100 Kader MPKSDI se-Solo Raya Ikuti Syawalan dan Halal Bihalal di Surakarta

PWMJATENG.COM, Surakarta — Sebanyak 100 kader Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Solo Raya mengikuti silaturahmi Syawalan dan halal bihalal di Balai Muhammadiyah Surakarta, Jumat (10/4/2026).
Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Acara ini dihadiri Sekretaris PDM Surakarta periode 2022–2027 Rohani, pimpinan dan anggota MPKSDI dari Kota Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten, serta Wakil Ketua I MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mutohharun Jinan.
Ketua MPKSDI Solo, Suyanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda perdana MPKSDI se-Solo Raya dalam format Syawalan dan silaturahmi. Sebelumnya, pertemuan antarwilayah lebih sering dilakukan dalam forum koordinasi rutin.
“Pada tahun ini, kami mengadakan Syawalan dan silaturahmi untuk teman-teman MPKSDI se-Solo Raya. Kegiatan ini dihadiri 100 kader,” ujarnya.
Syawalan Jadi Ajang Penguatan Kaderisasi
Suyanto menegaskan, kegiatan Syawalan ini menjadi bagian penting dalam penguatan kaderisasi Muhammadiyah, khususnya di wilayah Solo Raya.
Menurutnya, Muhammadiyah dapat terus berkembang bukan semata karena besarnya amal usaha atau megahnya gedung, melainkan karena proses kaderisasi yang berjalan dengan baik.
“Sebagai gerakan, Muhammadiyah bisa besar karena kaderisasinya hidup dan terus berjalan,” katanya.
Ia menambahkan, momentum Syawalan menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi pengkaderan berkemajuan di lingkungan Muhammadiyah.
Kader Muhammadiyah Dituntut Adaptif di Era Digital
Suyanto juga menekankan pentingnya kaderisasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama di tengah tantangan era digital.
“Oleh karena itu, ke depan proses kaderisasi harus lebih maju dan berkembang. Kaderisasi harus adaptif terhadap perubahan zaman yang sarat dengan digitalisasi sebagai jawaban atas berbagai tantangan yang ada,” ungkapnya.
Ia menilai konsep pengkaderan yang adaptif menjadi kebutuhan penting agar Muhammadiyah tetap relevan dan tidak tertinggal oleh perubahan.
“Kalau tidak adaptif, kita bisa tergilas oleh zaman. Karena itu, pengkaderan berkemajuan menjadi sangat penting. Kaderisasi ibarat jantung yang menentukan sehatnya persyarikatan Muhammadiyah,” imbuhnya.
Salah satu peserta halal bihalal, Rahmat Agung Cahyo, yang juga dikenal sebagai pendongeng nasional, mengatakan momen tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para kader untuk bersilaturahmi secara langsung.
“Suasana hangat, penuh canda tawa, dan jabat tangan khas Syawal semakin mempererat kebersamaan,” ujar Rahmat.
Kontributor: Dwi Jatmiko
Editor: Al-Afasy



