Pesan Idulfitri 1447 H dari UNIMMA: Jaga Iman Tak Hanya Saat Ramadan

PWMJATENG.COM, MAGELANG — Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menggelar Salat Idulfitri 1447 H yang diikuti ratusan jemaah dari civitas academica dan masyarakat sekitar, Jumat (20/3), di halaman Kampus 2 UNIMMA. Dalam khutbah Idulfitri UNIMMA tersebut, Atto’ Maulana, M.Pd., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UNIMMA, mengajak umat Islam menjaga iman dan kualitas ibadah tidak hanya selama Ramadan.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Atto’ menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi atas perjalanan spiritual selama sebulan penuh.
“Hari ini adalah muara dari perjalanan panjang satu bulan penuh perjuangan. Inilah saatnya kita tumpahkan rasa syukur yang tak terhingga atas segala nikmat yang tak mampu kita hitung satu per satu,” tuturnya.
Idulfitri sebagai refleksi keimanan
Dalam khutbahnya, Atto’ mengingatkan bahwa tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama untuk merasakan keberkahan Ramadan. Karena itu, Idulfitri semestinya menjadi penguat komitmen untuk menjaga kualitas keimanan.
“Di antara jutaan manusia, kitalah yang dipilih Allah untuk merasakan manisnya iman di bulan Ramadan. Kita telah diberi kekuatan untuk menundukkan syahwat, menjalani rangkaian ibadah di keheningan malam, hingga akhirnya Allah pertemukan kita dengan fajar kemenangan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan Ramadan tidak cukup diukur dari ibadah lahiriah selama bulan suci, tetapi juga dari konsistensi amalan setelah Ramadan berakhir.
“Keberhasilan hakiki itu tampak pada apa yang kita lakukan setelah Ramadan pergi. Apakah sujud kita masih sepanjang sujud-sujud di malam kemarin? Apakah lisan kita masih sebasah saat kita mendaras Al-Qur’an di masjid dan rumah kita? Apakah hati kita masih ringan mendatangi seruan amal saleh?” ungkapnya.
Ibadah tidak berhenti setelah Ramadan
Atto’ menegaskan bahwa ibadah tidak boleh berhenti seiring berakhirnya Ramadan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadi “hamba Ramadan” yang hanya giat beribadah pada waktu tertentu.
“Benar memang Ramadan telah berlalu bersama keberkahannya. Namun limpahan keberkahan dari Allah tidak terbatas waktu. Barang siapa beribadah karena Ramadan, maka Ramadan telah pergi. Adapun yang beribadah karena Allah, maka Allah adalah Zat Yang Maha Hidup,” tegasnya.
Karena itu, jemaah diajak untuk terus melakukan evaluasi diri setelah Ramadan sebagai upaya menjaga kualitas iman yang telah dibangun selama bulan suci.
“Maka, lihatlah diri kita pada esok, lusa, dan hari-hari setelahnya. Jika kita kembali lalai, jatuh dalam kebiasaan dosa, dan menjauh dari masjid, maka kita patut khawatir: mungkinkah Ramadan kita hanya menjadi ritual lapar dan dahaga saja?” katanya.
Melalui momentum Idulfitri, Atto’ juga mengajak jemaah melanjutkan kebiasaan baik yang telah dibentuk selama Ramadan, seperti menjaga salat malam, memperbanyak sedekah, serta menjaga lisan dan hati.
Pelaksanaan Salat Idulfitri di UNIMMA ini tidak hanya menjadi perayaan kemenangan, tetapi juga penegasan komitmen bersama untuk menjaga nyala iman setelah Ramadan. Semangat untuk terus beribadah, berbuat kebaikan, dan menebar manfaat diharapkan tumbuh dalam langkah civitas academica UNIMMA sebagai bagian dari ikhtiar menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Editor: Al-Afasy



