
PWMJATENG.COM – Di tengah hangatnya suasana ceramah keagamaan di Jepara, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Rozihan, menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran spiritual dan sosial para jamaah. Dengan gaya santainya yang khas namun sarat makna, ia menyingkap dimensi lain dari profesi tenaga kesehatan—terutama dokter dan perawat—dalam perspektif Islam, khususnya dalam konteks amal jariyah dan takwa.
Rozihan membuka ceramahnya dengan mengajak seluruh hadirin untuk meluruskan niat kehadiran mereka. “Mari kita niatkan hadir di sini semata-mata menjadi pendengar yang setia, untuk menerima informasi, baik tentang keagamaan maupun kesehatan,” ujarnya.
Menurutnya, mendengarkan kebaikan adalah bagian dari amal, dan amal itu, jika dilakukan dengan ikhlas, dapat menjadi seperti “pahala multilevel marketing”. Istilah ini dipakainya untuk menggambarkan konsep amal jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya telah tiada. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan:
“Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man ‘amila biha min ghairi ay yangqusa min ujurihim syai’a.”
“Barang siapa yang memulai satu perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahala atas perbuatan itu, dan juga pahala dari orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala mereka.” (HR. Muslim)
Namun, Rozihan juga menegaskan bahwa sebagaimana pahala dapat bersifat “multilevel”, demikian pula dosa. Ia mencontohkan insiden seorang dokter Muslim yang lebih memilih mendengarkan azan subuh ketimbang menolong pasien yang sedang kesakitan. Baginya, sikap seperti itu menunjukkan pemahaman agama yang tidak utuh. “Kalau ada dokter yang tahu ada pasien subuh-subuh butuh pertolongan tapi malah tidak segera menolong, itu juga termasuk dosa multilevel marketing,” tuturnya.
Rozihan kemudian menyoroti keutamaan profesi dokter dalam perspektif Islam. Ia menyitir Surah Al-Ma’idah ayat 32 yang berbunyi:
“فمن أحياها فكأنما أحيا الناس جميعًا”
“Barang siapa yang menyelamatkan satu nyawa, maka seakan-akan ia telah menyelamatkan seluruh manusia.”
Dengan ayat ini, ia menekankan bahwa dokter yang ikhlas mengabdi, apalagi yang aktif dalam amal sosial seperti sedekah, zakat, dan wakaf, memiliki ganjaran besar di sisi Allah. “Saya ini pernah jadi direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu. Saya tahu betul, banyak dokter yang penghasilannya besar, tapi juga luar biasa dalam sedekah dan wakaf,” ujarnya mengenang.
Baca juga, Tiga Amanat Ketum PP Muhammadiyah untuk Seluruh Kader KOKAM
Ia pun menyindir dengan nada canda: siapa yang pertama kali masuk surga? Ketua PDM atau dokter? “Dokter, Pak! Ketua PDM itu bisanya cuma mendoakan,” ucapnya, disambut gelak tawa jamaah. Tapi, ia menegaskan bahwa semua profesi punya peran, dan akan masuk surga bersama-sama. Hal ini menurutnya ditegaskan dalam Surah Az-Zumar ayat 73:
“وسيق الذين اتقوا ربهم إلى الجنة زمرا”
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka dibawa ke dalam surga berombong-rombongan.”
Ia menyebut, Muhammadiyah juga memiliki rombongan menuju surga: ada rombongan rumah sakit (PKU), rombongan pendidikan, rombongan koperasi, dan sebagainya. Semuanya bergerak bersama dalam dakwah amal sosial.
Namun, Rozihan tidak lupa mengingatkan bahwa keistimewaan pahala hanya berlaku bagi mereka yang bertakwa. Ia menegaskan bahwa takwa adalah fondasi spiritual utama yang harus terus ditingkatkan pasca-Ramadan. “Takwa itu hati-hati. Dalam bahasa Arab: attaqwa adalah al-khaufu wal-ihtiyat—rasa takut (kepada Allah) dan kehati-hatian,” jelasnya.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Baqarah ayat 197:
“وتزودوا فإن خير الزاد التقوى”
“Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
Takwa, menurutnya, bukan hanya soal ibadah ritual, tapi juga melibatkan akhlak dan sikap dalam menjalankan profesi. Ia mengingatkan para tenaga medis untuk bekerja sepenuh hati, menjaga amanah, serta tidak melupakan dimensi sosial seperti infak dan wakaf.
Di bagian akhir ceramahnya, Rozihan mendorong para dokter, perawat, dan pengelola rumah sakit untuk tetap rendah hati dan menjadikan setiap kerja sebagai ladang pahala. Ia pun memberi apresiasi pada PKU Muhammadiyah yang, menurutnya, mampu membangun gedung tujuh lantai tanpa berutang. “Saya dengar begitu. Piye iso? Diakali wong Muhammadiyah. Tapi bukan akal-akalan negatif, melainkan karena takwa dan kebersamaan,” ungkapnya.
Ass Editor : Septiaana Bunga Rahmadani; Editor : M Taufiq Ulinuha