Khutbah Id di Al-Istiqomah Tahunan Jepara Sentuh Hati Jemaah

PWMJATENG.COM, JEPARA — Pagi Idulfitri 1447 H di halaman Masjid Al-Istiqomah Tahunan, Jepara, Jumat (20/3/2026), bukan hanya dipenuhi gema takbir dan saf-saf salat yang rapat. Lebih dari itu, khutbah Idulfitri yang disampaikan Ustaz Asep Sutisna menghadirkan pesan mendalam tentang waktu, keluarga, dan kesempatan berbuat baik yang tidak selalu datang dua kali.
Sejak fajar, jemaah dari berbagai kalangan memadati halaman masjid. Anak-anak hingga lansia berbaur dalam suasana penuh kebersamaan, menandai hari kemenangan setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan. Salat Idulfitri dimulai pukul 06.15 WIB dengan tertib dan khusyuk.
Sebelum pelaksanaan salat, takmir masjid menyampaikan laporan perolehan zakat, infak, dan sedekah tahun 1447 H/2026. Tercatat zakat fitrah uang sebesar Rp12.045.000, zakat fitrah beras 474,7 kilogram, zakat mal Rp30.645.000, serta infak dan sedekah Rp7.070.000. Seluruhnya telah disalurkan kepada para mustahik di sekitar lingkungan masjid.
Angka-angka tersebut bukan sekadar laporan, melainkan cerminan kuatnya kepedulian sosial jemaah. Idulfitri pun terasa bukan hanya sebagai momentum spiritual, tetapi juga penguat solidaritas dan empati antarsesama.
Khutbah tentang waktu dan kehilangan
Puncak peringatan Idulfitri pagi itu terasa saat khutbah disampaikan Ustaz Asep Sutisna, yang juga bertindak sebagai imam. Dengan bahasa sederhana namun menyentuh, ia mengajak jemaah melihat Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum perenungan.
“Majelis Idulfitri ini adalah majelis penuh rahmat. Kita berharap Allah membantu kita meningkatkan ketakwaan, sehingga termasuk golongan ahli surga,” ujarnya mengawali khutbah.
Ia kemudian mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni soal waktu. Menurutnya, manusia kerap merasa waktu akan selalu tersedia, padahal tidak ada jaminan umur akan sampai esok hari, apalagi bertemu Ramadan berikutnya.
“Terkadang kita lengah dengan waktu. Seakan-akan waktu itu akan terus ada. Padahal kita belum tentu bisa menghabiskan hari ini,” tuturnya.
Suasana semakin emosional ketika ia menggambarkan realitas yang kerap dialami banyak keluarga saat Idulfitri.
“Mungkin tahun lalu ada yang kita sayang masih ikut berfoto, masih duduk bersama menikmati ketupat. Tahun lalu canda tawanya masih terdengar. Tapi tahun ini, ia sudah tidak ada. Tinggal kenangan,” ucapnya.
Kalimat itu seolah mengetuk kesadaran jemaah bahwa Idulfitri bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang mensyukuri siapa saja yang masih ada di sisi kita hari ini.
Jangan tunggu Ramadan lagi untuk berubah
Ustaz Asep kemudian mengajak jemaah agar tidak menjadikan Ramadan sekadar rutinitas tahunan. Ia menegaskan pentingnya menjaga semangat ibadah, membaca Al-Qur’an, dan memakmurkan masjid agar terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
“Jangan tunggu Ramadan lagi untuk berubah. Kalau hari ini hati kita tergerak, itu tanda Allah memanggil kita. Jangan ditunda,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua sebagai jalan menuju surga. Menurutnya, keberadaan orang tua adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
“Sungguh beruntung yang masih punya orang tua. Itu jalan menuju surga. Celakalah jika orang tua ada, tapi tidak dimanfaatkan untuk berbakti,” ungkapnya.
Dalam khutbahnya, ia turut menyinggung hadis tentang orang yang merugi karena tidak mendapatkan ampunan di bulan Ramadan, serta pentingnya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw. sebagai bentuk cinta kepada Rasulullah.
Pesan demi pesan yang disampaikan terasa utuh: tentang waktu yang terbatas, pentingnya keluarga, keutamaan taubat, hingga ajakan menjaga kesinambungan amal saleh.
Idulfitri sebagai titik awal
Menutup khutbah, Ustaz Asep mengajak jemaah menjadikan Idulfitri sebagai titik awal, bukan akhir. Ia mengajak menghadirkan “Ramadan sepanjang hayat”, yakni menjaga nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Salat Idulfitri pun berakhir dalam suasana hangat dan penuh haru. Jemaah saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan mempererat silaturahmi. Namun, yang paling membekas bukan hanya kebersamaan itu, melainkan pesan bahwa hidup ini singkat, waktu begitu berharga, dan kesempatan berbuat baik tidak akan selalu datang dua kali.
Kontributor: Muslim
Editor: Al-Afasy



