Kolom

Sering Dicibir Saat Mulai Berubah Jadi Lebih Baik? Ingat Satu Hal Ini Agar Tak Goyah

Oleh: Arip Hidayat (Praktisi Ekonomi Syari'ah BTM Artha Surya - MTT PDM Kab. Tegal)

Suatu waktu, seorang siswa bertanya kepada gurunya dengan nada polos.

“Bu Guru, apakah seseorang bisa dihukum, sementara dia belum melakukan atau berbuat apa pun?” tanya si murid penuh semangat.

“Oh, ya tidak bisa. Hukuman hanya dijatuhkan pada orang yang telah berbuat kesalahan,” jawab sang guru mantap. “Memangnya kenapa, Nak?” tanya guru balik penasaran.

Kemudian si murid menjawab sambil tersenyum garing, “Tidak ada apa-apa Bu, hanya saja saya belum mengerjakan PR.” Jawaban polos itu seketika membuat gurunya jengkel.

Jokes atau cerita jenaka ini mungkin pernah Anda dengar beberapa waktu lalu. Meski sederhana, ada pesan moral mendalam di balik cerita tersebut, khususnya mengenai bagaimana sebuah kesalahan atau keburukan dinilai.

Hakikat Baik dan Buruk dalam Pandangan Islam

Dalam kisah di atas, Ibu Guru memaparkan bahwa hukuman hanya jatuh pada pelaku kesalahan. Ya, memang begitulah agama memposisikan sebuah keburukan. Dalam Islam, keburukan baru akan dicatat oleh Allah SWT sebagai dosa apabila sudah dilaksanakan. Jika baru sebatas niat, hal itu belum dihitung sebagai dosa.

Sebaliknya, keutamaan niat baik dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah SWT menilai kebaikan dan keburukan manusia dengan kadar yang berbeda, penuh dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya.

Hal ini dijelaskan secara gamblang oleh Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi dalam Kitab Arba’in An-Nawawiyah hadis nomor 37. Dari Ibnu ‘Abbas r.a, Rasulullah SAW meriwayatkan hadis Qudsi dari Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa yang berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna…” (HR. Bukhari, no. 6491 dan Muslim, no. 131).

Dari hadis tentang niat baik dan buruk tersebut, kita dapat menyimpulkan empat poin penting bagaimana Allah SWT mengapresiasi hamba-Nya ketika ingin berubah jadi lebih baik:

  1. Niat Baik yang Belum Terlaksana: Baru berniat saja sudah dicatat sebagai satu kebaikan sempurna karena adanya azam yang jujur dalam hati.

  2. Niat Baik yang Terlaksana: Akan dilipatgandakan minimal 10 kali lipat, 700 kali lipat, hingga jumlah tak terhingga seperti pahala orang berpuasa.

  3. Niat Buruk yang Dibatalkan: Jika seorang hamba mengurungkan niat buruknya karena Allah, hal itu justru dihadiahi satu kebaikan sempurna.

  4. Niat Buruk yang Terlaksana: Hanya dicatat sebagai satu keburukan (dosa) saja, tanpa dilipatgandakan.

Cara Memotivasi Diri untuk Bertobat dan Mulai Melangkah

Firman agung dalam hadis qudsi di atas secara gamblang menjadi cara memotivasi diri untuk bertobat dan terus memperbaiki diri. Allah SWT dengan lembut mengabarkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai melangkah ke arah yang positif.

Kita bisa memulainya perlahan namun pasti melalui jalur salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, berpuasa, hingga berbuat baik kepada sesama manusia dan alam sekitar. Segala amalan baik ini perlahan akan menghapuskan dan menggantikan kesalahan masa lalu kita.

Baca Juga: 6 Amalan Bulan Dzulhijjah yang Penuh Keutamaan: Pesan Sejuk dari Pengajian Ganduwetan

Ingat Satu Hal Ini Agar Tak Goyah Saat Dihantam Cibiran

Dalam menapaki tangga-tangga untuk berubah jadi lebih baik, ujian sering kali datang berupa komentar miring dari lingkungan sekitar. Bahkan, tidak jarang cibiran itu datang dari orang terdekat.

Kalimat-kalimat seperti, “Ah, yang benar kamu sudah tobat? Jangan-jangan besok kumat lagi,” atau “Percuma salat dan ngaji kalau masih punya masa lalu buruk,” sering kali membayangi langkah kita.

Bagaimana cara menghadapi cibiran orang saat hijrah seperti ini? Kuncinya adalah mengingat satu hal: Anda sedang melangkah di jalan suci menuju rida Allah SWT, bukan rida manusia.

Allah yang Maha Pengampun tidak akan pernah mengungkit atau mempertanyakan kembali dosa masa lalu hamba-Nya yang telah ditinggalkan dan disesali. Allah Maha Suci dari sifat mencibir hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan-Nya.

Allahumma, Ya Allah, kuatkanlah siapa pun dari hamba-Mu yang sedang melangkahkan kaki untuk memperbaiki diri. Amin.

Editor: Alafasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/https://merdekakreasi.co.id/buku/bandarqq/https://merdekakreasi.co.id/buku/dominoqq/https://merdekakreasi.co.id/tentang-kami/
https://aku.ac.id/https://akperstg.ac.id/https://jpl.staiku.ac.id/https://jist.publikasiindonesia.id/