Konvensi Humas Indonesia 2026 Tekankan Pentingnya Integritas Komunikasi Publik
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia menggelar Konvensi Humas Indonesia 2026 di The Sunan Hotel Solo. Acara bergengsi yang berlangsung pada 17–18 Oktober 2026 ini memasuki hari kedua dengan pembahasan krusial terkait tantangan profesi humas di era digital.
Forum nasional tersebut mengusung tema “Humas Sebagai Daya Bangsa: Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia”. Melalui tema ini, praktisi humas berkomitmen menjaga nilai etika serta memperkuat integritas lembaga di mata masyarakat.
Mengubah Emosi Digital Menjadi Aksi Nyata
Perkembangan teknologi informasi saat ini menuntut peran humas yang lebih nyata. Praktisi komunikasi tidak bisa lagi sekadar mengandalkan teknik pencitraan atau siaran pers formal. Masyarakat kini membutuhkan keterbukaan, akurasi data, dan kebenaran informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Rangkaian acara hari kedua diawali oleh sambutan Ketua BPC PERHUMAS Surakarta Andre Rahmanto dan Ketua Umum PERHUMAS Boy Kelana Soebroto. Setelah itu, Anggota Dewan Global Alliance Ana Pista menyampaikan paparan utama mengenai arah komunikasi global.
Diskusi bertajuk “Dari Click Rage ke Aksi Berdampak” menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta. Sesi ini menghadirkan Co-Founder Total Politik Didit Budi Adiputro dan Arie Putra, Wakil Ketua Bidang Kompetensi Kehumasan Amelinda Fidella, serta kreator konten lingkungan Jerhemy Owen.
Para pembicara sepakat bahwa humas harus mampu mengelola emosi publik di media sosial. Praktisi komunikasi perlu mengarahkan kemarahan digital menjadi gerakan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
Strategi Menghadapi Blunder Komunikasi Lembaga
Selain pembahasan emosi digital, Konvensi Humas Indonesia 2026 juga mengulas strategi pemulihan reputasi institusi. Sesi bertajuk “Bangkit dari Blunder Komunikasi” menghadirkan pakar komunikasi Gresita Siahaan, Troy Reza Warokka, dan Sekar Adisty.
Dalam diskusi tersebut, para narasumber menegaskan bahwa kejujuran menjadi kunci utama saat menghadapi krisis komunikasi. Lembaga tidak boleh hanya menyampaikan klarifikasi manis, tetapi harus menunjukkan tanggung jawab nyata secara konsisten.
Selanjutnya, sesi “Estafet Kepemimpinan PR Masa Depan” menampilkan gagasan dari Ghina Amani Kemal Gani, Andi Raviali, dan Steve Saerang. Materi mengenai visualisasi data dan penguatan narasi dari Muhamad Yana serta Reza Aji Pratama turut melengkapi pengetahuan para peserta.
Seluruh rangkaian acara hari kedua Konvensi Humas Indonesia 2026 ini akhirnya ditutup dengan penganugerahan Pemuda Award. Penghargaan tersebut menjadi simbol apresiasi bagi generasi muda yang berhasil membawa perubahan positif di dunia komunikasi.
Kontributor: Nashrul Mu’minin
Editor: Al-Afasy



