Terima Wayang Semar, Haedar Nashir: Umat Butuh Solusi, Bukan Ceramah
PWMJATENG.COM, YOGYAKARTA – Sembari berdiri tegap dalam suasana kekeluargaan yang kental, Prof. Dr. Haedar Nashir memandangi Wayang Semar di tangannya sebelum melontarkan kalimat yang menggetarkan hati para pendengarnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengingatkan bahwa mimbar agama tidak boleh lagi terasa kaku dan berjarak dari jeritan nyata masyarakat. Alhasil, petuah malam itu menjadi tamparan sekaligus arah baru bagi pergerakan umat.
Malam itu, suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti pertemuan di Yogyakarta. Di hadapan para pengurus LDK PWM Jawa Tengah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, hadir langsung membaur di tengah ruangan. Namun, di tengah kepungan dinamika global yang melesat cepat, obrolan akrab mereka segera mengalir menyentuh tantangan dakwah Muhammadiyah yang kian kompleks. Oleh karena itu, semua pihak sepakat bahwa perubahan sosial dan kilat perkembangan teknologi memerlukan respons yang jauh lebih taktis.
Menembus Batas Mimbar Masjid
Tokoh nomor satu di Muhammadiyah ini mengingatkan bahwa bentuk respons terhadap persoalan umat harus segera bermutasi. Menurut beliau, dakwah Muhammadiyah harus mampu menjawab persoalan umat dengan pendekatan yang adaptif, inklusif, dan membangun optimisme masyarakat. Pesan ini bergaung sangat kuat, sehingga memahat kesadaran baru bagi para pejuang dakwah komunitas yang bergerak di akar rumput.
Mendengar arahan tersebut, rombongan dari Jawa Tengah kemudian memaparkan ragam aksi nyata mereka yang menyentuh sudut-sudut sunyi masyarakat. Mereka secara konsisten memperlihatkan kelembutan dalam pembinaan mualaf, keteguhan saat melakukan pendampingan mantan narapidana terorisme, hingga deru motor gerakan BikersMu. Selain itu, mereka juga mengemas dakwah budaya melalui pagelaran wayang yang telah berlangsung sebanyak 22 kali di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Langkah inklusif tersebut sontak memanen pujian dari sang ketua umum. Dengan demikian, program-program kreatif ini mendapatkan apresiasi tinggi karena membuktikan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya hadir di mimbar masjid. Sebaliknya, gerakan ini terbukti nyata mampu merangkul berbagai komunitas yang membutuhkan sentuhan pembinaan, pendampingan, dan pemberdayaan secara berkelanjutan.
Makna Filosofis di Balik Figur Semar
Puncak emosi malam itu akhirnya bergetar saat panitia mengeluarkan sebuah hadiah tak biasa. Seluruh hadirin seketika berdiri tegak menyaksikan perwakilan pengurus menyerahkan sebilah wayang kulit tokoh Semar dengan penuh takzim kepada Prof. Haedar Nashir. Guratan garis pada tokoh pewayangan tersebut secara tegas menghadirkan simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, keteduhan, dan pengayoman yang mendalam.
Tentu saja, penyerahan simbol budaya dalam posisi berdiri bersama ini bukan sekadar buah tangan kosong dalam perjalanan kedinasan. Sebab, di dalam setiap jengkal kulit wayang yang beralih tangan tersebut, para pengurus menitipkan doa dan harapan agar beliau senantiasa menjadi pamomong Muhammadiyah. Sosok pemimpin yang selalu mampu menghadirkan kesejukan, menjaga persatuan, serta membimbing umat menuju Indonesia yang semakin maju dan tercerahkan.
Menghidupkan Dakwah Kultural yang Menggembirakan
Sambil menerima tokoh Semar tersebut, sang profesor memberikan wejangan yang menggetarkan sanubari. Dalam pesannya, Prof. Haedar Nashir menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus menjadi dakwah yang menggembirakan, mencerahkan, menenangkan, dan memberikan harapan kepada masyarakat. Jadi, syiar Islam lewat dakwah kultural harus melebur dengan denyut nadi kehidupan, bukan berdiri kaku berjarak dengan realitas.
Bagi beliau, esensi gerakan Islam berkemajuan terletak pada aksi nyata yang meringankan beban sesama. Oleh sebab itu, beliau mengingatkan dengan tegas bahwa dakwah harus hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan membawa solusi, bukan sekadar menyampaikan ceramah. Ungkapan ini menjadi kompas penting bagi masa depan dakwah kultural di tanah air.
Pada akhirnya, perjalanan spiritual dan struktural Muhammadiyah Jawa Tengah ini menyisakan refleksi mendalam bagi masa depan syiar Islam. Melalui simbol Wayang Semar, kita diingatkan bahwa menjadi penggerak umat berarti bersedia melayani dengan keteduhan hati. Dengan kata lain, kita wajib merangkul tanpa memukul, serta mendampingi tanpa menghakimi. Karena dakwah sejati bukanlah tentang kemegahan panggung pidato, melainkan tentang seberapa jauh tangan kita mampu menjangkau akar rumput dan menghadirkan solusi nyata yang mencerahkan kehidupan.
Kontributor: Humas LDK PWM Jateng
Editor: Ayma



