Dosen Psikologi UMS Bedah Keterikatan Intuisi, Memori, dan Emosional dalam Interaksi Sosial
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Pernahkah Anda mendadak teringat seseorang, lalu tak lama kemudian orang tersebut menghubungi atau muncul di hadapan Anda? Banyak orang menganggap fenomena unik ini sebagai pertanda batin bahwa dia juga sedang merindukan Anda. Namun, ilmu psikologi sebenarnya dapat menjelaskan pertanyaan mengenai memikirkan seseorang apakah dia juga memikirkan kita secara ilmiah.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Audi Ahmad Rikardi, S.Psi., M.A., memberikan penjelasan tegas mengenai mitos tersebut. Ia menegaskan bahwa pikiran tentang seseorang tidak serta-merta membuktikan adanya hubungan timbal balik secara psikologis.
“Kalau secara ilmiah, belum ada buktinya ketika kita memikirkan seseorang, orang tersebut juga sedang memikirkan kita,” ujar Audi saat memberikan keterangan, Jumat (16/10/2026).
Menurut Audi, pikiran manusia murni merupakan bagian dari proses internal individu. Meskipun seseorang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan orang lain, hal itu tidak otomatis membuat aktivitas otak kedua individu berlangsung secara bersamaan.
Ia menambahkan, ketika peristiwa teringat seseorang bertepatan dengan kedatangan orang tersebut, kondisi itu lebih tepat sebagai kebetulan semata. Kebetulan ini bukan pertanda adanya koneksi batin langsung yang ajaib.
Peran Intuisi dan Mekanisme Otak Manusia
Banyak orang mengaitkan fenomena memikirkan seseorang apakah dia juga memikirkan kita dengan intuisi atau firasat. Dalam ilmu psikologi, intuisi sebenarnya merupakan salah satu cara alami manusia untuk membuat keputusan cepat.
Audi mengaitkan proses intuisi ini dengan konsep System 1 dan System 2 dalam berpikir. System 1 bekerja secara cepat, emosional, serta tidak membutuhkan penalaran mendalam. Sebaliknya, System 2 bekerja secara lambat, kritis, dan membutuhkan pertimbangan matang.
“Intuisi masuk ke dalam sistem satu karena sifatnya yang cepat, emosional, dan juga dangkal,” jelas Audi. Oleh sebab itu, intuisi hanya berfungsi sebagai pertimbangan awal dan bukan menjadi bukti kebenaran suatu peristiwa.
Selain intuisi, otak manusia secara alamiah memang terus mencari pola dari setiap kejadian. Dalam perspektif psikologi evolusioner, kemampuan mengenali pola ini membantu manusia bertahan hidup dari ancaman lingkungan sejak zaman dahulu.
Namun, kecenderungan mencari pola ini kerap memicu fenomena illusory correlation. Otak manusia secara tidak sadar menghubungkan dua peristiwa yang sebenarnya tidak memiliki hubungan sebab-akibat sama sekali.
Pengaruh Confirmation Bias dan Budaya
Kecenderungan manusia untuk percaya bahwa memikirkan seseorang apakah dia juga memikirkan kita juga makin kuat akibat adanya fenomena confirmation bias. Pola pikir ini membuat seseorang hanya fokus pada kejadian yang mendukung keyakinannya saja.
“Pola-pola baru tidak kita ambil. Kita hanya mengambil pola yang sudah kita pelajari dan yakini, nah itu masuk ke dalam confirmation bias,” tegas Audi.
Akibatnya, saat perkiraan kita kebetulan benar, kita akan sangat mudah mengingat kejadian itu. Sementara itu, otak akan melupakan begitu saja ratusan momen ketika kita teringat seseorang namun orang tersebut tidak menghubungi.
Faktor kebiasaan budaya turut membentuk cara masyarakat memaknai fenomena ini. Masyarakat sering memakai kepercayaan lokal seperti telinga terasa panas atau kupu-kupu masuk rumah untuk memberikan arti pada perasaan teringat seseorang.
Audi mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menelan mentah-mentah fenomena hubungan sosial hanya dari potongan konten media sosial, lagu, atau film. Realitas hubungan antarmanusia di dunia nyata jauh lebih kompleks dibanding tayangan di layar kaca.
Mengapa Seseorang Sering Muncul di Pikiran?
Meski tidak ada bukti memikirkan seseorang apakah dia juga memikirkan kita, ikatan emosional yang mendalam memang membuat ingatan tentang seseorang lebih mudah terpicu.
Audi menjelaskan bahwa semakin kuat ikatan emosional dengan seseorang, semakin banyak pula memori yang tersimpan di dalam otak. Seseorang bisa mendadak teringat karena menangkap pemicu kontekstual di sekitarnya, seperti mendengar lagu tertentu, melihat tempat kenangan, atau mencium bau parfum yang khas.
“Ketika muncul potongan-potongan yang berkaitan dengan lagu, film, ataupun hal lain yang berkaitan dengan orang ini, mungkin kita jadi teringat,” pungkas Audi.
Dengan demikian, fenomena teringat seseorang murni merupakan proses psikologis internal yang melibatkan asosiasi memori dan ikatan emosional dalam diri sendiri, bukan karena sinyal telepati dari orang lain.
Kontributor: Fika
Editor: Akmal



