademik yang paling dominan, disusul gangguan tidur dan kurangnya waktu istirahat akibat jadwal perkuliahan yang padat.

Beban akademik saja sudah dapat memberikan tekanan kepada mahasiswa. Bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi, tanggung jawab yang dihadapi tentu bertambah.

Karena itu, tekanan tersebut perlu dihadapi dengan kemampuan menentukan skala prioritas.

Belajar Menentukan Skala Prioritas

Tidak semua hal harus diselesaikan pada waktu yang sama.

Tugas kuliah yang memiliki batas waktu dekat tentu perlu mendapat perhatian. Begitu pula kegiatan organisasi yang memiliki tanggung jawab dan tenggat tertentu.

Mahasiswa yang aktif dalam organisasi perlu mampu membedakan mana yang benar-benar penting, mana yang harus segera dikerjakan, serta mana yang masih dapat ditunda atau didelegasikan kepada orang lain.

Menurut saya, kemampuan menentukan prioritas inilah yang menjadi salah satu kunci agar kuliah dan organisasi dapat berjalan beriringan.

Bukan berarti salah satunya selalu harus didahulukan. Kondisi dan tingkat kepentingannya perlu dilihat terlebih dahulu.

Jangan Takut untuk Berkomunikasi

Selain mengelola waktu, komunikasi juga menjadi hal penting.

Ketika ada amanah atau tugas yang tidak bisa dikerjakan sendiri, terutama saat bersamaan dengan ujian atau tugas akademik yang besar, keadaan tersebut sebaiknya dikomunikasikan dengan rekan satu tim.

Sayangnya, terkadang seseorang merasa bahwa meminta bantuan berarti tidak mampu menjalankan tanggung jawab.

Padahal, tidak selalu demikian.

Komunikasi yang terbuka justru dapat menjadi salah satu bentuk tanggung jawab. Dengan komunikasi, organisasi dapat mencari solusi bersama, misalnya melalui pembagian tugas atau penyesuaian pekerjaan.

Kita tidak harus mengerjakan semuanya seorang diri.

Organisasi Seharusnya Menjadi Ruang untuk Bertumbuh

Organisasi adalah wadah untuk bertumbuh, bukan untuk menekan diri.

Jika organisasi hanya dipandang sebagai kesibukan, sulit membagi waktu, dan penyebab akademik tertinggal, pada akhirnya kita justru dapat kehilangan tujuan dari berorganisasi itu sendiri.

Karena itu, cara pandang terhadap organisasi juga perlu diperbaiki.

Berorganisasi berarti belajar membagi waktu sebaik mungkin, menjaga amanah, bekerja bersama orang lain, dan menghadapi berbagai persoalan yang mungkin tidak kita temukan di dalam kelas.

Di tengah semua kesibukan tersebut, kesehatan mental tetap penting untuk dijaga. Jangan sampai keinginan untuk menjalankan semua tanggung jawab justru membuat kita kehilangan waktu untuk beristirahat dan menjaga diri.

Jadi, IPK atau Organisasi?

Pada akhirnya, saya tidak setuju jika mahasiswa harus selalu dihadapkan pada pilihan: fokus pada akademik atau menjadi aktivis organisasi.

Keduanya dapat berjalan beriringan apabila dikelola dengan disiplin, komunikasi yang baik, manajemen waktu, dan kemampuan menentukan prioritas.

Akademik tetap menjadi tanggung jawab utama sebagai mahasiswa. Namun, organisasi juga dapat menjadi tempat untuk mempelajari banyak hal yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.

Karena selain di organisasi atau komunitas, di mana lagi kita akan mempelajari sebagian pengalaman tersebut secara langsung?

Referensi:

  • Amelia, D. V., Sabita, N. R., Pratiwi, R., & Nalim. (2026). Analisis Deskriptif Tingkat Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Menghadapi Tuntutan Akademik di Perguruan Tinggi. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar.
  • Sentyawati, R., Mutho’ani, A. A., & Afiffah, R. (2026). Komparasi Kecemasan Akademik antara Mahasiswa Organisasi dan Non-Organisasi. Jurnal Sains Student Research.
  • Rivaldi, An Al. (2024). Analisis Faktor Penyebab Stres pada Mahasiswa dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Detector: Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan, 2(4), 11–18.

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *