Sering Merasa Paling Benar Setelah Berhijrah? Hati-hati, Rasulullah Mengingatkan Ancaman Ini
Oleh: Ruli Alqodri Mustafa

PWMJATENG.COM, Pernahkah Anda menemui seseorang yang baru belajar agama, tetapi mendadak jadi galak dan gemar menghakimi sesama di media sosial? Fenomena ini marak terjadi hari ini. Istilah hijrah sering kali bergeser menjadi sekadar kompetisi simbol dan penampilan luar, padahal esensinya jauh lebih mendalam dari itu.
Secara harfiah, hijrah dalam Islam memang berarti berpindah atau meninggalkan. Jika melihat rekam sejarah, peristiwa ini merujuk pada perpindahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Namun, makna hijrah tidak berhenti pada peristiwa sejarah semata. Hijrah adalah perjalanan spiritual yang terus hidup dalam diri setiap Muslim hingga hari ini.
Hijrah sejati bukan hanya tentang perubahan tampilan luar, cara berpakaian, atau rutinitas ibadah yang terlihat oleh manusia. Hijrah yang hakiki adalah transformasi batin yang melahirkan akhlak mulia, kelembutan hati, dan kepedulian sosial. Sebab tujuan akhir hijrah bukanlah pencitraan, melainkan ketakwaan.
Fenomena Hijrah Instan di Era TikTok dan Instagram
Masyarakat modern sering kali memahami istilah hijrah secara sempit. Sebagian orang menganggap ganti gaya hidup, ubah penampilan, atau aktif memamerkan simbol religius di media sosial sudah saksama disebut hijrah. Padahal, tindakan itu tidak boleh berhenti pada simbol semata. Langkah tersebut harus menghadirkan perubahan karakter dan kematangan jiwa.
Seseorang mungkin mulai rajin menghadiri kajian, memperbanyak shalat sunnah, atau mengenakan pakaian yang lebih Islami. Kita tentu patut mengapresiasi semua niat baik tersebut. Namun, hijrah akan kehilangan ruhnya ketika perubahan tersebut justru melahirkan rasa paling benar, merasa paling suci, lalu mudah merendahkan orang lain.
Belakangan ini muncul fenomena yang cukup memprihatinkan. Banyak individu baru mengenal agama secara mendalam, tetapi sikapnya justru menjadi keras dan gemar menghakimi. Mereka seolah menuntut semua orang untuk mengikuti cara pandangnya. Padahal, Allah mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan untuk menakut-nakuti manusia, melainkan membawa rahmat dan kasih sayang.
Hijrah yang benar semestinya membuat seseorang menjadi lebih santun dalam berbicara, lebih sabar menghadapi perbedaan, dan lebih lembut kepada sesama. Semakin tinggi ilmu agama seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.
Hadis Rasulullah tentang Ahli Ibadah yang Masuk Neraka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengingatkan tentang pentingnya menjaga akhlak dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Kisah tersebut menceritakan seorang perempuan yang sangat rajin shalat malam (tahajud) dan gemar berpuasa sunnah. Namun, lisannya sering kali menyakiti perasaan tetangganya. Ketika para sahabat menyampaikan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda dengan tegas:
“La khayra fiha, wa hiya fin-nar.”
Artinya: “Tidak ada kebaikan padanya dan ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam untuk kita semua yang sedang berproses memperdalam agama. Ibadah ritual memang penting, tetapi hubungan antarmanusia juga tidak kalah penting. Syariat memang menganjurkan shalat tahajud dan puasa sunnah, namun menjaga lisan, menghormati tetangga, dan tidak menyakiti orang lain merupakan kewajiban utama yang tidak boleh kita abaikan.
Islam mengajarkan keseimbangan antara Habluminallah (hubungan dengan Allah) dan Habluminannas (hubungan dengan sesama manusia). Tidak ada makna hijrah jika seseorang terlihat saleh di hadapan Allah, tetapi bertindak kasar terhadap manusia.
Ciri-Ciri Hijrah yang Benar Menurut Islam
Setelah peristiwa Fathu Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan bahwa makna hijrah tidak lagi sekadar perpindahan fisik, melainkan perpindahan moral dan spiritual. Beliau bersabda:
“Al-muhajiru man hajara ma naha Allahu ‘anhu.”
Artinya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”
Berdasarkan petunjuk tersebut, berikut adalah 4 ciri utama bahwa hijrah seseorang berada di jalan yang benar:
-
Mengikis Penyakit Hati: Berusaha keras membuang kesombongan, ghibah, fitnah, kebencian, dan segala perilaku yang bertentangan dengan syariat.
-
Mengontrol Lisan dan Tangan: Belajar menahan diri agar ketikan di media sosial maupun ucapan langsung tidak menyakiti orang lain.
-
Menebar Rasa Aman: Muslim yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga membuat lingkungan sekitarnya merasa selamat dari gangguan dirinya.
-
Menuntut Ilmu secara Kaffah: Memahami agama tidak cukup hanya mengandalkan cuplikan konten video pendek berdurasi satu menit di TikTok atau Instagram.
Media sosial memang bisa menjadi sarana dakwah yang baik, tetapi kita tidak boleh menjadikannya sebagai satu-satunya rujukan ilmu. Sumber utama ajaran Islam tetap Al-Qur’an dan Sunnah. Untuk memahaminya, kita butuh bimbingan para ulama yang memiliki keilmuan mendalam serta akhlak yang lurus.
Menjadi Hamba yang Lebih Baik, Bukan Merasa Paling Baik
Dangkalnya pemahaman agama yang dibarengi luapan emosi sering kali memicu persoalan keluarga, perpecahan rumah tangga, bahkan konflik sosial. Karena itu, umat Islam perlu kembali menghidupkan tradisi majelis ilmu, berdialog dengan guru yang kompeten, serta belajar agama secara utuh dan bijaksana.
Pada akhirnya, hijrah bukanlah sensasi sesaat yang ramai kita tontonkan untuk mendapat pujian, melainkan proses panjang memperbaiki diri sepanjang hayat. Hijrah adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah sekaligus lebih bermanfaat bagi sesama.
Melalui Surah An-Nahl ayat 97, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji bahwa siapa saja yang beriman dan beramal saleh akan memperoleh kehidupan yang baik (Hayatan Thayyibah). Kehidupan yang baik itu lahir dari iman yang tulus, amal saleh yang ikhlas, dan akhlak yang mulia.
Maka dari itu, ukuran hijrah bukanlah seberapa religius seseorang terlihat di mata manusia, melainkan seberapa besar perubahan dirinya dalam ketaatan, keikhlasan, dan kemuliaan akhlak. Sebab hijrah sejati bukan tentang ingin terlihat saleh, tetapi tentang sungguh-sungguh menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Editor: Alafasy



