Inspiratif! SMP Muhammadiyah 1 Kartasura Buka Ruang Belajar Ramah bagi Anak Berkebutuhan Khusus
PWMJATENG.COM, SUKOHARJO — Praktik pendidikan inklusif kini hadir nyata di lingkungan sekolah reguler. Kampus SMP Muhammadiyah 1 Kartasura secara terbuka memberikan kesempatan belajar dan ruang interaksi sosial yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.
Langkah positif ini terlihat langsung oleh para mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) selama kegiatan observasi. Meskipun status resminya bukan sekolah inklusi, pihak sekolah terbukti konsisten merangkul para siswa berkebutuhan khusus tersebut.
Pendekatan Pembelajaran yang Fleksibel
Para guru menerapkan pola mengajar yang sangat fleksibel demi menyesuaikan kondisi serta karakter tiap siswa. Pendekatan ini lahir karena setiap anak memiliki kebutuhan dan tingkat respons pembelajaran yang beragam.
Keberagaman latar belakang siswa mencakup hambatan pendengaran hingga hambatan intelektual. Kondisi ini tentu menuntut pola pendampingan ABK yang penuh ekstra perhatian dari tenaga pendidik.
Saat siswa merasa jenuh, mengantuk, atau mengalami tantrum, guru pendamping tidak memberikan tekanan fisik maupun emosional. Mereka justru memberi ruang jeda waktu agar siswa kembali tenang dan siap menerima materi.
Guru pendamping siswa, Pak Faris, membagikan strategi pembelajarannya. “Untuk diajak menulis, kalau anak sudah tidak mau, kami biarkan dulu. Kami mengimbanginya dengan motivasi sampai anak itu siap belajar kembali,” ungkap Pak Faris.
Tenaga pengajar juga memanfaatkan media musik dan lagu untuk membangun kembali fokus serta semangat belajar siswa di dalam kelas.
Dukungan Lingkungan Sosial dan Teman Sebaya
Di samping metode mengajar yang adaptif, kemampuan akademik serta keahlian para siswa ini juga terbilang menonjol. Beberapa anak mampu menguasai mata pelajaran Seni Budaya dan Bahasa Indonesia dengan sangat baik. Sebagian siswa lainnya memiliki daya ingat kuat saat menghafal pada pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTA).
Kondisi tumbuh kembang ini makin optimal berkat dukungan iklim sosial sekolah yang teramat kondusif. Para siswa reguler menyambut dan menerima keberadaan teman-teman mereka tanpa batasan stigma.
Mahasiswa PLP UMS, Hanif, menyampaikan apresiasinya atas suasana inklusif tersebut. “Lingkungan sekolah, terutama teman-teman kelas, sangat mendukung keberadaan mereka. Siswa memberi kesempatan belajar dan berinteraksi bersama sehingga anak berkebutuhan khusus merasa sangat diterima,” terang Hanif pada Selasa (11/8/2026).
Membangun Kemandirian dan Masa Depan Siswa
Proses pendampingan ABK di sekolah reguler memang menyajikan tantangan tersendiri bagi para pengajar. Meski membutuhkan waktu latihan lebih lama, guru tetap konsisten mengedepankan kesabaran.
Keberhasilan pendampingan ini tidak sekadar diukur dari pencapaian angka akademik. Kemajuan membaca, menulis, bersosialisasi, mengendalikan emosi, hingga pembentukan karakter mandiri menjadi indikator keberhasilan yang jauh lebih berharga.
Tenaga pendidik lain, Bu Inka, turut menaruh harapan besar bagi masa depan para anak didik tersebut. “Saya berharap Habibie dan teman-teman lainnya bisa tumbuh percaya diri serta memperoleh hak dan kesempatan yang setara dalam dunia pendidikan,” tutur Bu Inka.
Komitmen SMP Muhammadiyah 1 Kartasura ini membuktikan bahwa lingkungan belajar ramah bisa terwujud di mana saja. Sekolah tidak hanya menuntut siswa menyesuaikan diri, tetapi juga siap memfasilitasi setiap anak untuk tumbuh, dihargai, dan berkembang secara setara.
Kontributor: Hanin Jihan Fatkhiyyah
Editor: Akmal



