Kupas Makna Khutbah Idul Adha Menyentuh Hati, Profesor Masrukhi: Kain Ihram Dilucuti dari Kasta dan Jabatan!
PWMJATENG.COM, SEMARANG — Tangis ratusan jamaah Muhammadiyah pecah di Lapangan Lansia Rejomulyo Semarang, Jumat pagi, setelah Rektor Unimus Profesor Masruki mengupas filosofi pakaian ihram yang menyetarakan posisi pejabat negara dengan rakyat jelata tanpa sekat kasta. Momen religius yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Timur ini tidak hanya dipenuhi lantunan takbir, melainkan juga menjadi ruang refleksi mendalam tentang hakikat kesetaraan sejati manusia di hadapan Allah SWT.
Selanjutnya, khutbah yang disampaikan oleh Profesor Masrukhi berhasil membawa ingatan jamaah kembali ke Padang Arafah. Suasana Lapangan Lansia Rejomulyo seketika berubah penuh haru saat sang orator menggambarkan jutaan manusia melebur tanpa kasta saat wukuf. Oleh karena itu, air mata jamaah pun menetes ketika mereka merenungi lumuran dosa dalam balutan kain ihram yang putih dan suci.
Simbol Kain Ihram dan Kritik Feodalisme
Momentum sakral tersebut seketika menjadi pijakan Profesor Masrukhi untuk melemparkan kritik tajam. Menurutnya, kain ihram merupakan simbol kesetaraan kemanusiaan sejati yang melucuti seluruh atribut duniawi manusia. Jadi, saat berada di Arafah, pembatas antara pejabat tinggi dan rakyat jelata seketika runtuh secara total.
“Kain ihram putih adalah simbol kemanusiaan sejati. Semua manusia dilucuti dari simbol duniawi. Pejabat dan rakyat jelata berdiri sejajar,” ujar Rektor Unimus Prof. Dr. H. Masrukhi, M.Pd.
Lebih lanjut, Profesor Masruki mengingatkan kembali khutbah Rasulullah SAW saat peristiwa Haji Wada’. Dia menegaskan bahwa Islam secara tegas menolak pemujaan terhadap garis keturunan, status sosial, maupun warna kulit. Akibatnya, hak untuk menjadi mulia di hadapan Allah SWT bersifat inklusif bagi seluruh umat manusia.
“Tuhan kalian satu. Nenek moyang kalian satu, yakni Nabi Adam. Tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab. Yang membedakan hanyalah takwa dan amal saleh,” kata Profesor Masrukhi secara emosional.
Melalui penegasan tersebut, makna khutbah Idul Adha menyentuh hati para jamaah Muhammadiyah di Semarang Timur. Dengan demikian, narasi ini menghancurkan anggapan keliru bahwa kemuliaan hanya diwariskan melalui darah keturunan atau status sosial tertentu.
Definisi Amal Saleh dan Esensi Kurban
Sementara itu, guna membumikan konsep ketakwaan, Profesor Masrukhi juga mendefinisikan ulang cakupan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ibadah dalam Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual formal di dalam masjid saja. Sebaliknya, gerakan sosial kemasyarakatan, kejujuran dalam bekerja, hingga pengabdian lingkungan memiliki nilai pahala yang setara.
“Pelajar yang sungguh-sungguh menuntut ilmu adalah amal saleh. Ibu-ibu yang memberi pencerahan dalam kegiatan PKK adalah amal saleh. Para pekerja yang mencari nafkah dengan jujur juga amal saleh,” tutur Profesor Masrukhi.
Kemudian, pada akhir khutbah, dia mengajak ratusan jamaah untuk merefleksikan kembali hakikat kurban yang sesungguhnya. Hal ini karena penyembelihan hewan kurban bukanlah sekadar rutinitas seremonial tahunan tanpa makna terdalam.
“Allah tidak membutuhkan darah dan daging kurban kita. Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kita,” tandas Profesor Masrukhi menutup khutbahnya.
Pesan penutup tersebut akhirnya meninggalkan keheningan mendalam di tengah Lapangan Rejomulyo. Di tengah realitas sosial yang kerap memuja kemewahan, pesan spiritual dari Semarang Timur ini hadir sebagai pengingat keras. Kesimpulannya, saat menghadap Sang Pencipta, manusia hanya akan membawa ketakwaan dan amal saleh mereka.
Kontributor : Imam S Abu Maulana
Editor: Al-Afasy



