NGOPAQ #2 MPQ UMS Bedah Adab dan Hakikat Kritik Demonstrasi Menurut Islam
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Fenomena kebebasan berekspresi dan penyampaian aspirasi publik kembali menjadi pusat perhatian civitas akademika di Surakarta. Mahasiswa Pencinta Al-Qur’an (MPQ) Universitas Muhammadiyah Surakarta merespons isu tersebut secara ilmiah. Melalui forum Ngobrol Seputar Qur’an, acara NGOPAQ #2 MPQ UMS bedah adab dan hakikat kritik dan demonstrasi menurut Islam di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Kampus 2 UMS, Sabtu (17/10/2026).
Diskusi bertajuk “Ketaatan Tanpa Kritik: Kesalehan atau Pembungkaman?” ini menghadirkan Azhar Ardiansyah (Ketua PC IMM Sukoharjo 2026) dan Tholhah Hananah (Pengurus MPQ UMS 2026). Moderator Fauziyah Salma Anfihar sukses mengarahkan dialog interaktif yang diikuti puluhan peserta tersebut.
Meneladani Ayat Al-Qur’an tentang Ketaatan dan Kritik
Tholhah Hananah mengawali pembahasan dengan membedah Surah An-Nisa ayat 59. Ia menegaskan bahwa ketaatan masyarakat kepada pemegang kekuasaan (ulil amri) tidak bersifat mutlak. Oleh sebab itu, kegiatan NGOPAQ #2 MPQ UMS bedah adab dan hakikat kritik dan demonstrasi menurut Islam guna memberikan kepastian batas antara kepatuhan dan hak menyampaikan masukan.
“Perintah taat kepada ulil amri berbeda dengan ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul. Kita perlu memahami bahwasanya kritik itu sangat berbeda dengan sikap ketidaktaatan,” ujar Tholhah.
Melengkapi pandangan tersebut, Tholhah mengutip Surah An-Nahl ayat 125 terkait metode penyampaian saran secara bijaksana. Pendekatan beretika ini menjamin pesan perbaikan tersampaikan tanpa memicu kekacauan sosial.
Selaras dengan Tholhah, Azhar Ardiansyah menilai aksi mengkritik kebijakan pemerintah sebagai bentuk kepedulian warga negara. Meskipun demikian, Azhar menggarisbawahi pentingnya argumentasi berbasis data faktual.
“Mengkritik kebijakan merupakan bentuk cinta tanah air. Namun, mahasiswa harus fokus mengulas kebijakan publik, bukan menyerang personalitas figur pejabat,” tegas Azhar.
Menolak Taklid Buta dan Memanfaatkan Saluran Karya
Suasana diskusi semakin dinamis ketika Zulfikar, mahasiswa Prodi IQT UMS, menyoroti fenomena peserta aksi yang terjebak taklid buta (FOMO). Zulfikar menyayangkan sebagian massa yang ikut demonstrasi tanpa memahami dasar masalah secara mendalam.
Menanggapi hal itu, para pemantik kembali menekankan relevansi materi NGOPAQ #2 MPQ UMS bedah adab dan hakikat kritik dan demonstrasi menurut Islam dalam menyikapi fenomena sosial. Penyampaian aspirasi hendaknya selalu beriringan dengan adab serta solusi konkret.
“Diam di hadapan kezaliman tentu tidak tepat, tetapi berteriak tanpa adab juga bukan tanda keberanian. Kita wajib menyampaikan masukan dengan ilmu, kesantunan, dan penawaran solusi,” tutur Tholhah.
Sebagai penutup, Azhar mengajak generasi muda memperluas saluran perjuangan melalui karya tulis ilmiah dan media massa.
“Menyampaikan aspirasi tidak harus selalu turun ke jalan. Mahasiswa bisa menulis esai, artikel publikasi, atau meneliti masalah daerah seperti penanganan banjir dan sampah,” pungkas Azhar.
Lewat forum berkala ini, MPQ UMS berhasil mendorong pemahaman keagamaan yang reflektif, dialogis, serta bertanggung jawab di kalangan mahasiswa.
Kontributor: Anqiya Zaki Mushoddiq
Editor: Akmal



