
PWMJATENG.COM – Dalam sebuah pengajian yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ibnu Hasan menegaskan bahwa kemenangan dan kesuksesan sejati menurut perspektif Islam tidak ditentukan oleh materi atau status sosial, tetapi oleh tiga kunci utama: iman, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 20:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَـٰٓئِزُونَ
“Orang-orang yang beriman, yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.”
Ibnu Hasan menyebut bahwa ayat ini bukan sekadar bacaan pembuka, tetapi merupakan kerangka utama dalam memahami bagaimana seseorang bisa menjadi al-faizun, yakni golongan yang menang di sisi Allah. Menurutnya, setiap Muslim tentu mendambakan kebahagiaan, kesuksesan, dan keberuntungan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Maka jalan yang harus ditempuh bukan hanya memperbaiki keimanan, tapi juga berhijrah dan berjihad.
Hijrah: Antara Pilihan dan Petunjuk Ilahi
Ibnu Hasan memaparkan bahwa hijrah yang dilakukan Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah bukan semata-mata reaksi terhadap tekanan di Makkah, melainkan hasil dari pilihan strategis yang didasarkan pada petunjuk Allah. “Mengapa ke Madinah? Karena kota itu lebih aman dan kondusif bagi penyebaran dakwah. Berbeda dengan Makkah dan Thaif yang penuh permusuhan dan tidak memberikan ruang bagi perkembangan Islam,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Rasulullah ﷺ memilih Madinah karena di sana terdapat peluang besar untuk menyemai nilai-nilai Islam. Bahkan, kata dia, penduduk Madinah yang belum pernah melihat Nabi Muhammad ﷺ telah menanti kedatangannya dengan harapan besar. Para rahib dan pemuka agama Nasrani pun telah mengetahui dari kitab suci mereka bahwa akan datang seorang utusan terakhir dari Allah.
“Hidup itu pilihan,” ujar Ibnu Hasan. “Begitu pula dengan hijrah. Kita pun kini bisa memilih untuk hijrah ke lingkungan dakwah seperti Muhammadiyah, atau memilih ikut majelis taklim. Semua itu bagian dari kesadaran kita untuk memilih jalan yang lebih baik.”
Hijrah: Sebuah Ujian Keimanan
Tidak hanya sebagai pilihan, hijrah juga merupakan ujian. Ibnu Hasan mengutip kembali peristiwa hijrah Nabi ﷺ yang menunjukkan bagaimana umat diuji dengan keputusan besar dalam hidup mereka. Ketika Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat berhijrah ke Madinah, respons umat Islam bermacam-macam.
Ada yang langsung patuh, siap berangkat bersama Nabi ﷺ tanpa syarat. Mereka percaya penuh kepada keputusan Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah. Namun ada pula yang menunda-nunda, dengan berbagai alasan—urusan bisnis, keluarga, atau alasan pribadi lainnya. Bahkan, ada yang diam saja tanpa respons.
Menurut Ibnu Hasan, sikap menunda ini menjadi perhatian serius Nabi ﷺ. Hingga akhirnya, Rasulullah ﷺ mengutus sahabat untuk mengirimkan surat kepada mereka yang masih tertinggal di Makkah. Surat itu berisi peringatan keras agar mereka menepati janji dan segera menyusul ke Madinah. Disebutkan bahwa kesempurnaan syahadat mereka akan terbukti dengan langkah hijrah yang nyata.
Baca juga, 25.000 Kader Tumpah Ruah di Yogyakarta! KOKAM dan Polri Sepakat Garap 10.000 Hektar Lahan Jagung
Terkait hal ini, Ibnu Hasan mengutip Surah Al-Ankabut ayat 2 dan 3:
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَـٰذِبِينَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
Ayat ini, jelas Ibnu Hasan, menunjukkan bahwa keimanan bukan hanya deklarasi lisan, melainkan harus dibuktikan dengan keteguhan dalam menghadapi ujian, termasuk dalam mengambil keputusan besar seperti hijrah.
Relevansi Hijrah di Masa Kini
Dalam konteks kekinian, hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat secara fisik. Hijrah bisa bermakna berpindah dari perilaku buruk ke perilaku baik, dari lingkungan yang merusak ke lingkungan yang mendukung iman dan dakwah. Maka menurut Ibnu Hasan, bergabung dengan Muhammadiyah, aktif dalam majelis taklim, serta meninggalkan lingkungan yang penuh kemaksiatan adalah bentuk-bentuk hijrah yang relevan bagi umat Islam masa kini.
“Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun menetapkan hijrah Rasulullah ﷺ sebagai awal kalender Islam. Itu menunjukkan betapa pentingnya hijrah dalam sejarah Islam,” terang Ibnu Hasan.
Dengan memahami hijrah sebagai pilihan strategis dan bentuk ujian iman, umat Islam diharapkan mampu terus melakukan perbaikan diri dan berkontribusi dalam gerakan dakwah. Hijrah bukan sekadar romantika sejarah, tetapi juga panggilan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
“Jadi, mari kita jaga iman, lakukan hijrah, dan berjihad dalam arti membela nilai-nilai Islam dengan harta, tenaga, dan pikiran kita,” pungkas Ibnu Hasan. “InsyaAllah, kita akan termasuk orang-orang yang disebut oleh Allah sebagai al-faizun.”
Ass Editor : Defi Al Qumairah; Editor : M Taufiq Ulinuha