Kader Ulama Muhammadiyah Siap Hadapi Disrupsi AI di Era Society 5.0
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Kader ulama Muhammadiyah dari Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersiap menghadapi tantangan era Society 5.0 dan disrupsi kecerdasan buatan (AI). Kesiapan ini mengemuka dalam agenda Stadium General Pondok Shabran UMS di Aula Gedung Baru, Surakarta, Minggu (6/9/2026).
Sebanyak 186 mahasantri dari jenjang I’dad, Sarjana (S1), hingga Magister (S2) menghadiri forum ilmiah tahunan tersebut. Penguatan literasi digital dan penguasaan teknologi menjadi fokus utama dalam mencetak kader ulama Muhammadiyah yang adaptif, inovatif, serta berorientasi pada transformasi sosial.
Capaian Hafalan Al-Qur’an dan Penguasaan Bahasa
Direktur Pondok Shabran UMS, Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengapresiasi capaian akademik para mahasantri program I’dad selama masa persiapan. Program intensif ini terbukti berhasil membangun fondasi keilmuan yang kokoh sebelum mahasantri melangkah ke jenjang pendidikan tinggi.
“Alhamdulillah, keberhasilan program I’dad mencapai 99 persen, di mana mahasantri mampu menyelesaikan hafalan 10 juz Al-Qur’an selama satu tahun. Capaian ini menjadi bekal kuat sebelum mereka melanjutkan studi S1 di Fakultas Agama Islam UMS,” terang Yayuli, Senin (7/9/2026).
Selain hafalan Al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi prioritas strategis lembaga. Penguasaan bahasa asing ini mendukung visi internasionalisasi persyarikatan sekaligus memperluas jangkauan dakwah kader ulama Muhammadiyah di tingkat global. Selanjutnya, Yayuli mengingatkan seluruh mahasantri agar selalu menjunjung tinggi sikap inklusif dan tidak membatasi diri dalam bergaul dengan berbagai kalangan.
Tiga Pilar Epistemologi untuk Menghadapi Teknologi
Dalam kesempatan yang sama, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A., menegaskan bahwa kader ulama Muhammadiyah tidak boleh gagap menghadapi teknologi modern seperti big data dan otomatisasi.
Guna menjawab tantangan zaman tersebut, Bachtiar meminta setiap kader ulama Muhammadiyah memadukan tiga pilar epistemologi, yakni Bayani, Burhani, dan Irfani. Integrasi ilmu ini akan melahirkan solusi peradaban yang mencerahkan bagi masyarakat luas.
“Kader ulama Muhammadiyah harus memiliki kedalaman spiritual sekaligus keberanian dalam memimpin transformasi sosial di era Society 5.0,” jelas Bachtiar.
Ia juga menekankan pentingnya budaya membaca untuk memperluas cakrawala berpikir. Melalui membaca, kader ulama Muhammadiyah mampu menumbuhkan sikap inklusif serta menyerap berbagai pengetahuan tanpa kehilangan identitas keislaman. Oleh karena itu, kegemaran membaca menjadi kunci utama agar generasi muda tetap kuat secara intelektual di tengah derasnya arus disrupsi teknologi.
Kontributor: Hamam/Affiq
Editor: Akmal



