Anggaran Perpusnas 2026 Dipangkas saat Minat Baca Naik, Pakar UMS Buka Suara
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Kebijakan pemerintah memangkas anggaran Perpusnas 2026 menuai kritik keras dari kalangan akademisi. Pemangkasan ini berpotensi menghambat laju peningkatan budaya literasi nasional yang justru sedang menunjukkan tren positif.
Kepala Bidang Pengelolaan dan Layanan Digital UPT Perpustakaan UMS, Hardika Dwi Hermawan, menilai kebijakan efisiensi ini sangat memprihatinkan. Menurutnya, keputusan tersebut menyangkut masa depan investasi sumber daya manusia Indonesia.
“Saat minat baca dan literasi mulai meningkat, pemerintah justru memangkas program distribusi buku yang menjadi motor penggeraknya pada tahun 2026. Ini bukan sekadar soal anggaran ketat, melainkan memotong program yang sedang berhasil,” tegas Hardika, Kamis (30/7/2026).
Capaian Literasi Nasional yang Terancam
Sebelumnya, berbagai indikator internasional menempatkan tingkat literasi Indonesia pada posisi bawah. Pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam indeks minat baca dunia. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) juga menempatkan kemampuan membaca Indonesia di posisi 62 dari 70 negara.
Namun, kondisi tersebut mulai membaik dalam empat tahun terakhir. Data Perpusnas mencatat tingkat kegemaran membaca naik dari angka 55,74 pada 2020 menjadi 72,44 pada 2024. Program distribusi lebih dari 10 juta eksemplar buku ke daerah-daerah menjadi kunci utama lonjakan tersebut.
Melihat ancaman kemunduran akibat efisiensi anggaran Perpusnas 2026, Hardika menyodorkan sejumlah rekomendasi konkret. Ia mendesak pemerintah menetapkan anggaran literasi sebagai mandatory spending dalam APBN agar tidak mudah dipotong. Selain itu, pemerintah harus memperkuat rantai distribusi buku hingga ke wilayah pedesaan dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Inisiatif Perguruan Tinggi dan Bebas Pajak Buku
Di tengah ketidakpastian dukungan pusat, kampus seperti UMS terus bergerak secara mandiri. Perpustakaan UMS konsisten menggelar program UMS Library Corner dengan merangkul sekolah-sekolah di Surakarta. Langkah outreach ini bertujuan membawa layanan literasi langsung ke tengah masyarakat.
Kampus ini juga memacu minat baca lewat Library Literacy Festival, gerakan membaca 10 menit setiap Senin, hingga ajang Biblio Battle. Seluruh rangkaian acara tersebut mengemas budaya membaca menjadi lebih interaktif dan menyenangkan bagi mahasiswa.
Tak hanya mengkritisi anggaran Perpusnas 2026, Hardika menekankan pentingnya insentif fiskal berupa penghapusan pajak buku. Pembebasan pajak akan menekan harga buku di pasaran, meningkatkan daya beli masyarakat, sekaligus menyuburkan ekosistem penulisan nasional.
Peran Perpustakaan di Era Kecerdasan Buatan
Hardika menambahkan bahwa keberadaan perpustakaan tetap tidak tergantikan, bahkan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kehadiran AI memang memberi jawaban secara cepat, namun perpustakaan membentuk kecerdasan kritis masyarakat.
Melalui perpustakaan, publik belajar menyeleksi informasi serta memilah fakta dari disinformasi. Oleh karena itu, penurunan alokasi pada anggaran Perpusnas 2026 bukan sekadar mengurangi jumlah fisik buku.
Kebijakan tersebut secara langsung menutup akses pengetahuan generasi muda. Perpustakaan adalah fondasi utama infrastruktur pengetahuan untuk membangun manusia Indonesia yang tangguh.
Kontributor: Fika
Editor: Al-Afasy



