Fikih Hijau, Cara Mahasiswa UNISA Yogyakarta Tunjukkan Kesalehan Ekologis
PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA – Mahasiswa UNISA Yogyakarta menegaskan bahwa nilai agama harus berdampak nyata bagi alam dengan melakukan aksi lingkungan di Pantai Baros, Bantul, guna memitigasi risiko abrasi pesisir. Kegiatan yang berlangsung pada 20 Juni 2026 ini merupakan implementasi nyata dari materi mata kuliah Islam dan Ipteks yang mereka tempuh.
Mahasiswa UNISA Yogyakarta membawa konsep Fikih Hijau untuk menjawab persoalan ekologis yang kian mengkhawatirkan. Program ini tidak hanya berfokus pada ibadah ritual personal. Mahasiswa menekankan peran agama dalam menjaga kehidupan sosial dan alam sekitar.
“Agama tidak seharusnya dipahami hanya sebagai urusan pribadi atau ritual semata, tetapi juga sebagai nilai yang membimbing manusia untuk menjaga bumi,” ujar para mahasiswa dalam keterangan tertulisnya. Narasi ini mempertegas bahwa kesalehan ekologis merupakan tanggung jawab moral setiap individu. Konsep rahmatan lil alamin menjadi landasan kuat bagi mereka. Keberagamaan mahasiswa harus memberi manfaat nyata bagi alam dan seluruh makhluk hidup.
Aksi Nyata di Pantai Baros
Kelompok 4 yang terdiri dari 11 mahasiswa melaksanakan aksi ini di Pantai Baros, Bantul. Mereka memilih lokasi tersebut karena ancaman abrasi yang tinggi di kawasan pesisir selatan. Penanaman pohon mangrove menjadi solusi utama untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Mangrove juga berfungsi vital sebagai habitat biota laut.
“Menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual,” tegas para mahasiswa tersebut. Mahasiswa membagi tugas secara sistematis untuk memastikan kelancaran kegiatan. Mereka bekerja mulai dari persiapan alat, edukasi warga, hingga eksekusi penanaman di lapangan. Langkah ini menunjukkan komitmen serius mahasiswa dalam menumbuhkan budaya peduli lingkungan.
Dampak dan Keberlanjutan Program
Mahasiswa tidak sekadar melakukan kegiatan sesaat di Pantai Baros. Mereka mendorong mitra masyarakat untuk melanjutkan pemeliharaan pohon secara mandiri. Harapannya, kepedulian ekologis berubah menjadi kebiasaan sehari-hari warga. Kesadaran lingkungan harus melampaui teori di dalam kelas.
“Kepedulian terhadap alam bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi juga tanggung jawab setiap individu,” ungkap perwakilan kelompok. Program ini memberikan manfaat jangka pendek berupa kebersihan lingkungan bagi masyarakat. Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan mampu mengurangi risiko pencemaran di masa depan. UNISA Yogyakarta terus mendorong mahasiswanya untuk membumikan nilai agama melalui aksi nyata.
Editor: Alafasy



