Sabet Most Inspiring Participant, Mahasiswa FHIP UMS Unjuk Gigi di Future Leader Summit 2026
PWMJATENG.COM, SURAKARTA — Prestasi membanggakan kembali lahir dari panggung nasional. Jody Julian Putra Caesar, sosok mahasiswa FHIP UMS, sukses meraih penghargaan Most Inspiring Participant dalam ajang bergengsi Future Leader Summit 2026.
Forum nasional tersebut berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Depok. Perwakilan mahasiswa FHIP UMS ini berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui gagasan advokasi lingkungan yang menyentuh realitas sosial.
Keberhasilan tersebut terwujud berkat kepedulian mendalam terhadap polemik Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo di Surakarta. Selain itu, ia secara konsisten memperjuangkan pentingnya perlindungan bagi pekerja informal di sektor persampahan.
Suarakan Hak Pemulung Putri Cempo
Dalam forum nasional bentukan Kemendiktisaintek tersebut, delegasi mahasiswa FHIP UMS ini mengangkat isu pengakuan pemulung sebagai pahlawan lingkungan. Menurutnya, pemulung memegang peranan kunci dalam pengelolaan sampah harian. Namun, mereka belum menerima perlindungan serta pengakuan yang sepadan.
Kepedulian tersebut sejatinya telah tumbuh sejak tahun 2024. Saat menjabat sebagai Ketua BEM Surakarta, ia menggandeng Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Solo untuk mengadvokasi pencemaran limbah. Advokasi ini juga menyoroti ketiadaan kompensasi bagi warga terdampak di Putri Cempo sejak dekade 1980-an.
Jody menegaskan bahwa pemulung wajib menjadi bagian inti dari sistem pengelolaan sampah terpadu. Pasalnya, mereka bekerja di bawah ancaman paparan kuman serta virus berbahaya tanpa jaminan perlindungan memadai.
“Penghargaan ini merupakan pengingat bahwa suara akar rumput, seperti para pemulung di Putri Cempo, harus mendapat ruang terhormat dalam kebijakan transisi energi,” tegas Jody pada Senin (12/10/2026).
Langkah konkret tersebut, lanjut Jody, dapat diwujudkan melalui jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan penyediaan alat pelindung diri (APD). Skema perlindungan ini sangat mendesak untuk menjaga kesehatan pekerja sekaligus memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Soroti Dampak Kesehatan Warga
Bukan hanya masalah kesejahteraan pemulung, aksi mahasiswa FHIP UMS ini turut menyoroti ancaman kesehatan masyarakat di sekitar PLTSa Putri Cempo. Kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Bahkan, riset lapangan menunjukkan adanya balita yang mengalami penurunan berat badan drastis. Sejumlah anak juga terjangkit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat pengelolaan residu sampah yang belum optimal.
Di sisi lain, perwakilan mahasiswa FHIP UMS tersebut menawarkan solusi konkret melalui pengelolaan pangan berlebih (food surplus management). Lewat gerakan Care Food Solo, ia mengajak masyarakat menyelamatkan makanan layak konsumsi demi menekan emisi gas metana di TPA.
Inisiatif pangan ini pun membawa delegasi mahasiswa FHIP UMS menjadi pembicara pada Organic and Climate Regional Asia Pacific Congress di Jakarta, September lalu. Keterlibatan tersebut membuktikan konsistensi aksi nyatanya dari tingkat lokal hingga internasional.
Pencapaian berharga dari mahasiswa FHIP UMS ini menjadi bukti nyata bahwa peran pemuda tidak berhenti pada aksi demonstrasi semata. Perjuangan mahasiswa kini hadir melalui riset mendalam, pendampingan warga, serta formulasi kebijakan yang pro-rakyat.
Kontributor: Fika
Editor: Akmal



