Pengajian Selapanan PCM Gemawang Teguhkan Nilai Amanah dan Ukhuwah Umat

PWMJATENG.COM, TEMANGGUNG – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gemawang kembali menggelar pengajian selapanan pada Sabtu (25/7/2026) di Masjid Al Furqon, Desa Jambon, Kecamatan Gemawang. Acara tersebut menjadi agenda pembinaan warga Muhammadiyah setiap selapan atau 35 hari sekali.
Jajaran pimpinan cabang, pimpinan ranting, organisasi otonom, hingga warga Muhammadiyah se-Kecamatan Gemawang memadati lokasi kegiatan sejak pagi. Kehadiran para jamaah mencerminkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti agenda dakwah rutin ini.
Menghadirkan KH. Asy’ari Muhadi sebagai Pemateri Utama
Panitia penyelenggara menghadirkan KH. Asy’ari Muhadi sebagai pemuka agama pemberi materi dalam sesi inti. Penceramah kondang tersebut mengangkat tema khusus tentang pentingnya menjaga amanah sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat.
Warga dari PRM Jambon, PRM Kalibanger, PRM Gemawang, dan berbagai wilayah lain menyimak tausiyah dengan khidmat. Kehadiran tokoh masyarakat setempat semakin menghidupkan suasana kebersamaan di dalam masjid.
Ketua PCM Gemawang menjelaskan bahwa pengajian selapanan merupakan agenda dakwah yang terlaksana secara bergilir di seluruh ranting. Selain menambah wawasan keislaman, kegiatan ini mempererat ukhuwah serta memperkuat konsolidasi organisasi.
Pertemuan rutin tersebut menumbuhkan semangat bermuhammadiyah di tengah masyarakat secara berkelanjutan. Pengurus cabang berharap program ini terus memberikan dampak positif bagi pembinaan umat.
Keutamaan Majelis Ilmu dan Bahaya Mengabaikan Amanah
KH. Asy’ari Muhadi mengawali kajian dengan mengingatkan keutamaan besar dalam menghadiri majelis ilmu. Orang yang keluar rumah demi mencari ilmu berada di jalan Allah hingga ia kembali ke kediamannya.
Aktivitas mulia ini merupakan bentuk amal saleh yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Setiap muslim tentu mendambakan keberkahan melalui majelis zikir dan ilmu semacam ini.
Penceramah menegaskan bahwa salah satu tanda rusaknya tatanan kehidupan adalah ketika amanah mulai terabaikan. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya bahwa kehancuran suatu masa bermula dari amanah yang disia-siakan.
Oleh sebab itu, setiap individu memegang tanggung jawab besar untuk menjaga amanah dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini mendasari integritas seorang mukmin yang sejati.
Lima Pilar Amanah dalam Pandangan Islam
Kiai Asy’ari menguraikan lima pokok amanah penting yang wajib dijaga oleh setiap umat Islam. Pertama, setiap muslim harus menjaga agama Islam melalui proses pembelajaran, pengamalan nyata, dan dakwah konsisten.
Generasi penerus bangsa perlu mendapat asupan nilai-nilai Islam agar estafet dakwah tetap berjalan lancar. Perjuangan KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah adalah wujud nyata pelestarian amanah agama tersebut.
Amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial membuktikan kepedulian nyata Muhammadiyah terhadap umat. Nilai-nilai teologi Surat Al-Ma’un menjadi landasan kuat gerakan sosial berkemajuan ini.
Amanah kedua berkaitan erat dengan tanggung jawab menjaga dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan titipan ilahi yang harus diamalkan demi kemaslahatan sesama manusia.
Jamaah mendapat dorongan untuk membiasakan budaya mencatat serta mengkaji ulang materi kajian agar ilmu semakin melekat. Nasihat Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang menyadari ilmunya lalu mengamalkannya.
Peran Keluarga dan Harta dalam Bingkai Amanah
Aspek ketiga mencakup kewajiban menjaga amanah di dalam lingkungan keluarga tercinta. Kepala keluarga memegang kendali penuh dalam membimbing istri dan anak agar taat beribadah serta berakhlak mulia.
Kehadiran keluarga dalam majelis ilmu memperkuat ikatan spiritual di rumah tangga masing-masing. Pondasi keluarga yang kuat melahirkan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berintegritas.
Selanjutnya, amanah keempat menyoroti pemanfaatan harta benda secara bijak sesuai tuntunan syariat. Harta kekayaan di dunia hanyalah titipan sementara dari sang pencipta alam semesta.
Setiap rupiah harus diperoleh lewat jalan halal serta didistribusikan untuk membantu kaum dhuafa serta kepentingan umat. Kepedulian finansial ini memperkuat solidaritas sosial di tingkat ranting.
Menjaga Persyarikatan dan Penguatan Kader
Bagian akhir kajian menekankan pentingnya menjaga amanah dalam mengelola persyarikatan Muhammadiyah. Kepercayaan publik terhadap organisasi ini menuntut keteladanan, keikhlasan, dan pelayanan prima dari para pengurusnya.
Kaderisasi berjenjang memastikan keberlangsungan kepemimpinan yang amanah di masa depan. Pengurus mengajak seluruh kader berkorban waktu dan tenaga demi kemajuan dakwah Islam.
“Menjadi pimpinan Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan jabatan organisasi, tetapi merupakan amanah besar yang menuntut pengorbanan waktu, tenaga, pemikiran, dan harta demi kemajuan dakwah Islam berkemajuan,” tegasnya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan umat dan bangsa. Melalui pengajian selapanan ini, PCM Gemawang optimistis semangat ukhuwah dan nilai amanah terus hidup di tengah masyarakat secara konsisten.
Kontributor: Reee
Editor: Al-Afasy



