Pakar Dunia Soroti Pentingnya Integrasi Agama dalam Penanganan Depresi di UMS

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Pakar kesehatan mental internasional menegaskan pentingnya integrasi agama dalam penanganan depresi pada Seminar on Religion and Mental Health yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Senin (30/3).
Prof. Dr. Ghazala Mir dari Nuffield Centre for International Health and Development, University of Leeds, mengatakan depresi kini menjadi penyebab utama disabilitas global. Karena itu, intervensi dini perlu menjadi prioritas dalam kebijakan kesehatan internasional.
Ia menyoroti tingginya angka depresi pada populasi Muslim, khususnya di Inggris, Pakistan, dan Indonesia. Menurutnya, prevalensi masalah kesehatan mental berada pada kisaran 30 hingga 50 persen pada kelompok pemuda. Namun, akses terhadap layanan kesehatan mental yang relevan secara budaya masih terbatas.
“Pendekatan dalam penanganan depresi perlu diperbaiki dengan tidak hanya mengandalkan intervensi klinis, tetapi juga memperkuat program edukasi bagi tenaga kesehatan agar mampu memberikan terapi yang efektif sekaligus sensitif terhadap nilai budaya dan agama,” kata Ghazala Mir.
Ia menegaskan, bagi banyak Muslim, agama merupakan bagian utama identitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendekatan terapi yang peka terhadap nilai keimanan dinilai mampu menurunkan tingkat depresi sekaligus meningkatkan kesejahteraan individu.
Salah satu metode yang digunakan ialah Behavioral Activation, yakni pendekatan yang berfokus pada aktivitas berbasis nilai individu dan dapat diadaptasi sesuai kebutuhan pasien Muslim.
Menurut Ghazala, di banyak negara Barat agama kerap tidak dipandang sebagai kerangka nilai yang valid dalam sains modern. Akibatnya, banyak praktisi kesehatan mental belum memiliki kompetensi untuk mengintegrasikan nilai religius ke dalam terapi.
“Hal ini menjadi hambatan dalam memberikan layanan yang relevan,” ujarnya.
Dalam pengembangan intervensi tersebut, timnya memakai kerangka kerja Medical Research Council, mulai dari kajian literatur, adaptasi budaya, uji coba awal, hingga implementasi dalam skala luas. Program itu dikenal sebagai Behavioral Activation for Muslim (BAM), yang mendorong individu aktif dalam proses pemulihan dengan prinsip usaha dan tawakal.
Hasil implementasi program BAM menunjukkan capaian signifikan. Tingkat pemulihan disebut mencapai 81 persen di Leeds, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional Inggris. Selain itu, pasien yang mengikuti program ini juga menunjukkan keterlibatan lebih tinggi serta penurunan skor depresi secara signifikan.
“Ke depan, program ini akan terus dikembangkan melalui kemitraan global, termasuk dengan UMS,” pungkasnya.
Penguatan Psikologi Islam
Sementara itu, Prof. Dr. Shukran bin Abdurrahman dari International Islamic University Malaysia (IIUM) menekankan pentingnya penguatan psikologi berbasis Islam yang tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi juga dapat diterapkan dalam pendidikan dan praktik profesional.
Ia menilai psikologi Islam harus bersifat transformatif dan berlandaskan nilai etika serta spiritualitas. Untuk itu, ia memperkenalkan kerangka E-OAT, yang mencakup epistemologi, ontologi, aksiologi, dan teleologi, sebagai dasar pengembangan psikologi Islam.
Dalam pandangannya, pengetahuan tidak hanya bersumber dari pendekatan empiris dan rasional, tetapi juga dari wahyu. Dengan demikian, pemahaman tentang manusia menjadi lebih utuh.
“Saya menyoroti adanya kesenjangan dalam psikologi Islam, mulai dari aspek metodologis, ontologis, hingga aksiologis dan teleologis,” ungkapnya.
Shukran menambahkan, pendidikan psikologi seharusnya tidak hanya berfokus pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran spiritual, dengan pendidik berperan sebagai murabbi.
Ia juga menawarkan visi pendidikan terintegrasi yang dapat membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran ketuhanan dan kepedulian sosial.
“Pendekatan ini diharapkan dapat diwujudkan dalam kurikulum, proses pembelajaran, hingga sistem evaluasi pendidikan,” katanya.
Kesadaran Jadi Kunci Kesehatan Mental
Di sisi lain, Dr. Bagus Riyono dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjelaskan bahwa kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran individu.
Ia memaparkan manusia terdiri atas empat komponen utama, yakni diri, hati, pikiran, dan jiwa. Keempatnya saling terhubung dalam membentuk perilaku.
“Kesadaran menentukan cara seseorang memandang realitas, yang kemudian membentuk pola pikir, emosi, hingga perilaku,” terang Bagus.
Ia juga menjelaskan empat level kesadaran, mulai dari pengindraan, penalaran, empati, hingga hati nurani. Menurutnya, level tertinggi menghubungkan manusia dengan nilai spiritual dan ketuhanan.
Bagus menekankan bahwa gangguan perilaku berakar dari gangguan emosi yang dipicu oleh distorsi kognitif akibat kesalahan dalam mempersepsikan realitas.
“Oleh karena itu, peningkatan kesadaran menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental secara menyeluruh, termasuk aspek spiritual,” pesannya.
Seminar internasional bertajuk Seminar on Religion and Mental Health: Training on Culturally Adapted Behavioral Activation for Muslim Population (BAM) ini diselenggarakan oleh University of Leeds bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UMS di ruang seminar lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah UMS.
Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi akademik internasional dalam mengembangkan pendekatan kesehatan mental yang integratif antara ilmu psikologi dan nilai-nilai keislaman. Seminar ini juga memperkuat peran UMS sebagai pusat pengembangan keilmuan yang responsif terhadap isu global dan kebutuhan masyarakat Muslim.
Kontributor: Yusuf
Editor: Al-Afasy



