Kuliah Praktisi UNIMUS Bedah Terapi Komplementer untuk Gangguan Pernapasan
PWMJATENG.COM, SEMARANG – Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang kembali memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang pelayanan kesehatan klinis. Kampus ini menguji dan membedah inovasi keperawatan melalui kuliah praktisi UNIMUS bertajuk Evidence-Based Nursing Practice Terapi Komplementer pada Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Pernapasan secara daring, Sabtu (17/10/2026).
Acara ini menghadirkan Ns. Sandra Andini, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., seorang praktisi keperawatan dari RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Selain itu, ratusan mahasiswa dari Program Studi D3 Keperawatan dan S1 Ilmu Keperawatan antusias menyimak pemaparan materi serta sesi diskusi interaktif.
Memperkuat Praktik Keperawatan Berbasis Bukti
Sementara itu, Ketua Program Studi D3 Keperawatan, Dr. Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan tujuan utama agenda tersebut. Menurutnya, panitia merancang kuliah praktisi UNIMUS ini khusus untuk menjembatani teori akademik dengan realitas pelayanan klinis sehari-hari.
“Mahasiswa keperawatan tidak boleh hanya mengandalkan teori formal. Sebaliknya, mereka harus terbiasa mencari bukti ilmiah terbaik dan mengintegrasikannya ke dalam kebutuhan pasien,” ujar Yunie.
Oleh karena itu, Yunie menambahkan bahwa perkembangan dunia medis menuntut perawat masa kini untuk berpikir kritis. Akibatnya, perawat tidak boleh mengambil intervensi keperawatan sekadar dari rutinitas harian. Sebaliknya, setiap tindakan wajib memiliki landasan ilmiah yang aman, efektif, serta terukur.
Kedudukan Terapi Komplementer dalam Pelayanan Klinis
Selanjutnya, dalam pemaparan utamanya, Sandra menekankan posisi penting terapi komplementer keperawatan. Ia mengingatkan bahwa metode ini berkedudukan sebagai pendamping terapi konvensional, bukan pengganti pengobatan medis utama.
“Terapi komplementer hadir untuk melengkapi tindakan medis standar agar hasil perawatan pasien optimal. Namun, tenaga medis tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas paling utama,” jelas Sandra.
Di samping itu, Sandra menguraikan keunggulan pendekatan holistik dalam asuhan keperawatan gangguan pernapasan. Lebih jauh, ia memacu perawat untuk tidak hanya memulihkan gangguan fisik semata. Sebaliknya, perawat wajib memperhatikan aspek psikologis, sosial, hingga spiritual pasien secara seimbang.
Tiga Pilar Keputusan Klinis Perawat
Kemudian, Sandra menjelaskan prinsip dasar evidence-based nursing (EBN) dalam praktik medis. Menurutnya, tenaga kesehatan tidak bisa menerapkan bukti ilmiah begitu saja secara seragam kepada semua orang.
Sebab, penerapan EBN harus mempertemukan tiga pilar utama. Pilar tersebut meliputi bukti riset terbaik, keahlian klinis tenaga kesehatan, serta nilai dan kebutuhan personal pasien. Oleh sebab itu, pendekatan inilah yang membentuk pelayanan berpusat pada pasien (patient-centered care).
Hasilnya, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap tindakan keperawatan membutuhkan alasan ilmiah yang kuat. Dengan demikian, perawat dapat mengetahui kapan dan untuk siapa suatu terapi aman meluncur.
Penerapan SOP dan Keselamatan Pasien
Sementara itu, sesi diskusi berlangsung hidup saat mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan, Qurota Ani, menanyakan standar operasional prosedur (SOP) terapi komplementer di rumah sakit. Sesi ini memperjelas kewenangan klinis serta tata kelola intervensi medis.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Sandra menegaskan pentingnya ketaatan terhadap aturan fasilitas kesehatan. Karena itu, setiap perawat wajib memastikan tindakan medis berada dalam koridor kompetensi resmi serta tidak berbenturan dengan terapi utama.
Akhirnya, melalui penyelenggaraan kuliah praktisi UNIMUS ini, pihak kampus terus melahirkan lulusan keperawatan yang adaptif dan responsif. Dampaknya, calon perawat unggulan ini siap menutup celah antara riset ilmiah dan kenyataan praktik keperawatan di masyarakat.
Kontributor: Prima Trisna Aji
Editor: Akmal



