Dorong Konservasi Laut, Unimus Gandeng Kampus Malaysia dan NUS Singapura

PWMJATENG.COM, Semarang — Program Studi S1 Ilmu Kelautan bersama S1 Statistika Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menggelar kuliah umum internasional. Forum akademik global ini mengupas tuntas pemanfaatan sains data dan teknologi canggih untuk mendorong konservasi laut. Melalui agenda International Guest Lecturer 2026, mereka menghadirkan pakar kelautan dari Universitas Malaysia Terengganu (UMT) dan Universitas Diponegoro (Undip).
Oleh karena itu, sivitas akademika perlu memperluas wawasan terkait tantangan nyata sektor maritim saat ini. Dosen Ilmu Kelautan Unimus, Angka Mahardini PhD, menegaskan bahwa pendekatan berbasis data menjadi kunci utama. Langkah strategis ini sangat membantu manusia dalam memahami sekaligus menjaga ekosistem perairan yang kian kompleks.
Kolaborasi Lintas Negara Pantau Biodiversitas Laut
Selain menjadi wadah pertukaran ilmu, agenda ini memperkuat kolaborasi riset lintas institusi. Unimus kini bersinergi dengan Fakultas Sains dan Matematika Undip serta National University of Singapore (NUS). Secara konkret, para peneliti mengamati, mengukur, dan mencatat data keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Selanjutnya, hasil pemantauan intensif tersebut akan bermuara pada pembuatan basis data terpadu. Data mutakhir ini sangat krusial untuk mendukung kebijakan konservasi laut dan keberlanjutan maritim. Menariknya, Unimus tetap bertindak sebagai pemegang utama data penelitian, khususnya untuk wilayah Kepulauan Karimunjawa, Jepara.
Sementara itu, pimpinan universitas memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif dua program studi ini. Wakil Rektor IV Unimus, Muhammad Yusuf Ph.D, membuka acara sekaligus menyampaikan dukungan penuhnya. Senada dengan hal tersebut, Dekan FSTP Unimus, Dr. Nurhidajah, berharap forum global ini membawa dampak positif bagi dosen dan mahasiswa.
Menggali Potensi Teknologi eDNA untuk Maritim Indonesia
Di sisi lain, pakar dari UMT Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Muhammad Hafiz Bin Borkhanuddin, menyoroti melimpahnya kekayaan maritim Indonesia. Beliau menyebut pendataan biodiversitas laut yang akurat merupakan fondasi penting. Tanpa data yang valid, pengembangan konsep ekonomi biru yang berkelanjutan akan sulit tercapai.
Sebagai solusi taktis, peneliti Undip, Muhammad Danie Al Malik M.Si, menawarkan penerapan teknologi eDNA (environmental DNA). Metode modern ini mampu menyajikan data lapangan secara cepat dan akurat. Hebatnya lagi, teknologi ini mampu menjangkau wilayah perairan yang luas tanpa merusak ekosistem asli.
Pada akhirnya, Indonesia memang membutuhkan sistem pendataan yang jauh lebih inovatif. Penggunaan teknologi eDNA memegang peran strategis untuk mengungkap potensi tersembunyi biodiversitas laut Nusantara. Melalui langkah digitalisasi ini, upaya konservasi laut di Tanah Air dapat berjalan lebih terukur dan optimal.
Kontributor: Humas UNIMUS
Editor: Alafasy



