MPKSDI PDM Kabupaten Pekalongan Gelar Kajian Ideologi, Tekankan Pentingnya Manhaj Gerakan Muhammadiyah
PWMJATENG.COM, PEKALONGAN – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Kabupaten Pekalongan bergerak cepat memperkuat ideologi anggotanya. Mereka menyelenggarakan kajian intensif untuk menanamkan pemahaman ideologis yang kokoh kepada seluruh kader Muhammadiyah. Langkah strategis ini fokus membedah Manhaj Gerakan Muhammadiyah sebagai fondasi utama dakwah persyarikatan.
Ketua MPKSDI PDM Kabupaten Pekalongan, Gigih Setianto, hadir langsung menjadi pemateri utama dalam acara tersebut. Menurut Gigih, kata manhaj secara bahasa bermakna jalan yang terang, nyata, atau sistem.
“Manhaj Gerakan Muhammadiyah merupakan sistem pemikiran dasar kita. Sistem ini menjadi landasan keyakinan, cara berpikir, sekaligus pedoman bertindak bagi seluruh warga persyarikatan,” ujar Gigih di hadapan peserta kajian.
Rekam Jejak Sejarah Ideologi Organisasi
Gigih memaparkan bahwa pemikiran KH. Ahmad Dahlan menjadi akar kuat sistem tersebut. Pendiri persyarikatan itu selalu menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun, proses itu harus berjalan melalui pemahaman rasional, kontekstual, dan berorientasi pada kemajuan.
Sistem pemikiran ini terus mengalami penguatan dari generasi ke generasi secara melembaga. Organisasi mencatat beberapa tonggak sejarah ideologi yang sangat krusial. Salah satunya adalah pembentukan Majelis Tarjih pada tahun 1927 sebagai pilar pengkaji keagamaan.
Selanjutnya, organisasi merumuskan Al-Masail Al-Khamsah atau Lima Pokok Masalah pada tahun 1935. Ki Bagus Hadikusumo kemudian menyusun Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah pada tahun 1951. Selain itu, lahirlah rumusan Kepribadian Muhammadiyah pada 1962 dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah pada 1969.
Menjaga Jarak dari Politik Praktis
Dalam kesempatan tersebut, Gigih juga mengulas dinamika Khittah Muhammadiyah dari masa ke masa. Perjalanan sejarah ini mencakup Khittah Palembang, Ponorogo, Ujung Pandang, Surabaya, hingga Denpasar. Semua dokumen historis tersebut menegaskan arah perjuangan organisasi yang konsisten.
Muhammadiyah secara sadar memilih jalur politik kebangsaan atau high politics. Jalur ini memprioritaskan dakwah Islam dan pembinaan umat secara konsisten. Oleh karena itu, organisasi secara tegas menjaga jarak dari politik praktis maupun partai politik mana pun.
Meskipun independen, Manhaj Gerakan Muhammadiyah tetap berkomitmen penuh membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Muhammadiyah memandang NKRI sebagai Darul Ahdi wa al-Syahadah atau negara kesepakatan dan kesaksian.
Tiga Pendekatan Islam Berkemajuan
Pada sesi akhir, Gigih mengajak seluruh kader Muhammadiyah mengaktualisasikan keputusan Muktamar ke-48 Surakarta. Keputusan tersebut melahirkan dokumen penting bernama Risalah Islam Berkemajuan. Dokumen ini membawa lima karakter utama, yaitu tauhid, keadilan, wasathiyah, ijtihad, dan rahmat bagi semesta.
Organisasi menggunakan tiga pendekatan keagamaan secara integratif untuk menjawab tantangan zaman. Pendekatan tersebut meliputi bayani yang berbasis teks suci, serta burhani yang berbasis ilmu pengetahuan. Terakhir, pendekatan irfani memperkuat dimensi spiritualitas kader.
Melalui penanaman Manhaj Gerakan Muhammadiyah ini, MPKSDI PDM Kabupaten Pekalongan berharap besar. Mereka ingin segenap pengurus memiliki arah gerak yang kokoh dan moderat. Dengan demikian, persyarikatan dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
Kontributor: Bono
Editor: Alafasy



