Banggakan Indonesia, 2 Mahasiswa UMS Paparkan Inovasi AI di Konferensi Internasional India
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Dua mahasiswa UMS mengukir prestasi memukau di panggung dunia. Keenan Khadafi Windarto dan Hengkara Muhammad Bakda tampil percaya diri sebagai presenter International Conference on Artificial Intelligence, Legal Governance, and Sustainable Development (AILGS-2026) di India. Acara yang berlangsung secara hibrida di Bennett University, Greater Noida, tersebut mempertemukan para ahli untuk membedah perkembangan kecerdasan buatan AI dari sudut pandang hukum.
Kedua mahasiswa UMS dari Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) tersebut membawakan gagasan segar terkait tata kelola hukum AI. Hengkara mempresentasikan kajian bertajuk “Beyond Procedural Formalism: An AI-Driven Framework for Substantive Public Participation in Indonesia”. Melalui riset ini, Hengkara menyoroti partisipasi publik dalam pembuatan undang-undang di Indonesia yang masih sebatas formalitas.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Hengkara merancang infrastruktur partisipasi publik AI berbasis Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Teknologi pintar ini membantu masyarakat memahami rancangan peraturan, menyaring masukan, hingga memetakan argumentasi pemangku kepentingan secara transparan.
“Model tersebut dilengkapi Legislative Participation Response Matrix untuk memastikan setiap aspirasi masyarakat dapat ditelusuri, dipertimbangkan, dan diberikan penjelasan secara terbuka,” tegas Hengkara, Senin (17/8/2026).
Solusi Tata Kelola AI dan Apresiasi Kampus
Pada sesi lain, Keenan memaparkan gagasan kritis bertajuk “Reframing AI Governance in Healthcare: A Noetic Cyber-Law Approach to Algorithmic Accountability”. Keenan membedah risiko kecerdasan buatan AI di bidang medis, mulai dari bias algoritma, kebocoran data pasien, hingga ketidakjelasan pertanggungjawaban hukum.
Guna mengatasi ancaman tersebut, Keenan menawarkan pendekatan Hukum Noetik yang memadukan nilai moral, rasionalitas, dan fakta lapangan. Model pengujian ini memastikan pemanfaatan teknologi medis tetap menghormati martabat manusia dan memiliki mekanisme pemulihan bagi pasien.
Capaian dua mahasiswa UMS yang baru duduk di semester empat ini menuai pujian tinggi dari sang dosen pembimbing, Dr. Rizka, M.H. Beliau mengapresiasi keberanian anak didiknya saat berdiskusi dengan peneliti dunia dalam konferensi internasional India tersebut.
“Keikutsertaan Keenan dan Hengkara sebagai presenter merupakan capaian yang membanggakan. Meskipun masih semester IV, keduanya telah berani menyampaikan gagasan, mempertahankan argumentasi, dan berdiskusi di hadapan panelis serta peserta dari berbagai negara,” ungkap Rizka penuh bangga.
Pengalaman global ini membuktikan bahwa mahasiswa UMS mampu memberikan sumbangsih pemikiran nyata bagi perkembangan teknologi dunia. Keberhasilan ini sekaligus mengukuhkan posisi akademisi muda Indonesia dalam pengawalan etika dan hukum AI global.
Kontributor: Fika
Editor: Akmal



