Salat Idulfitri di Tangkil Kulon, Khatib Ajak Kembali ke Fitrah Islam

PWMJATENG.COM, PEKALONGAN — Warga Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, memadati halaman Masjid Al Mujahidin untuk melaksanakan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H, Jumat (20/3/2026), dalam suasana khusyuk dan penuh kebersamaan.
Sejak usai salat Subuh, jemaah dari berbagai kalangan telah berdatangan dengan membawa perlengkapan salat. Mereka memenuhi saf-saf yang disiapkan panitia di area terbuka halaman masjid. Salat Id dimulai pukul 06.20 WIB.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Najmuddin Mashuri, Lc., tokoh agama asal Krapyak, Kota Pekalongan.
Takwa Bukan Sekadar Label
Dalam khutbahnya, Najmuddin menegaskan bahwa Idulfitri merupakan momentum untuk meraih ketakwaan yang hakiki. Ia mengingatkan bahwa takwa tidak diukur dari status sosial, harta, maupun sekadar keaktifan dalam kegiatan keagamaan.
Ia juga mengutip Surah An-Nisa ayat 65, yang menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang ditentukan oleh kesediaannya menjadikan Rasulullah sebagai rujukan dalam setiap urusan dan menerima ketentuan tersebut dengan lapang dada.
Waspadai Kerusakan Fitrah
Lebih lanjut, Najmuddin mengingatkan tentang bahaya kerusakan fitrah ketika manusia menjauh dari nilai-nilai Islam. Ia menyoroti berbagai fenomena sosial yang dapat melemahkan moral dan keimanan.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bagaimana kerusakan sosial dapat terjadi ketika kekuasaan, kekayaan, dan otoritas agama tidak dijalankan dengan benar. Karena itu, umat Islam diajak untuk mengambil pelajaran agar tidak terjerumus pada kondisi serupa.
Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah
Menutup khutbahnya, Najmuddin mengajak umat Islam untuk kembali kepada ajaran Islam secara utuh, yakni berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
“Persoalannya sekarang, bagaimana menjadikan diri kita kembali ke fitrah? Jawabannya adalah kembali kepada Islam, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah,” ujarnya.
Usai pelaksanaan salat dan khutbah, kegiatan dilanjutkan dengan tradisi bersalam-salaman antarwarga di halaman masjid sebagai simbol saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Editor: Al-Afasy



