Guru Besar UMS Nilai Lonjakan Investasi Asing Bukti Indonesia Masih Jadi Magnet Investor Global

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Realisasi investasi Indonesia 2026 mencetak rekor fantastis pada semester pertama dengan menembus angka Rp1.010,6 triliun. Capaian monumental ini menjadi sinyal positif bagi daya saing nasional di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai lonjakan angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai magnet utama modal dunia. Menurutnya, daya tarik tersebut terbukti dari besarnya minat pemodal domestik maupun pasar investasi asing di indonesia.
“Capaian realisasi investasi Indonesia 2026 ini menunjukkan bahwa dari perspektif daya saing, Indonesia masih sangat menarik bagi investor asing,” ujar Anton saat kami wawancarai pada Senin (27/7/2026).
Hilirisasi Industri Jadi Motor Penggerak Utama
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, porsi realisasi investasi Indonesia 2026 terbagi sangat seimbang. Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp510 triliun atau 50,4 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyetor Rp500 triliun atau 49,6 persen.
Menariknya, aliran modal tersebut berhasil menyerap hingga 1.448.862 tenaga kerja langsung. Angka penyerapan ini melonjak sekitar 15 persen secara year-on-year.
Pakar ekonomi UMS tersebut menjelaskan bahwa sektor hilirisasi industri menjadi penopang utama lonjakan modal ini. Pemodal global berbondong-bondong menanamkan dana pada pengolahan mineral, bioenergi, bioetanol, serta industri manufaktur ekspor.
Selanjutnya, Singapura masih memimpin sebagai investor asing terbesar. Negara tetangga tersebut mengungguli Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.
“Sektor yang berkembang pesat ini memang menjadi keunggulan komparatif Indonesia, seperti pengolahan mineral hingga bahan baku baterai kendaraan listrik,” tambah Prof. Anton.
Selain kekayaan alam, percepatan izin usaha melalui sistem OSS-RBA dan stabilitas makroekonomi turut mempercepat masuknya dana segar.
PR Efisiensi Modal dan Peran Perguruan Tinggi
Kendati realisasi investasi Indonesia 2026 menunjukkan tren positif, Anton mengingatkan pemerintah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Pemerintah harus segera membenahi Incremental Capital Output Ratio (ICOR) agar efisiensi modal meningkat. Saat ini nilai ICOR Indonesia masih berada di kisaran angka tujuh.
Untuk menekan angka tersebut, pemerintah perlu mengakselerasi inovasi dan adopsi teknologi digital. Langkah digitalisasi layanan perizinan hingga sistem perpajakan terbukti efektif memangkas birokrasi dan menutup celah pungutan liar.
Di sisi lain, UMS siap mengambil peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kampus terus mentransformasi kurikulum agar menghasilkan lulusan yang menguasai literasi digital, bahasa asing, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
“Dunia bisnis berubah sangat cepat. Oleh karena itu, perguruan tinggi harus melahirkan SDM yang adaptif agar mampu mengisi lowongan kerja investasi masa depan,” tutur Guru Besar UMS tersebut menutup pembicaraan.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy



