Digembleng Fisik dan Kajian Malam, Puluhan Kader Buktikan Ketangguhan Pencak Silat Muhammadiyah di Blora
PWMJATENG.COM, BLORA — Ketangguhan fisik luar biasa dan penguatan karakter religius menjadi penentu utama kelulusan 51 pesilat remaja dalam Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Pencak Silat Muhammadiyah di Kabupaten Blora, Sabtu hingga Ahad (20–21 Juni 2026). Demi meraih sabuk tingkat baru, para kader Tapak Suci lintas daerah ini tidak hanya bertarung di arena sabung dan menaklukkan rute long march, tetapi juga wajib menuntaskan gemblengan spiritual semalam suntuk di masjid.
Rangkaian Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tapak Suci Putera Muhammadiyah Blora berlangsung ketat di MTs Muhammadiyah 3 Kunduran (Mutakun). Selama dua hari, sebanyak 51 peserta menjalani gemblengan fisik dan mental secara maraton. Pesilat muda dari jenjang MI hingga SMK ini tidak hanya diuji ketangkasan ragawi, tetapi juga pemahaman keagamaan yang mendalam.
Kader Tapak Suci dari wilayah Kunduran, Todanan, Randublatung, Blora, hingga Kabupaten Rembang ini wajib menuntaskan berbagai materi ujian. Tim pelatih menguji penguasaan teknik dasar, keluwesan jurus, hingga keberanian dalam arena sabung. Selain itu, penyelenggara juga menggelar tes mental, jurit malam, dan long march untuk mengukur batas ketahanan fisik dan kedisiplinan peserta.
Keseimbangan Sabuk dan Akhlak
Pendidikan karakter remaja menjadi fokus utama dalam sistem evaluasi pencak silat Muhammadiyah ini. Para peserta tidak hanya ditempa menjadi petarung yang tangguh di lapangan. Panitia mewajibkan seluruh kader untuk mengikuti kajian spiritual di Masjid Mis Anam Kunduran pada malam Ahad. Pembinaan keislaman ini bertujuan mencetak pesilat yang berlandaskan iman, takwa, serta berakhlak mulia.
Ketua Pimpinan Daerah Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kabupaten Blora, Sumarno, S.Pd.I., M.Pd.I., menilai agenda ini lebih dari sekadar evaluasi teknis. Ia menegaskan bahwa pembinaan terpadu ini menjadi fondasi kelangsungan organisasi.
“UKT adalah salah satu ikhtiar untuk menjaga eksistensi dan marwah organisasi. Melalui kegiatan ini, kader Tapak Suci tidak hanya diuji kemampuan beladirinya, tetapi juga mental, kedisiplinan, wawasan keislaman, serta komitmennya terhadap Persyarikatan Muhammadiyah,” tegas Sumarno.
Amanah Berat di Balik Kenaikan Tingkat
Lebih lanjut, kenaikan tingkat dalam Tapak Suci Blora membawa konsekuensi moral yang nyata. Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kunduran, Abdul Hasan, M.Pd., mengingatkan peserta saat membuka acara agar tidak memandang sabuk baru sebagai kebanggaan kosong.
“Tingkat yang diperoleh bukan sekadar simbol, tetapi amanah untuk terus meningkatkan kualitas diri dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan,” ujar Abdul Hasan.
Senada dengan hal itu, Ketua Pimpinan Cabang Tapak Suci Kunduran, Agus Sujitno, S.Pd., memompa semangat para peserta di tengah beratnya tantangan. Ia berharap seluruh pesilat mampu melewati proses panjang ini demi membentuk mentalitas kepemimpinan masa depan.
“Jalani seluruh rangkaian ujian dengan ikhlas, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Proses yang berat akan melahirkan pribadi yang kuat,” pesan Agus.
Antusiasme peserta lintas daerah ini menjadi bukti nyata bahwa roda kaderisasi pencak silat di lingkungan Muhammadiyah terus bergerak. Melalui penggemblengan paripurna ini, organisasi berharap mampu melahirkan generasi penerus yang berintegritas dan siap mengabdi di tengah masyarakat.
Kontributor: Ikhwan Saifudin
Editor: Alafasy



