Muhammadiyah Zakat Summit 2026 Semarang Dorong Integrasi ESG dan Investasi Hijau untuk Filantropi Islam
PWMJATENG.COM, SEMARANG — Gelaran Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Kota Semarang resmi dibuka pada Jumat (6/11/2026). Forum keilmuan filantropi Islam ini membahas penguatan tata kelola lembaga zakat secara komprehensif. Selain itu, para pakar menyoroti pentingnya adopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta investasi hijau.
Acara utama ini berlangsung di Hotel Dafam, Semarang, Jawa Tengah. Panitia mengusung tema penguatan tata kelola terintegrasi menuju filantropi Islam yang berkelanjutan.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, M.IR., menyampaikan sambutan pada awal acara. Forum ini sengaja hadir sebagai ruang diskusi ilmiah dan pertukaran gagasan. Oleh karena itu, para peserta dapat mempelajari praktik baik pengelolaan zakat untuk meningkatkan kualitas kelembagaan.
Integrasi ESG dan Investasi Hijau dalam Filantropi
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief, M.A., Ph.D., memaparkan materi utama tentang penguatan ESG. Ia menegaskan bahwa integrasi ESG mampu mempertemukan standar keberlanjutan global dengan nilai maqashid syariah.
Selanjutnya, Hilman menawarkan empat langkah strategis untuk menguatkan lembaga zakat. Langkah tersebut mencakup integrasi ESG, inovasi pembiayaan sosial, standardisasi pengukuran dampak, serta penguatan audit kelembagaan.
“Pengelola dana dapat memilih skema pembiayaan campuran (blended finance) dan sukuk hijau. Kedua instrumen investasi hijau ini sangat efektif untuk mendukung program lingkungan hidup,” jelas Hilman.
Ia juga menekankan pentingnya pengukuran dampak program secara berkala. Menurutnya, pengurus Lazismu harus mengukur keberhasilan lembaga dari perubahan nyata di masyarakat. Selain itu, kombinasi audit syariah dan audit ESG menjadi kunci utama untuk menjaga transparansi lembaga.
Sinergi Pendidikan, Perubahan Perilaku, dan Keuangan Inklusif
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., turut mengisi sesi pemaparan utama. Ia membahas hubungan erat antara sektor pendidikan dan kegiatan filantropi Islam. Pemaparan tersebut menempatkan pendidikan sebagai pilar utama untuk meningkatkan kesejahteraan umat.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D., menganalisis perubahan perilaku masyarakat muslim dalam berderma. Hasil analisis tersebut memberikan arah baru bagi pengembangan operasional lembaga zakat.
Pada sesi akhir, Wakil Ketua Lazismu Jawa Tengah, Dr. Sukamto, S.E., M.Si., melengkapi pembahasan forum. Ia menjelaskan peran filantropi Islam dalam memperluas akses masyarakat terhadap ekosistem keuangan syariah.
Rekomendasi Strategis Muhammadiyah Zakat Summit 2026
Rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Semarang ini sukses mempertemukan berbagai gagasan strategis. Diskusi ini menyatukan aspek kelembagaan, pendidikan, perilaku berderma, dan pembiayaan sosial dalam satu wadah.
Hasil simposium ini akan menghasilkan rekomendasi strategis serta penerbitan buku dan artikel ilmiah. Dengan demikian, kolaborasi riset ini dapat memperkuat posisi Lazismu ke depan.
Melalui seluruh luaran tersebut, Muhammadiyah Zakat Summit 2026 optimistis mampu mendorong Lazismu menjadi lembaga filantropi yang profesional, akuntabel, dan berdampak luas.
Editor: Akmal



