Ikhwanushoffa Ingatkan Guru Gen Z: Muhammadiyah Cetak Generasi Amalan, Bukan Hafalan!
PWMJATENG.COM, SRAGEN – Tokoh Muhammadiyah, Ikhwanushoffa, memberikan pesan ideologis yang mendalam bagi para pendidik muda masa kini. Ia mengingatkan bahwa tugas guru saat ini kian menantang karena harus mendidik sekaligus menjadi orang tua kedua bagi siswa di sekolah.
Tantangan tersebut terasa nyata karena mayoritas pendidik di SD Aisyiyah Unggulan Gemolong, Kabupaten Sragen, kini didominasi anak muda. Ikhwanushoffa secara lugas mengaitkan komitmen kepengurusan dengan karakteristik para guru Gen Z ini dalam rapat kerja penguatan visi sekolah, Rabu (8/7/2026).
Dua Sindiran Fenomena Penyakit Generasi Muda
Menurut Ikhwanushoffa, terdapat dua tantangan besar yang kerap menjadi penyakit generasi muda saat ini, yakni masalah pendengaran dan penglihatan. Dari sisi pendengaran, mereka cenderung terlalu sensitif terhadap penilaian lingkungan sekitarnya.
“Gen Z itu unik, kesenggol sedikit mood-nya langsung berubah. Dengar omongan miring dari temannya, mereka langsung tidak nafsu makan, hingga akhirnya terkena penyakit gerd atau memilih resign,” ujar Ikhwanushoffa di hadapan peserta rapat.
Kritik tajam tersebut berlanjut pada penyakit kedua yang menyerang aspek penglihatan dan gaya hidup. Ia menilai generasi ini lebih banyak melakukan investasi leher ke bawah atau mengutamakan penampilan luar demi gengsi semata.
Ia kemudian mencontohkan tren viral mengenai jasa penyewaan ponsel premium yang laris manis menjelang hari raya. “Zaman sekarang kalau mau lebaran, ada yang menyewakan iPhone dan lucunya banyak yang berminat. Apakah zaman milenial dulu ada yang mau lebaran lalu bela-belain sewa BlackBerry?” candanya yang disambut tawa peserta.
Gugatan Sejarah dan Hilangnya Subsidi Silang
Sesi penguatan visi ini berkembang menjadi refleksi mendalam mengenai sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan. Ikhwanushoffa menceritakan bagaimana pendiri Muhammadiyah tersebut mengajarkan Surat Al-Ma’un selama tiga bulan berturut-turut hanya untuk menguji kepedulian sosial umat Islam.
KH Ahmad Dahlan bahkan pernah meminta separuh harta warga yang hendak menggelar resepsi untuk kepentingan umat. Langkah berani itu berakar pada ayat keempat Surat Al-Ma’un yang menegaskan bahwa orang yang beribadah pun masih bisa celaka jika mengabaikan kaum duafa.
Atas dasar teologi Al-Ma’un tersebut, Muhammadiyah zaman dulu mendirikan PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Klinik kesehatan ini memberikan layanan gratis bagi warga miskin dan menerapkan tarif bagi yang mampu, meskipun kondisi keuangan organisasi saat itu belum sekaya sekarang.
Namun, Ikhwanushoffa kini justru menggugat arah gerak lembaga sosial dan pendidikan Muhammadiyah modern yang sudah jauh lebih mapan. Ia mempertanyakan hilangnya semangat komitmen sosial masa lalu pada institusi saat ini.
“Sekarang Muhammadiyah sudah kaya, tapi kenapa kalau periksa ke PKU semua tetap diminta bayar tanpa melihat mampu atau tidak? Kita punya banyak kampus besar dengan ribuan mahasiswa, tapi berapa banyak anak miskin yang mendapat beasiswa penuh?” gugatnya.
Meneladani Surat Al-Ashr untuk Gerakan Nyata
Melalui momentum ini, Ikhwanushoffa mengajak seluruh guru Gen Z di sekolah unggulan tersebut untuk merenungkan kembali esensi pengajaran KH Ahmad Dahlan. Sejarah mencatat bahwa pendiri Muhammadiyah itu juga membutuhkan waktu hingga delapan bulan untuk mengajarkan Surat Al-Ashr kepada para muridnya.
Langkah pengajaran yang memakan waktu lama tersebut bukan tanpa alasan yang kuat. Pihak persyarikatan sejak awal berkomitmen tinggi untuk melahirkan manusia-manusia yang bergerak nyata di masyarakat.
“Muhammadiyah dari dulu ingin mencetak generasi amalan yang mempraktikkan ilmu, bukan sekadar generasi hafalan,” tegas Ikhwanushoffa menutup arahannya dengan kuat.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Alafasy



