Berita

Cerita Idul Adha 2026: Kisah Pemuda di Jepara yang Berjibaku Sejak Jam 3 Pagi demi Ribuan Jemaah Salat Id

PWMJATENG.COM, JEPARA — Aksi heroik sekelompok anak muda yang nekat menembus dinginnya dini hari sejak pukul 03.00 WIB menjadi cerita Idul Adha 2026 paling inspiratif, saat ribuan umat Muslim memadati lokasi Salat Id di Lapangan Desa Plajan, Pakis Aji, Jepara, Rabu (27/5/2026).

Apresiasi tinggi langsung mengalir dari Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pakis Aji, H. Achmad Nasir. Dia mengaku sangat bangga melihat kepedulian generasi muda terhadap kelancaran ibadah umat.

“Pemuda Muhammadiyah luar biasa menyiapkan untuk salat idul adha pukul 03.00 WIB saya lihat di lokasi sudah angkat peralatan seperti sound sistem, mereka kompak dalam bekerja dan yang lebih menggembirakan jemaah semakin bertambah jumlahnya dan semangatnya,” terang H. Achmad Nasir dengan nada penuh syukur.

Kekompakan pemuda ini terbukti membuahkan hasil manis. Sejak subuh, Lapangan Desa Plajan mulai padat oleh lautan jemaah. Sinergi yang apik di lapangan membuat prosesi ibadah berjalan sangat tertib dan khidmat.

Falsafah Kurban dalam Konteks Kekinian

Dalam pelaksanaan Salat Idul Adha di Jepara kali ini, Ustaz Andi Putra dari Jepara Islamic Centre (JIC) bertindak sebagai imam. Sementara itu, H. Achmad Nasir selaku khatib menyampaikan khutbah yang menyentuh hati jemaah. Dia mengajak masyarakat untuk memetik tiga falsafah kurban dalam konteks kehidupan modern.

“Pertama-tama, marilah kita bersyukur kepada Allah, Alhamdulillah, atas nikmat dan karuniaNyalah, di pagi hari yang cerah ini, 10 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2026 M, kita masih diberi nafas kehidupan untuk meningkatkan kadar ketaqwaan kita kepada Allah,” kata H. Achmad Nasir di mimbar khutbah.

Menurut Nasir, esensi ibadah kurban harus berdampak nyata pada lingkungan sosial terdekat. Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kembali solidaritas antarsesama warga.

Membangun Ketahanan Bangsa dari Keluarga

Lebih lanjut, Nasir menegaskan bahwa peningkatan ketakwaan harus bermula dari unit terkecil masyarakat. Karakter pemuda yang tangguh dan kompak di lapangan menjadi cerminan keberhasilan pendidikan karakter di dalam keluarga. Dari keluarga yang taat inilah, tatanan bangsa yang kuat akan tercipta.

“Ketakwaan ini harus kita mulai dari diri dan keluarga kita. Karena dari keluarga-keluarga yang bertakwa inilah akan lahir masyarakat dan bangsa yang bertakwa. Sehingga negeri Indonesia menjadi negeri yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang alamnya banyak memberikan kebaikan dan semua masyarakatnya berprilaku baik,” pungkas H. Achmad Nasir.

Suasana ibadah di Lapangan Plajan juga tampak semakin inklusif. Petinggi Desa Plajan, H. Kartono, hadir langsung berbaur di tengah jemaah. Ribuan jemaah yang memadati lokasi berasal dari jemaah Muhammadiyah Plajan bagian utara, santri JIC, hingga jemaah tamu dari Desa Tanjung.

Sebagai informasi, pemetaan lokasi ibadah oleh Muhammadiyah Pakis Aji memang dibuat menyebar demi kenyamanan warga. Selain di Lapangan Plajan, jajaran PCM Pakis Aji juga menggelar Salat Idul Adha 1447 H di dua lokasi strategis lain, yaitu di Lapangan Slagi (PRM Slagi) dan Halaman Masjid At-Taqwa Tirat.

Kontributor : Edi Sulton
Editor:  Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://aku.ac.id/https://akperstg.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/