Hadapi Perubahan Iklim, Arsitektur UMS Kupas Rahasia Desain Pasif Lewat Kuliah Arsitektur Biomimikri

PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Program Studi Arsitektur bersama Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr) Arsitektur UMS menyelenggarakan kegiatan akademik bertaraf profesional. Mereka menggelar workshop dan kuliah tamu bertema “Arsitektur Biomimikri: Integrasi Desain Pasif untuk Penyejukan Alami Bangunan”. Agenda besar ini berlangsung di Gedung Pascasarjana Lantai 5 Universitas Muhammadiyah Surakarta, Rabu (13/5/2026).
Acara ilmiah tersebut berhasil menarik perhatian lebih dari 200 mahasiswa dari program sarjana maupun profesi. Melalui forum ini, penyelenggara ingin membekali para calon arsitek dengan wawasan masa depan yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi sepanjang pemaparan materi.
Belajar dari Kecerdasan Sistem Alam
Pihak Arsitektur UMS menghadirkan narasumber kompeten di bidang building science, yaitu Ar. Ir. Agung Murti Nugroho, PhD. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan strategi pengembangan pendekatan biomimikri dalam desain pasif bangunan. Konsep ini terbukti mampu meningkatkan kenyamanan termal secara alami dan berkelanjutan.
Selanjutnya, Kaprodi S1 Arsitektur UMS, Dr. Ir. Nur Rahmawati Syamsiyah, ikut memberikan penjelasan tambahan pada Senin (18/5/2026). Ia menegaskan bahwa acara ini merupakan bagian penting dari penguatan kapasitas akademik mahasiswa. Khususnya, untuk menjawab tantangan krisis iklim dan efisiensi konsumsi energi pada lingkungan binaan.
Senada dengan hal itu, Kaprodi PPAr Arsitektur UMS, Dr. Ar. Ir. Qomarun, memberikan sudut pandang serupa. Menurutnya, pendekatan biomimikri membantu manusia belajar dari kecerdasan alam untuk menyelesaikan persoalan lingkungan. Oleh sebab itu, arsitektur masa kini tidak boleh lagi hanya sekadar membangun ruang fisik yang kaku.
Lima Pendekatan Utama Desain Pasif Bangunan
Dalam sesi inti, pemateri mengupas tuntas lima pendekatan utama arsitektur biomimikri yang sangat aplikatif. Pendekatan pertama adalah bioinspirasi, yaitu proses menelusuri ide alamiah sebagai sumber gagasan konseptual. Melalui metode ini, perancang bisa melahirkan strategi bangunan yang kontekstual terhadap iklim setempat.
Kemudian, pendekatan kedua yaitu biomorfik yang fokus pada penelusuran bentuk fisik alam. Langkah ini menerjemahkan geometri dan pola alami ke dalam struktur bangunan untuk mendukung efisiensi lingkungan. Setelah itu, pendekatan ketiga bernama biomimesis yang menelaah proses adaptasi organisme hidup terhadap panas dan aliran udara.
Selanjutnya, pendekatan keempat adalah biopasif yang menempatkan ekosistem alam sebagai model sistemik. Model tersebut sangat berguna untuk menciptakan ruang hunian yang nyaman, sehat, serta hemat energi. Akhirnya, pendekatan kelima yaitu biomekanis yang mengangkat teladan gerak alami sebagai referensi komponen bangunan yang adaptif.
Melalui sinergi akademis ini, Arsitektur UMS berharap para lulusan mampu menguasai konsep arsitektur berkelanjutan secara matang. Penguasaan desain ini penting agar bangunan masa depan tidak lagi bergantung pada sistem pendingin mekanikal yang boros energi. Semangat inovasi ini diharapkan membawa kontribusi nyata bagi pembangunan nasional yang lestari.
Kontributor: Fika
Editor: ayma



