Mengingat Kembali Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, Sentilan Halus bagi Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah
PWMJATENG.COM, PEMALANG — Ikhwanushoffa memberikan pesan menohok bagi seluruh pimpinan amal usaha Muhammadiyah. Ia menyoroti lunturnya semangat pengorbanan para petinggi amal usaha persyarikatan. Ikhwanushoffa menyampaikan kritik tajam tersebut saat mengisi kajian PDM Pemalang pada Ahad (16/8/2026). Ratusan pimpinan pendidikan, kesehatan, dan BUMM Muhammadiyah memadati Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Pemalang.
Selanjutnya, Ikhwanushoffa mengajak peserta mengingat kembali sejarah K.H. Ahmad Dahlan. Sang pendiri persyarikatan selalu memastikan jemaah memahami ayat suci sebelum melanjutkan materi. Beliau juga mewajibkan jemaah mempraktikkan ajaran tersebut secara langsung.
Oleh karena itu, K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un selama tiga bulan berturut-turut. Surah pendek ini tegas menyuruh umat Islam rajin bersedekah. Zaman dahulu, masyarakat rela menyerahkan separuh dana hajatan untuk menghidupi organisasi.
Namun, kondisi sekarang sungguh berbeda jauh. Ikhwanushoffa mempertanyakan apakah masyarakat saat ini masih memiliki keikhlasan serupa. Pertanyaan ini memicu perenungan mendalam bagi para pimpinan amal usaha Muhammadiyah yang hadir.
Lebih lanjut, ia mengutip pesan Surah Al-Hasyr ayat 18. Ayat ini menyuruh orang beriman selalu mengevaluasi diri demi hari esok. Setiap orang tentu merasa tidak nyaman saat menerima teguran maupun evaluasi.
Kritik Tajam untuk Pimpinan Persyarikatan
Meskipun demikian, evaluasi merupakan ciri utama orang bertakwa. Langkah ini memastikan masa depan berjalan lebih baik daripada hari ini. Allah senantiasa mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya.
Sementara itu, Ikhwanushoffa mengingatkan kembali masa sulit perjuangan organisasi. K.H. Ahmad Dahlan merintis sekolah dan rumah sakit pada era penjajahan kolonial. Banyak orang masa itu memilih tunduk asalkan hidup aman.
Sebaliknya, sang pahlawan nasional berani mengambil inisiatif mandiri. Beliau merintis fasilitas kesehatan karena tenaga medis kala itu mayoritas perawat asing. Pendahulu organisasi berjuang keras agar masyarakat miskin bisa berobat dan bersekolah gratis.
Ironisnya, beberapa petinggi masa kini justru menunjukkan sikap berbeda. Beberapa direktur rumah sakit atau rektor kampus sering kali merasa paling berjasa. Mereka seolah-olah memiliki institusi tersebut secara pribadi.
Tiga Rumus Pegawai Muhammadiyah
Bahkan, beberapa oknum sering mempersulit setoran dana SWO ke pimpinan daerah. Mereka beralasan instansi tidak memiliki cukup uang tunai. Padahal, petinggi persyarikatan bekerja keras tanpa menerima gaji sepeser pun.
Sebaliknya, para direktur dan rektor menerima gaji hingga ratusan juta rupiah. Para pimpinan amal usaha Muhammadiyah ini rutin meminta tanda tangan SK kepada pimpinan daerah. Namun, mereka justru sering lalai membayar zakat dan infak melalui Lazismu.
Oleh sebab itu, Ikhwanushoffa menitipkan tiga rumus penting bagi seluruh pegawai persyarikatan. Pertama, jangan pernah merasa paling benar. Kedua, jangan merasa paling besar.
Ketiga, jangan merasa paling berjasa bagi organisasi. Pada Periode Muktamar 48, persyarikatan mengusung visi Maju, Profesional, Modern (MPM). Visi ini menuntut perbaikan sistem kerja sekaligus penciptaan suasana organisasi yang sehat.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



