Lawan Tabu, Mahasiswa KKN-Dik UMS dan Puskesmas Bedah Edukasi Seks di SMA Muh 5 Karanganyar

PWMJATENG.COM, KARANGANYAR – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan (KKN-Dik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengambil langkah progresif dengan menggelar sosialisasi pendidikan seks dan pencegahan perundungan di SMA Muhammadiyah 5 Jaten, Karanganyar, Jumat (6/2).
Kegiatan yang berpusat di Masjid Nur Iman ini menggandeng Dr. Handayani Tri Wardani dari Puskesmas Jaten II sebagai narasumber utama untuk membedah isu-isu krusial di kalangan remaja.
Ketua KKN-Dik FKIP UMS, Ibrahim Braga, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan respons atas kebutuhan mendesak siswa dalam memahami batasan pergaulan dan perlindungan diri. “Sosialisasi ini sangat penting untuk membantu siswa memahami batasan diri (personal boundaries) dan cara saling menghargai agar terhindar dari perundungan,” jelas Ibrahim.
Dr. Handayani Tri Wardani menekankan bahwa menganggap pendidikan seks sebagai hal tabu adalah persepsi keliru yang membahayakan. Di era ledakan informasi internet, remaja cenderung mencari tahu sendiri tanpa penyaringan jika tidak diarahkan oleh institusi yang kompeten.
“Jika anak-anak tidak paham dan hanya mengambil konten menarik di internet tanpa arahan, dampaknya bisa buruk. Kita berikan rambu-rambu sejak dini agar mereka paham risiko perilaku bebas,” tegas Dr. Handayani.
Dalam paparannya, Dr. Handayani menguraikan lima poin utama:
- Body Awareness: Mengenali fungsi dan perubahan fisik diri.
- Personal Boundaries: Memahami batasan tubuh yang tidak boleh dilanggar orang lain.
- Risiko Perilaku Bebas: Gambaran nyata dampak pergaulan tanpa kontrol.
- Keamanan Digital: Edukasi interaksi aman di dunia maya.
- Healthy Relationship: Membangun hubungan antarmanusia yang saling menghormati.
Selain itu, ia memberikan strategi nyata menghadapi bullying. Siswa diajarkan mengenali profil pelaku, dampak psikologis, hingga langkah aksi jika menjadi korban atau saksi. Tujuannya adalah membangun budaya sekolah positif di mana perundungan tidak mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Sebagai langkah jangka panjang, Dr. Handayani merekomendasikan sekolah untuk rutin menjalin komunikasi dengan lembaga kesehatan. Ia juga menekankan perlunya mekanisme evaluasi seperti pre-test dan post-test.
“Harapannya, siswa tidak sekadar mendengar, tapi benar-benar mengerti dan melaksanakan rambu-rambu tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Mahasiswa KKN-Dik UMS berharap bekal pengetahuan ini menjadi fondasi bagi terciptanya lingkungan SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar yang aman, sehat, dan positif.
Kontributor: Affiq | Humas
Editor: Al-Afasy



