Hindari 5 Kesalahan Ini Lewat Strategi Kemasan Produk UMKM ala Mahasiswa FEB UMS
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Kemasan sebuah produk kini tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pembungkus pelindung. Lebih dari itu, visual luar penentu utama yang memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli sebuah produk.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam pemaparan mahasiswa Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mohamad Nisman Fadhil, S.E. Dalam kegiatan Jualan Laris Malaysia 2026 pada Selasa (9/6/2026), ia mengupas tuntas strategi kemasan produk UMKM demi mendongkrak daya saing pasar.
Nisman membagikan rangkuman pengalaman bisnisnya yang penuh lika-liku kegagalan akibat meremehkan aspek visual. Pengusaha muda ini menegaskan bahwa banyak produk lokal memiliki rasa atau kualitas juara, namun tumbang di pasar karena kemasannya kurang meyakinkan.
5 Kesalahan Fatal Kemasan Produk
Berdasarkan pengalamannya mengelola usaha Warnet Novus, Goyang Gohyong, hingga Komune Kopi, Nisman menemukan satu benang merah kegagalan bisnis. Masalah utama tersebut berakar pada kesalahan kemasan penyebab bisnis gagal yang sering diabaikan pelaku usaha mikro.
“Ada lima kesalahan kemasan yang sering membuat produk sulit berkembang di pasaran,” ujar pendiri PT Sentra Karya Nusantara (Novus) tersebut.
Kesalahan pertama adalah ketiadaan identitas merek yang jelas dan mudah diingat konsumen. Selanjutnya, penggunaan foto produk yang kurang menarik serta stan penjualan tanpa sentuhan branding memperparah citra usaha.
Dua kesalahan terakhir meliputi pemilihan wadah yang tidak sesuai karakter produk serta inkonsistensi tampilan media sosial. Kombinasi kelalaian ini sukses membuat produk lokal kalah bersaing dengan kompetitor besar.
Langkah Praktis Naikkan Persepsi Nilai
Sebagai solusi konkret, mahasiswa Mahasiswa FEB UMS ini menawarkan lima langkah praktis bagi para pelaku usaha. Target utamanya adalah melakukan perbaikan visual secara bertahap guna mengerek psikologi harga produk.
Langkah awal berfokus pada pembangunan identitas merek yang kuat dan pembuatan foto produk yang jauh lebih layak. Selanjutnya, pelaku usaha wajib membenahi tampilan fisik outlet serta menjaga keselarasan estetika di ranah digital.
Nisman mengingatkan bahwa konsumen sering kali tidak sekadar membeli isi produk, melainkan membeli persepsi nilai. Melalui tips desain kemasan kreatif, produk sederhana bisa menjelma menjadi komoditas premium berharga tinggi.
“Cara kamu tampil adalah cara orang menilai kamu. Konsep kemasan ini tidak hanya berlaku pada komoditas produk, tetapi juga sektor jasa,” tambahnya.
Belajar dari Merek Besar Indonesia
Penerapan prinsip profesional ini telah Nisman buktikan langsung saat mengembangkan perusahaan barunya, Senapati Wijaya Abadi. Penggunaan seragam beridentitas dan proposal yang rapi terbukti ampuh meningkatkan kepercayaan klien secara signifikan.
Dalam sesi edukasi tersebut, ia juga membedah studi kasus beberapa merek besar Indonesia yang sukses mendunia berkat kemasan ikonik. Merek-merek tersebut antara lain Kopi Kenangan, Maicih, dan Kopiko.
Ketiga jenama lokal itu berhasil membangun konsistensi visual yang kuat sehingga mampu memperluas ekspansi pasar ke tingkat internasional. Kisah sukses ini menjadi bukti nyata bahwa kemasan merupakan investasi jangka panjang, bukan sekadar biaya operasional buang-buang uang.
Mengakhiri pemaparannya, Nisman menitipkan pesan kunci bagi seluruh pelaku usaha yang ingin melihat omzet UMKM naik. Ia menekankan pentingnya kesan pertama yang ditangkap oleh indra penglihat konsumen.
“Sebelum orang-orang mencicipi kualitas produkmu, mereka sudah lebih dulu ‘membelinya’ dengan mata,” pungkas mahasiswa MM FEB UMS tersebut optimis tentang keberhasilan strategi kemasan produk UMKM di masa depan.
Kontributor: Fika
Editor: Ayma



