Muhammadiyah Belum Modern, Jika Baca Tulis Belum Jadi Budaya di Lingkungan Organisasi Muhammadiyah

PWMJATENG.COM, BANJARNEGARA – Muhammadiyah belum modern, jika baca tulis belum jadi budaya di lingkungan organisasi Muhammadiyah. Demikian disampaikan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Drs. Sobri, Sabtu (09/06) di pembukaan Pesantren Jurnalistik Majlis Pusataka dan Informasi (MPI) PDM Banjarnegara.

“Muhammadiyah merupakan organisasi modern. Dan baca tulis merupakan ciri dari peradaban modern tersebut. Karena itu, apabila baca tulis belum menjadi budaya organisasi, maka kemoderenan itu patut dipertanyakan” katanya.

Karena itu, sambungnya, warga Muhammadiyah mestinya rajin baca dan juga rajin menulis. Apalagi budaya baca tulis yang di Muhammadiyah masuk dalam khasanah literasi ini, kata Sobri, telah menjadi bagian dari sejarah awal pendirian Muhammadiyah.

“Budaya literasi kini juga tengah gencar digalakan oleh MPI pusat hingga ke tingkat ranting. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan tulis menulis yang masuk dalam kegiatan bidang MPI” katanya.

Jurnalisme memiliki arti penting bagi Muhammadiyah karena masih jarang aktivis Muhammadiyah yang bergelut di bidang jornalistik. Padahal journalistic ini perannya di era sekarang ini sangat penting karena menyuarakan pesan-pesan organisasi. Informasi akan lebih fair karena berasal langsung dari organisasi, bukan karena penafsiran pihak lain yang cenderung disesuaikan dengan misi dan visi masing-masing media.

“Contoh besar adalah isu terorisme. Pada satu sisi dibesarkan, sedang di sisi lain diminilasir bahkan dihilangkan karena tidak menguntungkan pemilik media. Kondisi ini yang menyebabkan citra Islam kurang menguntungkan karena diindetikan dengan kekerasan” katanya.

Sobri mendorong penuh aktivitas pelatihan journalistic ini, apalagi dilaksanakan dalam masa bulan Ramadhan. Tentunya, kata Dia, penempatan waktu ini tentu ada maksudnya.

“Islam secara jelas mendukung tumbuhnya Budaya baca. Ini dibuktikan ayat Al Quran yang pertama kali turun adalah Iqra “bacalah”. Perintah ini mendapat penguatan ayat lain yaitu Kalam atau perintah untuk menulis” imbuhnya.

Ketua Panitia Pesantren Jurnalistik Ramadhan 1439 H, Eko Budi Rahardjo, mengatakan kegiatan pesantren diikuti oleh 35 peserta. Mereka merupakan pengurus MPI Cabang, Humas Ortom dan juga lembaga di tingkat daerah. Kegiatan, sambungnya, dilaksanakan selama 2 hari yaitu Sabtu – Minggu, 09 – 10 Juni di SD Muhammadiyah 1&4 Banjarnegara.

“Materi pesantren jurnalistik meliputi tiga hal yaitu kehumasan, journalistic online, dan journalism televise. Pengisi materi merupakan professional di bidangnya yaitu contributor RCTI, Metro TV, dan Detik.com” katanya.

Output yang diharapkan, lanjutnya, semua peserta dapat melakukan liputan berita online dan juga berita televise dengan standar profesional. Paling tidak peserta mengetahui dan mengenal parameter professional bekerja.

“Oo..begini to berita yang dimuat di Metro…Oo..yang seperti ini untuk RCTI..yang kayak ini untuk Detik.com” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, waktu untuk praktek diperbanyak. Praktek peliputan dilaksanakan selama 2 hari. Bahkan untuk hari pertama praktek peliputan berita dilaksanakan hingga pukul 01.00 dinihari.

“Jurnalisme ini erat dengan penugasan cepat dan juga batas waktu pengiriman berita. Praktek sampai malam ini dimaksudkan sebagai simulai kondisi sebenarnya. Harapannya tentu lahir journalis-journalis Muhammadiyah yang tertempa matang” katanya. (**eKobr)