Kolom

Fundraising sebagai Pilar Kekuatan Sekolah/Madrasah

Oleh: Mukharom
Guru ISMUBA SMK Muhammadiyah Temanggung

PWMJATENG.COM, Beberapa waktu lalu saya menulis tentang sistem maisah dan kesejahteraan guru. Tulisan tersebut memantik pertanyaan dari beberapa pengelola sekolah kecil, “Kalau murid kami belum sampai 100 orang, dan layanan masih gratis, duitnya dari mana?”

Pertanyaan itu sangat realistis. Sistem maisah memang lebih mudah diterapkan di sekolah atau madrasah yang sudah memiliki pendapatan relatif stabil. Sementara bagi sekolah kecil yang masih bergantung pada dana BOS, fokus utamanya bukan hanya pada sistem, melainkan pada bagaimana mencari sumber pendanaan.

Tulisan ini mencoba menawarkan gambaran strategi fundraising sebagai ikhtiar kebangkitan sekolah dan madrasah kecil yang masih berjuang secara finansial. Fundraising bukan sekadar mencari dana, tetapi membangun kepercayaan, jejaring, dan partisipasi publik.

Sekolah kecil sering kali terjebak pada narasi keterbatasan. Padahal, dengan strategi yang tepat, keterbatasan bisa diubah menjadi peluang. Fundraising menjadi salah satu pilar penting agar sekolah tidak terus bergantung pada satu sumber dana.

Setidaknya terdapat 10 strategi fundraising yang dapat dipertimbangkan dan disesuaikan dengan kondisi sekolah:

  1. Individual Giving
    Donasi dari individu, baik satu kali maupun rutin, untuk mendukung kebutuhan operasional seperti listrik, air, dan internet.
  2. Corporate Giving
    Donasi perusahaan melalui sponsorship atau CSR untuk pembangunan dan renovasi sarana prasarana sekolah.
  3. Foundation Giving
    Hibah dari yayasan filantropi untuk membantu siswa kurang mampu.
  4. Event Fundraising
    Penggalangan dana melalui kegiatan seperti jalan sehat, konser amal, atau bazar sekolah guna mendukung kegiatan ekstrakurikuler.
  5. Online Fundraising
    Penggalangan dana berbasis digital melalui crowdfunding atau kampanye media sosial untuk pengadaan teknologi informasi.
  6. Major Gifts
    Donasi dalam jumlah besar dari individu atau lembaga untuk pembangunan fasilitas seperti lapangan olahraga atau aula.
  7. Planned Giving
    Donasi jangka panjang berupa warisan, asuransi, atau saham untuk keberlanjutan sekolah, termasuk dana pensiun guru.
  8. Peer-to-Peer Fundraising
    Kampanye donasi berbasis jejaring relasi yang sekaligus menjadi sarana promosi sekolah.
  9. Direct Mail Fundraising
    Penggalangan dana melalui surat atau email resmi untuk mendukung kebutuhan administrasi dan bahan ajar.
  10. Grant Writing
    Pengajuan proposal hibah untuk program prestasi, riset, atau proyek pengembangan sekolah.

Kesepuluh strategi tersebut tidak hadir secara instan. Fundraising membutuhkan ikhtiar, waktu, tenaga, dan kesabaran. Sekolah kecil memang harus bekerja lebih keras untuk tumbuh, termasuk dalam hal pendanaan.

Kolaborasi menjadi kunci. Sekolah dapat menggandeng komite, orang tua, yayasan, dunia usaha, alumni, dan seluruh pemangku kepentingan. Ketika fundraising dikelola dengan amanah dan profesional, kepercayaan publik akan tumbuh, dan sekolah pun memiliki peluang untuk bangkit dan berkembang.

Ahad, 4 Januari 2026
Sudut Radiologi RS PKU Temanggung

Referensi:

  • Michael Norton, Fundraising: Penuntun bagi Lembaga Swadaya Masyarakat
  • Yessi Rachmasari, dkk., Strategi Fundraising: Konsep dan Implementasi

Editor: Al-Afasy

Muhammadiyah Jawa Tengah

Muhammadiyah Jawa Tengah adalah gerakan Islam yang mempunyai maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam Jawa Tengah yang sebenar-benarnya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE