Berita

Muhammadiyah Ingatkan Batasan Tradisi Malam Satu Suro, Ini Titik Kritis yang Rusak Nilai Tauhid

PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Tradisi Malam Satu Suro tidak boleh bertransformasi menjadi ritual pencarian berkah atau keselamatan kepada selain Allah karena berpotensi merusak pemurnian akidah dan mencampuradukkan ajaran Islam dengan mitos budaya.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Isman, S.H.I., S.H., M.H., menyampaikan langsung penegasan tersebut. Isman menjelaskan bahwa Muhammadiyah memandang fenomena kebudayaan masyarakat Jawa ini sebagai produk sosial dan sejarah. Warisan kultural tersebut merupakan wujud hasil cipta, karsa, dan rasa manusia yang sah secara identitas sosial.

Kendati demikian, Isman mengingatkan masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah seluruh ritual tersebut. Setiap aktivitas kultural memerlukan proses penyaringan yang ketat agar tidak menabrak batas koridor agama.

“Setelah Malam Satu Suro dipahami secara utuh struktur dan objeknya, Muhammadiyah menilai tradisi tersebut dengan menjadikan agama sebagai sumber nilai kebudayaan,” ujar Isman saat ditemui di Surakarta, Senin (15/6/2026).

Isman menjelaskan bahwa kebudayaan dan kesenian sebetulnya masuk dalam wilayah muamalah dunyawiyah. Hukum asal aktivitas tersebut adalah boleh atau mubah. Aturan melonggar selama tidak ada dalil syar’i yang melarangnya secara spesifik.

Namun, kelonggaran ini bukan berarti masyarakat tanpa kendali menerima segala bentuk warisan masa lalu. Isman menyebut ada tiga alat pengujian objektif yang harus berlaku secara ketat. Pengujian tersebut meliputi tujuan utama tradisi, kandungan nilai atau keyakinan, serta bentuk praktik nyata di lapangan.

Batasan Tegas Kirab Pusaka dan Ritual Gaib

Penyimpangan serius biasanya mulai terjadi ketika perayaan ini dibumbui oleh keyakinan mistis. Sikap kritis Muhammadiyah muncul saat momen pergantian tahun Jawa ini dianggap memiliki kesakralan magis yang mampu mendatangkan nasib tertentu.

Intervensi dakwah ormas Islam ini fokus membendung potensi munculnya praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat. Ketiga hal tersebut dinilai merusak fondasi keimanan umat.

“Pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana transformasi budaya itu melahirkan demistifikasi, yaitu upaya menghilangkan elemen mitos, takhayul, bid’ah, dan khurafat,” jelas Isman secara mendalam.

Pihaknya menambahkan, warga tetap boleh menggerakkan pelestarian kebudayaan Jawa ini demi memperkuat jalinan silaturahmi. Langkah kreatif tersebut juga bernilai positif sebagai sarana edukasi publik dan penguat identitas sosial komunitas.

Meski begitu, lampu merah keagamaan akan otomatis menyala jika esensi kegiatan bergeser menjadi pemujaan. Publik harus waspada apabila prosesi adat seperti tirakatan atau kirab pusaka mulai diyakini sebagai medium pencarian berkah, keselamatan, atau kekuatan gaib dari selain Allah SWT.

Pendekatan Akomodatif dan Reorientasi Muharram

Menghadapi realitas sosial tersebut, Muhammadiyah memilih jalan tengah melalui strategi akomodasi-transformatif. Melalui pendekatan ini, institusi keagamaan tidak memilih jalur konfrontasi yang destruktif terhadap adat istiadat setempat.

Pihak perserikatan mempertahankan seluruh unsur budaya yang bermuatan edukatif dan sosial. Di sisi lain, para pemuka agama bergerak mengubah orientasi batiniah dan makna filosofis ritualnya agar condong pada ketetapan syariat Islam.

Seiring kedatangan bulan Muharram, Isman mengajak masyarakat muslim untuk kembali menengok tuntunan ibadah yang sahih. Fase ini merupakan salah satu momentum suci yang mendapat penghormatan khusus langsung dari Allah SWT.

“Budaya dapat dipelihara sebagai warisan sosial, tetapi agama tetap menjadi sumber nilai dan pedoman dalam menilai setiap tradisi,” pungkas Isman sekaligus mengakhiri penjelasannya.

Warga sebaiknya mengisi hari-hari suci ini dengan menggalakkan amalan saleh yang bernilai pahala tinggi. Umat Islam harus mendongkrak ketakwaan melalui puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, ketimbang larut dalam ketakutan mistis perayaan Malam Satu Suro.

Kontributor: Yusuf
Editor: Alafasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://middlepassage.dei.uc.pt/https://privacycolab.dei.uc.pt/https://cmd.dei.uc.pt/https://henrique.dei.uc.pt/
https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://simseam.ft.uns.ac.id/https://sipil.ft.uns.ac.id/slot gacorhttps://aku.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/slot gacorhttps://akperstg.ac.id/https://fisip.uisu.ac.id/https://web.pn-sidrap.go.id/
https://hormon-osteoporosezentrum.de/judi bolahttps://saopaulodeolivenca.am.gov.br/slot gacorzonawin777zonawin777