Berita

Pelatihan Al-Qur’an Mujawwad ‘Aisyiyah Makamhaji Cetak Kader Unggul Bersama Mahasantri Shabran UMS

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Majelis Tabligh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Makamhaji Kartasura terus memperkuat kualitas seni tilawah warga persyarikatan. Organisasi keagamaan ini menggelar Pelatihan Al-Qur’an Mujawwad ‘Aisyiyah pertemuan kelima di Makamhaji, Kartasura, Jumat (23/10/2026).

Kegiatan pembinaan Al-Qur’an tersebut menghadirkan mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad Fitriyanor, sebagai pengajar utama. Kolaborasi strategis ini bertujuan mencetak kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang mahir melantunkan ayat suci secara indah dan benar.

Krisis Kader Qari dan Pentingnya Regenerasi

Ketua Majelis Tabligh PRA Makamhaji, Dr. Siti Rahmawati, S.Ag., M.Psi., memfasilitasi langsung program ini di kediamannya. Ia menegaskan bahwa Pelatihan Al-Qur’an Mujawwad ‘Aisyiyah berangkat dari keprihatinan atas minimnya kader yang siap tampil membaca Al-Qur’an berlagu dalam berbagai agenda syiar.

“Saya prihatin ketika acara-acara kita kalah dengan organisasi lain. Suara pembaca mereka sangat bagus, sedangkan kader kita masih sangat minim. Kita sering kesulitan mencari qari dan sosoknya selalu orang yang sama,” ujar Rahmawati.

Selanjutnya, akademisi tersebut menekankan bahwa faktor usia tidak boleh menjadi penghalang untuk belajar seni tilawah. Warga persyarikatan perlu terus membuka diri untuk mengasah potensi membaca Al-Qur’an secara tartil maupun mujawwad.

Selain itu, Rahmawati mengingatkan para alumni dan Mahasantri Shabran UMS agar selalu mengamalkan ilmu di tengah masyarakat. Menurutnya, proses kaderisasi tidak pernah berhenti hanya setelah mahasiswa menyelesaikan masa studi sarjana.

“Setelah mendapat gelar, kita sebenarnya tidak berhenti di situ. Momen tersebut justru menjadi awal langkah untuk memulai pengabdian dan karier yang nyata,” tambahnya.

Penyederhanaan Teknik Mujawwad untuk Peserta

Pada kesempatan yang sama, pengajar pelatihan, Muhammad Fitriyanor, membagikan pengalamannya selama membimbing para peserta. Mahasantri asal Kapuas, Kalimantan Tengah, ini mengaku terdorong oleh semangat tinggi warga ‘Aisyiyah dalam mempelajari Al-Qur’an.

“Ketika ada warga yang semangat belajar tetapi tidak ada yang memfasilitasi, hal itu sangat disayangkan. Melihat semangat belajar yang tinggi ini, saya merasa wajib hadir mendampingi,” kata Fitriyanor.

Meski demikian, Fitriyanor mengakui adanya tantangan teknis saat menyesuaikan ritme bacaan mujawwad dengan kondisi fisik peserta. Ia memfokuskan latihan pada pengaturan napas serta variasi nada agar peserta tidak merasa terbebani.

Oleh karena itu, pengajar muda ini memilih strategi penyederhanaan cengkok lagu. Metode tersebut membantu para peserta menguasai variasi nada secara bertahap dan percaya diri.

“Kami menyederhanakan variasi nada di sini. Cengkok-cengkok rumit saya buat lebih simpel supaya para peserta merasa mudah dan nyaman saat belajar,” terangnya.

Melestarikan Seni Al-Qur’an dan Harapan Masa Depan

Sementara itu, salah satu peserta program, Dra. Muslihah, menyambut positif keberadaan Pelatihan Al-Qur’an Mujawwad ‘Aisyiyah ini. Alumni Pondok Shabran tersebut menilai bahwa kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk melestarikan seni membaca Al-Qur’an.

“Saya ingin melestarikan seni bacaan ini agar lantunan Al-Qur’an bisa kita nikmati dan rasakan di dalam hati. Ada keindahan seni yang bisa menyentuh jiwa saat kita membacanya dengan benar,” tutur Muslihah.

Lebih lanjut, Muslihah berharap program pembinaan ini terus berkembang pesat dan menjangkau lebih banyak anggota. Dengan demikian, semakin banyak kader yang mampu melantunkan ayat suci secara merdu dan menginspirasi.

Sebagai penutup, Siti Rahmawati optimistis bahwa Pelatihan Al-Qur’an Mujawwad ‘Aisyiyah akan melahirkan banyak kader siap pakai. Ke depan, persyarikatan tidak akan lagi kekurangan pembaca Al-Qur’an berkualitas saat menggelar berbagai kegiatan besar keagamaan.

Kontributor: Anqiya Zaki Mushoddiq
Editor: Akmal

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pkv gameslk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777Zonawin777Zonawin777situs totoslot gacor