Khazanah Islam

Kekerasan Membawa Mudarat

PWMJATENG.COM – Kekerasan dalam bentuk apa pun selalu meninggalkan luka, baik bagi korban maupun pelakunya. Islam sebagai agama yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta tidak pernah mengajarkan kekerasan sebagai jalan keluar dari persoalan hidup. Sebaliknya, Islam menekankan pentingnya perdamaian, kelembutan, dan sikap saling menghormati dalam hubungan sosial. Kekerasan justru membawa mudarat yang meluas, baik dalam ranah keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia menjauhi perbuatan zalim yang berakar pada kekerasan. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Ayat tersebut menjadi dasar bahwa segala bentuk tindakan melampaui batas, termasuk kekerasan fisik maupun verbal, bertentangan dengan ajaran Islam. Kekerasan tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi orang lain, tetapi juga merusak diri pelaku karena menanamkan benih kebencian, dendam, dan permusuhan.

Rasulullah saw. juga menegaskan pentingnya kelembutan dalam setiap tindakan. Beliau bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan merusaknya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah solusi, melainkan sumber masalah baru. Ketika kelembutan hilang dari interaksi manusia, yang tersisa hanyalah kerusakan dan permusuhan.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kekerasan dapat muncul dalam banyak bentuk. Kekerasan rumah tangga, misalnya, meninggalkan trauma mendalam bagi pasangan maupun anak. Kekerasan di sekolah atau lingkungan kerja juga menurunkan produktivitas, merusak mental, dan menghambat lahirnya generasi sehat. Sementara itu, kekerasan dalam ranah politik dan sosial sering kali melahirkan konflik berkepanjangan, bahkan peperangan. Semua itu membuktikan bahwa kekerasan selalu membawa mudarat dan tidak pernah menghadirkan manfaat.

Baca juga, Menjaga Harmoni dengan Tetangga: Akhlak Sosial yang Diajarkan Nabi

Islam menuntun umatnya untuk mencari jalan damai dalam menyelesaikan konflik. Al-Qur’an mengajarkan:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al-Hujurat: 9)

Ayat ini menegaskan perintah mendamaikan pihak yang bertikai, bukan membiarkan atau menambah api permusuhan. Misi perdamaian ini menjadi landasan moral bagi umat Islam dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Kekerasan juga bertentangan dengan misi Rasulullah saw. yang diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Beliau tidak pernah mengajarkan pemaksaan, melainkan menuntun umat dengan kasih sayang. Sikap lemah lembut beliau terhadap sahabat, musuh, bahkan orang yang menghina sekalipun menjadi teladan nyata bahwa kekerasan tidak dibenarkan.

Lebih jauh, kekerasan tidak hanya berdampak pada dunia, tetapi juga pada kehidupan akhirat. Pelaku kekerasan akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah Swt. Rasulullah saw. mengingatkan:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menekankan bahwa keislaman seseorang tercermin dari kemampuannya menahan diri agar tidak menyakiti orang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatan.

Dengan demikian, jelas bahwa kekerasan hanya membawa mudarat, sedangkan kelembutan menghadirkan maslahat. Jalan yang diridhai Allah Swt. adalah jalan kasih sayang, saling menghargai, dan mengedepankan musyawarah. Masyarakat yang bebas dari kekerasan akan tumbuh menjadi masyarakat yang sehat, beradab, dan berkeadilan.

Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk menjauhi kekerasan dalam bentuk apa pun. Sebagai gantinya, umat harus menumbuhkan budaya dialog, saling mendengar, dan menghargai perbedaan. Hanya dengan cara inilah ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin dapat terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ass Editor : Ahmad; Editor : M Taufiq Ulinuha

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE