Apakah Ibadah Haji Harus Kaya? Ini Fakta dan Kisah Inspiratifnya
Oleh : Suryanto, ST (PCM Sukoharjo) - Peserta Sekolah Tabligh Mu PWM Jawa Tengah
Ibadah haji adalah Rukun Islam kelima yang menjadi impian setiap Muslim di dunia. Setiap pemeluk agama Islam pasti memiliki keinginan kuat untuk menyempurnakan rukun tersebut, agar kelak menjadi saksi di hadapan Allah SWT bahwa mereka telah menunaikan seluruh perintah-Nya tanpa ada yang terlewat.
Namun, sebuah pertanyaan sering muncul di tengah masyarakat: Apakah ibadah haji harus kaya? Apakah Allah hanya memanggil orang-orang yang mapan secara finansial?
Pesan Al-Qur’an tentang Panggilan Haji
Jika merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 27, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Ayat ini secara tersirat menjawab pertanyaan apakah haji harus kaya. Pergi ke Baitullah dengan berjalan kaki menunjukkan bahwa mereka yang datang bukanlah golongan orang kaya bergelimang harta. Mereka adalah orang-orang biasa yang bahkan tidak memiliki kendaraan, namun rela menempuh perjalanan jauh demi menyempurnakan Rukun Islam dengan bekal iman yang kokoh.
Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni Masa Kini
Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok hebat dari generasi tabiin bernama Uwais Al-Qarni. Beliau berjalan kaki lebih dari 1.000 kilometer dari Yaman menuju Makkah sambil menggendong ibundanya yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Tanpa bekal berlimpah dan tanpa kendaraan mewah, Uwais melangkah hanya dengan modal keyakinan bahwa Allah akan memampukannya. Kisah heroik ini membuat Allah dan Rasul-Nya memuliakan Uwais. Bahkan, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Umar bin Khattab:
“Wahai Umar, kalau kamu mau doamu dikabulkan Allah, maka temuilah Uwais Al-Qarni serta mintalah doa kepadanya.”
Di era modern ini, kita mungkin tidak lagi pergi haji dengan berjalan kaki dari negara asal. Namun, esensi “Uwais Al-Qarni masa kini” tetap ada. Mereka adalah umat Islam yang berangkat haji dengan tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja keras bertahun-tahun. Niat yang ikhlas dan semangat luar biasa itulah yang membuat Allah SWT memampukan mereka bertamu ke Baitullah.
Allah Memampukan yang Terpanggil
Ada sebuah kalimat hikmah yang selalu berhasil menggelorakan semangat umat Muslim untuk beraspirasi naik haji:
“Allah tidak memanggil orang-orang yang mampu, tetapi Allah akan memampukan orang-orang yang terpanggil.”
Prinsip ini menegaskan kembali bahwa bukan hanya orang kaya yang berhak beribadah ke Baitullah. Kita semua memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menyempurnakan Rukun Islam kelima ini. Ketika kita merasa terpanggil dan yakin, maka rute dan jalan menuju ke sana akan dibukakan oleh Allah SWT.
Terlebih lagi, ganjaran bagi mereka yang berhasil meraihnya sangatlah besar. Rasulullah SAW bersabda:
“Dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim)
Janji surga inilah yang menjadi energi positif luar biasa bagi seorang hamba. Allah Yang Maha Kaya memiliki miliaran cara yang tak terduga untuk memberangkatkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.
Sudahkah Kita Memantaskan Diri?
Pertanyaan besarnya kini kembali kepada diri kita masing-masing: Sudahkah hati kita terpanggil untuk menuju Baitullah?
Jika getaran itu belum kuat, mari bersama-sama memantaskan diri. Memantaskan diri bisa dimulai dengan menata niat, mulai menabung meskipun sedikit, dan selalu melangitkan doa agar nama kita masuk ke dalam daftar undangan Allah SWT untuk berziarah ke Makkah Al-Mukarramah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Alafasy



