Semai Empati, Siswa SD Muhammadiyah PK Solo Rajut Kebersamaan di YPAC
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Sebanyak 82 murid kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo menyemai rasa empati dan syukur melalui aksi nyata. Langkah tersebut terwujud saat SD Muhammadiyah PK Solo rajut kebersamaan di YPAC Surakarta pada Senin (14/9/2026).
Ketika rombongan siswa tiba di lokasi, keluarga besar yayasan langsung memberikan sambutan yang sangat hangat. Selanjutnya, momen penuh makna tersebut berlanjut dengan doa bersama untuk memohon keberkahan. Selain itu, Kepala Sekolah YPAC Surakarta, Jalaludin Khawarizmi, menyambut baik kedatangan para siswa tersebut.
Dalam pesan hangatnya, Jalaludin memaparkan deretan prestasi murid YPAC di bidang nonakademik dan kesenian. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, hal itu tidak memadamkan semangat anak-anak untuk bersinar. Oleh karena itu, langkah SD Muhammadiyah PK Solo rajut kebersamaan di YPAC ini menjadi sarana belajar nyata mengenai kesetaraan.
Membangun Kebersamaan Tanpa Sekat
Puncak acara semakin meriah saat seluruh peserta melebur dalam kegiatan mewarnai bersama. Aktivitas sederhana tersebut terbukti ampuh mencairkan suasana. Bahkan, kegiatan ini berhasil membangun jembatan persahabatan yang tulus. Hasilnya, kepedulian sosial pun mengalir alami tanpa sekat di antara mereka.
Siswa SD Muhammadiyah PK Solo terlihat sigap mendampingi dan meminjamkan alat mewarnai kepada teman-teman YPAC. Ruang interaksi yang ramah ini membuktikan bahwa kegembiraan dapat tercipta dalam kesederhanaan. Dengan demikian, pendidikan karakter anak dapat terwujud secara alami melalui aksi nyata.
Sementara itu, Koordinator Tim Kelas IV, Atit Nur Ariyanna, menegaskan pentingnya pembelajaran lapangan ini. “Kunjungan ini menjadi sarana silaturahmi agar murid memetik pelajaran berharga tentang cara memahami orang lain dan bersyukur,” ungkap Atit.
Refleksi Diri dan Aksi Nyata
Kesan mendalam turut dirasakan oleh Genio Azzaheer Istiyawan, salah satu murid kelas IV. Genio mengaku tersentuh saat berinteraksi langsung dengan teman-teman di yayasan. Sebab, rangkaian interaksi tersebut berhasil membuka sudut pandang baru bagi para siswa.
“Berbagi tidak selalu berupa materi. Luapan perhatian dan kehadiran kita ternyata sudah membuat teman-teman di sini tersenyum bahagia,” tutur Genio dengan haru.
Pada akhirnya, kegiatan outing class berakhir dengan pembagian bingkisan kasih. Kemudian, setelah kembali ke sekolah, para siswa mendokumentasikan pengalaman mereka melalui Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Hal ini dilakukan agar nilai menghargai, berbagi, dan bersyukur terpatri kuat dalam ingatan mereka.
Kontributor: Nikmah Hidayati
Editor: Akmal



