Ikhwanushoffa Tegaskan Pentingnya Wujudkan Generasi Amalan Muhammadiyah di Sragen
PWMJATENG.COM, SRAGEN — Manajer Eksekutif Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ikhwanushoffa, menghadiri silaturahmi akbar di Asrama Putri 2 Kampus PPTQM Darul Hikmah Masaran, Kabupaten Sragen, Ahad (11/10/2026). Dalam forum tersebut, Ikhwanushoffa tegaskan pentingnya wujudkan generasi amalan Muhammadiyah.
Acara silaturahmi akbar ini menghadirkan para muassis, muwakif, serta donatur Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Muhammadiyah (PPTQM) Darul Hikmah Masaran. Mengawali kajian, Ikhwanushoffa mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18 mengenai kewajiban orang beriman untuk bertakwa dan mempersiapkan bekal hari esok di akhirat.
Ia menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan penekanan perintah takwa sebanyak dua kali dalam ayat tersebut. Penekanan ini menandakan bahwa Allah Mahateliti terhadap seluruh amal perbuatan manusia tanpa terkecuali.
Teladan Pengamalan Al-Qur’an Kiai Ahmad Dahlan
Ikhwanushoffa menyampaikan bahwa umat tidak boleh mempelajari agama sebatas teori, melainkan wajib mengamalkannya secara nyata. Ia memaparkan teladan pendiri persyarikatan, KH Ahmad Dahlan, saat mengajarkan Surah Al-Ma’un selama tiga bulan berturut-turut sebagai pondasi gerakan.
Selain itu, Kiai Dahlan juga mengajarkan Surah Al-‘Asr yang hanya terdiri dari tiga ayat selama tujuh bulan berturut-turut. Pendekatan historis ini membuktikan bahwa persyarikatan mengutamakan pengamalan di atas sekadar hafalan.
“Muhammadiyah tidak mencetak generasi hafalan, tetapi mencetak generasi amalan,” ujar Ikhwanushoffa menegaskan.
Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak cepat merasa aman hanya karena telah mendirikan salat. Berdasarkan pencerahan Surah Al-Ma’un ayat 5-6, orang yang lalai dalam salatnya dan berbuat riya masih menghadapi ancaman celaka, padahal salat seharusnya mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar sesuai petunjuk Surah Al-Ankabut ayat 45.
Otokritik Urutan Ibadah dan Kewajiban Zakat
Dalam kesempatan tersebut, Ikhwanushoffa menyentil fenomena urutan ibadah masyarakat Indonesia yang belum sesuai syariat. Urutan ideal syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji kerap berubah menjadi syahadat, puasa, salat, haji, lalu zakat.
Ia mencontohkan banyak orang ikut sahur dan berpuasa Ramadan, namun meninggalkan kewajiban salat subuh. Begitu pula di lingkungan sekolah, guru dan orang tua kerap mengenalkan praktik manasik haji terlebih dahulu ketimbang membiasakan anak bersedekah setelah salat.
Guna memperjelas prinsip pengorbanan harta, Ikhwanushoffa menceritakan kisah Kiai Dahlan saat meminta separuh biaya resepsi seorang warga, yaitu lima dari ten golden, untuk mendukung perjuangan persyarikatan.
Terkait zakat, Ikhwanushoffa menegaskan kewajiban menghitung zakat dari keseluruhan rezeki agar memperoleh keberkahan utuh. Bagi warga yang masih memiliki utang, ia memberikan solusi tegas agar warga melunasi zakat dan utang secara bersamaan tanpa menunda salah satunya.
Kontributor: Rizky Maradona
Editor: Akmal



