PWMJATENG.COM, JEPARA – Perjalanan TK ABA Tahunan Jepara dalam merintis pendidikan anak usia dini menyimpan kisah perjuangan yang luar biasa. Sekolah yang kini menjadi salah satu pilar pendidikan di Jepara ini ternyata lahir dari sebuah kelas Bahasa Inggris sederhana pada era tahun 1960-an.
Kisah inspiratif ini bermula pada tahun 1963 silam. Saat itu, seorang guru asal Semarang bernama Sri Satoto menerima tugas mengajar di Jepara. Beliau membuka kelas Bahasa Inggris untuk para pemuda di rumah seorang warga bernama H. Kosim di kawasan Pekeng.
Program ini awalnya mendapat dukungan penuh dari Petinggi Desa Tahunan saat itu, Jayadirejo. Beliau bahkan mengirimkan pemuda-pemuda dari berbagai dukuh untuk belajar. Namun, kelas tersebut tidak sekadar mengajarkan bahasa asing. Sri Satoto juga membawa misi syiar untuk mengenalkan organisasi Muhammadiyah secara perlahan.
Seiring berjalannya waktu, pergerakan ini memicu dinamika sosial dengan tokoh-tokoh lokal lainnya. Akibatnya, jumlah murid kelas bahasa lambat laun terus menyusut hingga habis.
Gagasan Ibu-Ibu Aisyiyah
Melihat situasi tersebut, Jayadirejo segera mengambil langkah taktis. Beliau berdiskusi dengan H. Mashadi, sosok yang membawa Sri Satoto ke desa tersebut. Melalui kesepakatan bersama, aktivitas mengajar berpindah langsung ke rumah sang petinggi desa.
Materi pelajaran pun berkembang dengan tambahan pendidikan keislaman. Respons positif dari masyarakat sekitar membuat suasana belajar kembali ramai. Tokoh pemuda, Lambang Pono, kemudian turun tangan membantu mengelola kelas agama agar lebih terstruktur.
Perkembangan yang pesat ini memicu lahirnya pemikiran baru dari kelompok ibu-ibu pengajian. Dipelopori oleh Hj. Fatemi, organisasi Aisyiyah mengusulkan pendirian sebuah Taman Kanak-Kanak formal. Gagasan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya TK ABA Tahunan Jepara.
Perjuangan Lima Tahun Berpindah Rumah
Pihak pengurus segera bergerak cepat dengan mengursuskan empat kader perempuan selama 15 hari. Mereka adalah Mi’ah Mardi, Sumiyati, Suminah, dan Arbainah. Setelah masa pelatihan selesai, mereka langsung siap mengajar anak-anak usia 4 hingga 5 tahun.
Tepat pada 21 April 1967, kegiatan belajar mengajar TK ABA Tahunan Jepara resmi dimulai. Momentum bersejarah ini sengaja bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena belum memiliki gedung sendiri, proses sekolah terpaksa menumpang di rumah warga sekitar.
Selama lima tahun pertama, sekolah ini harus berpindah-pindah tempat sebanyak empat kali. Para murid sempat belajar di rumah H. Mashadi, Sartono, Wadi, hingga rumah Bapak Baku. Perjuangan tanpa lelah ini akhirnya membuahkan hasil manis pada tahun 1970.
Menempati Gedung Permanen
Pada tahun tersebut, Jayadirejo mewakafkan sebidang tanah di depan Masjid Al-Istiqomah. Di atas lahan itulah, bangunan fisik permanen pertama TK ABA Tahunan Jepara resmi berdiri tegak. Bangunan bersejarah tersebut kini masih kokoh berfungsi sebagai ruang Pendidikan Anak Usia Dini Jepara (PAUD).
Jumlah siswa yang terus meroket membuat kapasitas gedung lama di tepi jalan raya menjadi kurang ideal. Faktor keamanan anak-anak menjadi pertimbangan utama pengurus untuk mencari lokasi baru. Ibu-ibu Aisyiyah kemudian mengusulkan pengalihan fungsi gedung Balai Latihan Kerja ukir menjadi ruang kelas baru.
Langkah besar ini terwujud secara legal pada 23 Juni 2004. Lembaga ini resmi menempati lahan wakaf baru seluas 555 meter persegi dari H. Ngadimin. Camat Tahunan bersama dinas terkait hadir langsung meresmikan gedung modern TK ABA Tahunan Jepara tersebut.
Penguatan Mutu Berkelanjutan
Kini, komite sekolah bersama pengurus ranting terus bersinergi melengkapi berbagai fasilitas penunjang. Upaya ini menjadi bukti nyata konsistensi Amal Usaha Muhammadiyah dalam mencetak generasi emas sejak usia dini.
Kepala Sekolah, Fitri Wahyuningsih, menegaskan bahwa pembenahan sarana prasarana terus berjalan secara berkala. Pihak sekolah berkomitmen menciptakan atmosfer belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik.
Lembaga ini juga memiliki legalitas yang sangat kuat. Sekolah memegang Surat Persetujuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991 serta terdaftar resmi di Pimpinan Pusat Aisyiyah. Sejarah TK Aisyiyah Bustanul Athfal ini menjadi bukti bahwa konsistensi lokal mampu melahirkan institusi TK tertua di Tahunan yang adaptif terhadap zaman.
Kontributor: Muslim
Editor: Alafasy



