Kuliah vs Organisasi Mana yang Utama? Alumni PAI UMS Ungkap Strategi Filosofi Teras
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Mahasiswa kerap terjebak dalam dilema klasik antara memprioritaskan kuliah vs organisasi demi masa depan karir. Menjawab persoalan tersebut, Alumni Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membagikan strategi khusus mengendalikan waktu menggunakan pendekatan Filosofi Teras.
Langkah konkret membedah polemik kuliah vs organisasi ini mengemuka dalam Diskusi Ilmiah PAI Internasional UMS di Penyetan Sawah, Surakarta, Senin (27/10/2026). Forum bertajuk “Kakak Alumni” yang menghadirkan puluhan peserta ini menghadirkan pembicara utama Hamka Al Hakim, alumnus PAI UMS sekaligus Master of Islamic Studies UII.
Ketua Program Studi PAI UMS, Mohammad Zakki Azani, Ph.D., menegaskan bahwa kampus ingin mencetak lulusan dengan kemampuan utuh. Menurut Zakki, ruang dialog bersama alumni sangat krusial agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja setelah lulus.
“Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan nilai akademik. Pengalaman, relasi, dan kemampuan komunikasi di luar kelas menjadi modal penting masa depan,” ujar Zakki dalam sambutannya.
Sejalan dengan hal itu, Sekretaris Prodi PAI Internasional UMS, Nurul Latifatul Inayati, M.Pd.I., menyebutkan bahwa forum ini memberi ruang refleksi bagi mahasiswa. Melalui diskusi ini, pengelola prodi mendorong mahasiswa menyusun tips manajemen waktu mahasiswa secara terukur.
Menerapkan Filosofi Teras untuk Menjaga IPK
Memasuki sesi inti, Hamka Al Hakim langsung menyoroti fenomena dilematis terkait kuliah vs organisasi. Ia mengamati banyak mahasiswa aktif organisasi justru mengorbankan IPK, sementara mahasiswa yang hanya mengejar IPK malah minim relasi.
Untuk menyelaraskan kedua hal tersebut, Hamka menyodorkan konsep Filosofi Teras mahasiswa yang membagi fokus pada hal-hal di dalam kendali diri. Mahasiswa memegang kendali penuh atas manajemen waktu, respons emosi, dan ketegasan sikap.
“Kita bisa mengendalikan waktu belajar dan keputusan diri. Namun, standar dosen serta dinamika organisasi berada di luar kendali kita, jadi jangan menghabiskan energi di sana,” kata Hamka.
Guna menerapkan teori tersebut, Hamka menyarankan teknik timeboxing dan penyelesaian tugas kuliah lebih awal. Ia juga mengimbau mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan (GenAI) secara bijak untuk membantu riset akademis.
Lepas dari Stereotip Kura-Kura dan Kupu-Kupu
Selain timeboxing, Hamka menekankan pentingnya berani menetapkan batasan dalam berorganisasi. Mahasiswa harus berani menolak agenda atau rapat organisasi yang tidak efisien demi menjaga fokus belajar.
“Tidak semua agenda rapat wajib Anda ikuti. Kita harus belajar memilah mana agenda yang benar-benar penting dan mana yang bisa kita delegasikan,” tegasnya.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak perlu lagi terjebak dalam dikotomi mahasiswa “kura-kura” (kuliah-rapat) atau “kupu-kupu” (kuliah-pulang). Keseimbangan antara kuliah vs organisasi dapat terwujud secara konsisten melalui langkah-langkah kecil yang disiplin.
“Sinergi akademik dan organisasi tidak tercipta dalam semalam. Konsistensi harian menjadi kunci utama keberhasilan Anda,” pungkas Hamka menutup sesi diskusi.
Kontributor: Fika
Editor: Akmal



