Milad IMM, Adam Malik dan Averroes UMS Gelar Seminar Edukasi KBGO

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Adam Malik Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Komisariat Averroes Fakultas Teknik (FT) UMS menggelar seminar edukasi tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Milad IMM ke-62 sekaligus upaya mendorong terciptanya ruang digital yang aman dan beradab.
Dalam seminar yang digelar pada 8 Maret 2026 itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai bentuk KBGO, mulai dari cyberstalking, pelecehan daring, ancaman kekerasan seksual, doxing, peretasan, hingga penyebaran konten intim tanpa persetujuan.
Materi disampaikan oleh Dr. Marisa Kurnianingsih, S.H., M.H., M.Kn. Ia menegaskan bahwa KBGO merupakan ancaman nyata di era digital dan dapat berdampak serius terhadap korban, terutama pada kesehatan mental dan rasa aman dalam beraktivitas di ruang siber.
Seminar KBGO Jadi Bagian Milad IMM
Ketua panitia, Thoriq Saiful Muhsinin, mengatakan seminar ini menegaskan peran strategis mahasiswa dalam menanggulangi KBGO. Menurutnya, IMM mendorong kader-kadernya untuk menerapkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar juga di dunia maya.
“Implementasi nilai-nilai tersebut dimulai dari kesadaran individu untuk menjaga aurat serta privasi karena adanya keyakinan akan ‘sadar hisab’, yaitu pemahaman bahwa setiap aktivitas akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, menjaga akhlak dan lisan serta senantiasa melakukan tabayun menjadi fondasi utama dalam berinteraksi di ruang siber,” kata Thoriq, Senin (16/3/2026).
Ia menambahkan, kesadaran spiritual itu harus diwujudkan melalui etika bermedia yang konkret, seperti menjaga lisan maupun tulisan, menghormati hak privasi orang lain, dan menggunakan media digital secara produktif untuk menyebarkan kebaikan.
Mahasiswa Didorong Dampingi Korban
Selain menekankan aspek pencegahan, seminar juga menyoroti pentingnya pendampingan terhadap korban. Mahasiswa, menurut Thoriq, perlu menjadi pendamping yang empatik, menjaga kerahasiaan korban, dan tidak melakukan penyalahkan terhadap korban dalam kondisi apa pun.
Salah satu poin utama yang disampaikan Marisa adalah pentingnya sikap asertif bagi korban.
“Banyak kasus KBGO terjadi berulang karena ketidakmampuan korban untuk bersikap tegas,” ungkap Marisa.
Peserta diajak mengenali hak-hak mereka, berani memberi peringatan kepada pelaku, dan menempuh pelaporan resmi kepada pihak berwenang. Menurut Marisa, sikap asertif penting tidak hanya untuk melindungi diri saat ini, tetapi juga untuk mencegah kekerasan berulang di masa depan.
Ia juga menekankan bahwa korban perlu mendapat dukungan agar berani bersuara dan mencari bantuan secara aman serta sesuai jalur hukum.
Pencegahan dan Penanganan Harus Berjalan Bersama
Di akhir kegiatan, Thoriq menyampaikan bahwa seminar tersebut menegaskan KBGO bukan sekadar persoalan teknis di dunia digital, melainkan ancaman nyata yang dapat memicu trauma, tekanan psikologis, dan penurunan kualitas hidup korban.
“Sebagai langkah preventif, seminar ini merumuskan dua pilar utama yang saling terintegrasi, dimulai dari aspek pencegahan melalui pengamanan data pribadi, tindakan interaksi dengan akun mencurigakan, serta edukasi berkelanjutan mengenai peraturan hukum yang berlaku,” kata Thoriq.
Menurutnya, langkah pencegahan itu harus diikuti protokol penanganan yang sistematis bagi korban, seperti mendokumentasikan bukti kekerasan, memblokir akses pelaku, dan mencari bantuan pendampingan profesional untuk pemulihan kondisi mental.
Seminar ini menegaskan bahwa upaya melawan KBGO tidak cukup hanya dengan memberi sanksi kepada pelaku, tetapi juga harus menempatkan pemulihan korban sebagai prioritas utama agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan bermartabat.
Kontributor: Maysali
Editor: Al-Afasy



