Mahasiswa Fisioterapi UMS Belajar Teknologi Medis Canggih Melalui Student Mobility di Thailand
PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Sebanyak 16 mahasiswa Magister Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kini tengah memperdalam ilmu di Thailand. Mereka menjalani program student mobility internasional di Mahidol University sebagai bagian dari kurikulum wajib untuk penguatan kompetensi global.
Berbeda dengan program pertukaran pelajar pada umumnya, kegiatan ini tidak melalui proses seleksi. Seluruh mahasiswa aktif wajib mengikutinya agar memiliki wawasan riset yang luas. Program ini berlangsung selama dua minggu di berbagai lokasi strategis seperti Kampus Salaya dan Rumah Sakit Siriraj.
Salah satu peserta, Arini Nur Hidayati, menyebutkan bahwa mereka fokus pada pembelajaran akademik dan praktik klinis. Selain itu, para mahasiswa juga mengikuti konferensi internasional bergengsi, International Physical Therapy Conference and Research (IPTSR) di Chulalongkorn University.
Presentasi Riset di Panggung Internasional
Dalam ajang IPTSR tersebut, empat mahasiswa UMS terpilih mempresentasikan hasil penelitian mereka. Mereka tampil percaya diri dalam sesi oral presentation maupun poster presentation. Hal ini membuktikan bahwa kualitas riset mahasiswa fisioterapi UMS mampu bersaing di level mancanegara.
“Setelah agenda konferensi selesai, kami segera melanjutkan program student mobility di Mahidol University,” ujar Arini pada Selasa (5/5). Saat ini, kelompok mahasiswa tersebut sudah memasuki minggu kedua pelaksanaan program dengan jadwal yang padat.
Mahasiswa merasakan perbedaan sistem pembelajaran yang cukup signifikan selama di Thailand. Arini menyoroti kelengkapan fasilitas penelitian di Mahidol University yang sangat mendukung aktivitas mahasiswa. Banyak alat medis canggih tersedia di sana, yang mungkin belum banyak ditemukan di Indonesia.
Tantangan Cuaca dan Adaptasi Budaya
Selain keunggulan teknologi, akses terhadap dana hibah penelitian di Thailand juga tergolong lebih luas. Muhammad Mukhlis Cahyadi, peserta lainnya, menjelaskan bahwa dukungan finansial riset di sana sangat memudahkan produktivitas mahasiswa. Kondisi ini menjadi poin penting bagi mereka untuk mengadopsi praktik terbaik di tanah air.
Meskipun fokus pada akademik, para mahasiswa tetap menyempatkan diri mengikuti cultural trip. Kegiatan nonakademik ini bertujuan mengenalkan budaya lokal Thailand sekaligus mempererat interaksi dengan mahasiswa setempat. Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan adaptasi yang nyata.
Para mahasiswa harus menghadapi cuaca ekstrem dengan suhu panas yang menyengat. Selain itu, mencari makanan halal dan menyesuaikan waktu ibadah menjadi tantangan tersendiri di lingkungan kampus. Namun, keramahan masyarakat Thailand membuat mereka merasa tetap nyaman dan aman.
Harapan untuk Kemajuan Fisioterapi Indonesia
Melalui pengalaman internasional ini, para mahasiswa berharap dapat membawa perubahan positif sekembalinya ke Indonesia. Mereka berencana membagikan ilmu dan metode riset terbaru kepada rekan-rekan sejawat. Harapannya, kualitas pelayanan fisioterapi di dalam negeri terus meningkat mengikuti standar global.
Program student mobility ini dijadwalkan berakhir pada 7 Mei 2026 mendatang. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, para mahasiswa akan terbang kembali ke Indonesia pada 10 Mei 2026. Keberhasilan ini semakin mempertegas posisi UMS sebagai universitas yang berorientasi pada prestasi internasional.
Kontributor: Fika
Editor: Al-Afasy



