Berita

1,4 Juta Siswa Terpapar Asap: Dampak Karhutla pada Anak Kian Mengkhawatirkan

PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA — Dampak karhutla pada anak makin mengkhawatirkan. Lebih dari 1,4 juta siswa di Sumatra dan Kalimantan terpaksa belajar dari rumah akibat kabut asap tebal. Menghadapi krisis darurat kesehatan ini, Asosiasi Sekolah Sirkular Indonesia (ASSI) mendesak pemerintah agar memprioritaskan hak anak atas udara bersih.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat fakta baru. Sebanyak 12.874 satuan pendidikan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena dampak karhutla pada anak mengancam kesehatan. Mirisnya, sebanyak 1.365 sekolah di antaranya berada di daerah tanpa aliran listrik. Proses belajar-mengajar di wilayah tersebut praktis terhenti total.

“Berikan kami napas agar belajar kami berkualitas,” kata Ketua ASSI sekaligus Kepala SD Daarul Hikmah Bandung, Iwan Kurniawan. Ia merespons ancaman dampak karhutla pada anak sekolah yang terus berulang setiap tahun.

Iwan menegaskan bahwa bencana tahunan ini membuktikan pendidikan lingkungan belum menyentuh akar kelestarian alam. Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Para siswa mengalami penurunan konsentrasi dan kelelahan fisik akibat paparan polusi.

“Lindungi anak-anak, jaga lingkungan, dan pastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan hak belajar karena bencana,” tegas Anggota ASSI dari SMPN 2 Tanjung Palas, Yoyok Ardianto.

Ancaman ISPA Balita dan Polusi Udara Ekstrem

Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis data terbaru. Kebakaran lahan gambut telah mencapai 72.009 hektare di enam provinsi utama. Kebakaran meluas hingga Sulawesi dan Papua. Bencana ini bahkan memicu kabut asap lintas batas ke Malaysia dan Singapura.

Peningkatan paparan asap berbanding lurus dengan lonjakan kasus ISPA balita karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut di kawasan terdampak. Lebih dari 40 ribu kasus menyerang kelompok balita secara langsung.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya menembus angka ekstrem 3.970. Angka itu jauh melampaui batas berbahaya 300. Puncak kadar partikel halus PM2.5 di kota tersebut mencapai 2.272 mikrogram per meter kubik. Kondisi itu setara dengan menghirup 100 batang rokok sehari bagi anak-anak.

“Kita bicara Indonesia Emas 2045, tetapi mungkinkah tercapai jika anak-anak belajar sambil menghirup asap?” ujar Iwan mengingatkan bahaya laten krisis lingkungan ini.

Desakan Tindakan Nyata dan Pencegahan Karhutla

Aksi nyata perlindungan lingkungan mulai bergerak dari lingkup jaringan sekolah. Para pendidik bahkan turun tangan memadamkan api di Taman Nasional Way Kambas. Namun, solusi mendasar tetap memerlukan kehadiran penuh negara dalam penegakan hukum dan pencegahan.

ASSI menyuarakan tuntutan penting agar pemerintah menjamin PJJ tidak memicu ketertinggalan kualitas belajar. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas perlindungan kesehatan dan menindak tegas para pelaku pembakaran hutan.

“Investasi terbaik bangsa ini bukan pada eksploitasi lahannya. Pemerintah wajib menjamin setiap anak Indonesia bisa menghirup udara bersih dan belajar dengan aman,” pungkas Ainul Huri, tokoh pendidik dari Salatiga.

Kontributor: Kinta Erstuputri Herawan
Editor: Akmal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor