Berita

Rektor UMUKA Solo Ingatkan Jamaah Jangan Rusak Amal Usai Ramadan

PWMJATENG.COMSUKOHARJO — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bekonang menggelar pengajian umum dalam rangka halalbihalal di Kantor Dakwah PCM Bekonang, Jumat (27/3/2026). Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan bagi jajaran majelis PCM, PCA, ketua PRM, organisasi otonom, hingga pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Cabang Bekonang.

Hadir sebagai pemateri utama, Rektor Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA), Dr. H. Muhammad Syamsuri, M.Si. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan.

Ia mengutip pesan yang dinisbatkan kepada sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang Muslim hendaknya lebih fokus memikirkan diterimanya amal daripada sekadar banyaknya amal yang dilakukan.

“Jadilah orang yang lebih fokus memikirkan diterimanya amalan dibanding fokus pada amalan itu sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27, bahwa Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa,” ujarnya di hadapan jamaah.

Jangan Merusak Amal Setelah Ramadan

Syamsuri menjelaskan, para sahabat Nabi sangat memuliakan Ramadan. Bahkan, mereka telah berdoa sejak jauh hari agar dipertemukan dengan bulan suci tersebut karena memahami keistimewaan dan nilainya yang besar.

Namun, ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam perilaku seperti sosok yang digambarkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 92, yakni seseorang yang telah bersusah payah memintal benang, lalu mengurainya kembali hingga tercerai-berai.

“Jangan sampai kita seperti perempuan yang mengurai pintalannya sendiri. Para ulama menafsirkan kisah ini sebagai teguran bagi manusia yang sudah bersusah payah membangun amal kebaikan dan iman selama Ramadan, namun kemudian merusaknya kembali dengan maksiat dan keburukan setelah bulan itu berlalu,” tegasnya.

Menurutnya, semangat ibadah, kedisiplinan, dan kebiasaan baik yang telah dibangun selama Ramadan harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Wujud Takwa adalah Menahan Amarah dan Memaafkan

Menutup materinya, Syamsuri mengajak jamaah mengimplementasikan esensi takwa sebagaimana termuat dalam Surat Ali Imran ayat 134, yakni menjadi pribadi yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Ia menegaskan, puncak ketaatan seorang Muslim adalah menjadi muhsinin, yaitu pribadi yang dicintai Allah karena mampu berbuat baik, bahkan kepada orang yang pernah menyakitinya.

“Puncak dari ketaatan adalah menjadi Muhsinin, yakni orang yang dicintai Allah karena mampu berbuat baik bahkan kepada mereka yang pernah menzalimi,” pungkasnya.

Melalui pengajian umum dan halalbihalal tersebut, PCM Bekonang berharap semangat silaturahmi dan penguatan nilai-nilai pasca Ramadan terus tumbuh di lingkungan persyarikatan dan amal usaha.

Kontributor: Choerul Anam
Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/