Isi Baitul Arqom Unimugo, Ikhwanushoffa Ajak Tendik Teladani Sejarah Perjuangan KH Ahmad Dahlan
PWMJATENG.COM, KEBUMEN — Manajer Eksekutif PWM Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, mengajak tenaga pendidik meneladani sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah. Seruan ini disampaikan saat beliau mengisi acara Baitul Arqom Tendik Universitas Muhammadiyah Gombong (Unimugo) di aula kampus setempat, Kebumen, Kamis (30/7/2026).
Ikhwanushoffa menegaskan pentingnya memahami akar gerakan sang pendiri Muhammadiyah melalui kombinasi tajdid (pembaruan) dan turats (tradisi positif). Menurutnya, sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan bermula dari keprihatinan sosial atas ketertinggalan bangsa di era kolonial Hindia Belanda.
Pendidikan Karakter dan Pencetakan Generasi Amalan
Mengulas materi Baitul Arqom Unimugo tersebut, Ikhwanushoffa mencontohkan keteladanan sang kiai sewaktu menuntut ilmu pada ibadah haji pertamanya periode 1883–1888.
“Sekembalinya ke tanah air, beliau mengajarkan Surah Al-Ma’un selama tiga bulan berturut-turut untuk menguji pengamalan agama umat,” ungkap Ikhwanushoffa.
Langkah konsisten ini menunjukkan bahwa sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan selalu berfokus mencetak generasi amalan, bukan sekadar generasi hafalan. Beliau juga mengajarkan Surah Al-Asr selama delapan bulan guna menanamkan nilai kedisiplinan dan kepedulian sosial secara mendalam.
Terobosan Layanan Kesehatan dan Kesetaraan Gender
Dalam forum tersebut, Ikhwanushoffa turut menyoroti kecerdasan sang ulama dalam menghadapi tekanan politik dan ekonomi kompeni. Ketika biaya haji dimonopoli dengan harga melambung tinggi, beliau berani bernegosiasi hingga membongkar margin keuntungan monopoli tersebut sebelum menginisiasi pengadaan kapal haji mandiri.
Semangat pembaharuan itu berlanjut dengan pendirian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) sebagai cikal bakal rumah sakit inklusif. PKO memberikan layanan medis gratis bagi warga kurang mampu tanpa membeda-bedakan status sosial.
“Beliau juga mendorong kesetaraan gender dengan merintis hadirnya dokter-dokter perempuan melalui pergerakan Aisyiyah,” tutur Ikhwanushoffa.
Merawat Budaya “Loma” dan Kemandirian Organisasi
Ikhwanushoffa berpesan agar para peserta Baitul Arqom Unimugo terus merawat tradisi loma (dermawan) yang menjadi modal dasar kebangkitan masyarakat Indonesia. Tradisi saling berbagi ini bertransformasi menjadi pilar kekuatan finansial organisasi yang sangat mandiri dan kokoh.
Seluruh dedikasi tersebut kini berbuah manis dengan hadirnya ribuan sekolah, perguruan tinggi, hingga rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Menutup pemaparannya, Ikhwanushoffa kembali mengingatkan warisan pesan KH Ahmad Dahlan yang sangat bersejarah bagi seluruh kader: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Al-Afasy



